Popo, pelukis mural pengkritik sosial

Popo, pelukis mural pengkritik sosial

Ryan Riyadi adalah seniman jalanan yang karya-karyanya muralnya menghiasi ruang publik di Jakarta yang berisi kritik sosial.

Ryan Riyadi adalah salah-satu seniman jalanan, atau , yang karya-karyanya banyak menghiasi berbagai tembok di ruang publik di Jakarta yang sebagian berisi kritik sosial.

Selama sekitar dua belas tahun menjadikan tembok sebagai medium artistiknya, pria kelahiran 1980 ini lebih dikenal melalui karakter gambar hasil rekaannya yaitu The Popo.

Berbeda dengan pelukis grafiti kebanyakan yang sekedar memanfaatkan tembok kosong, peraih penghargaan pada Tembok Bomber Award 2010 ini mengaku memiliki konsep dan tujuan dalam setiap berkarya.

"Awal mula saya (tertarik) untuk menggambar di satu tempat, itu adalah cerita," kata Ryan Ryadi, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, pada minggu ketiga Mei 2013 lalu.

"Saya bukan tembok kosong dulu," kata Ryan, yang juga dosen komunikasi visual di almamaternya, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Jakarta.

Dia juga mengaku tidak terlalu memusingkan apakah karya muralnya itu bakal menyedot perhatian orang banyak atau tidak.

"Intinya, saya menceritakan (sejarah) yang ada di sekitar tembok itu," katanya menjelaskan filosofinya dalam berkarya. "Jadi, tembok dan lingkungan itu ada korelasinya."

Dengan kata lain, lanjutnya, " sekedar mural, tapi ruang itu sendiri".

Ryan lantas menceritakan pengalaman estetikanya saat melukis mural di kawasan Jalan Prapanca, Jakarta Selatan, sekian tahun silam.

Di sebuah siang, ketika mengendarai sepeda motor melewati jalan raya tersebut, anak bungsu dari tiga bersaudara ini menyaksikan beberapa pohon ditebang untuk kepentingan pembangunan jalan layang ().

"Setiap hari lewat jalan itu, otomatis saya kepanasan , karena pohon-pohon itu sudah nggak ada lagi," ungkapnya membuka cerita.

Pengalaman langsung bersentuhan dengan realitas seperti inilah, menurut Ryan, banyak melatari karya-karya grafitinya dalam dua belas tahun terakhir.

"(Secara) Spontan, saya siapkan cat warna merah. Saya (lantas) menulis: 'Demi fly over, pohon ' dan ada kepala karakter si Popo sebagai teks saya, sebagai tanda saya, sebagai seniman," jelas Ryan, yang pernah ikut dipercaya tampil dalam pameran mural dan instalasi di Singapura ini.

"Yang penting saya dulu apa yang ada di ruang itu," katanya, menjelaskan lebih lanjut.

Lukisan mural Ryan yang menyoroti pembangunan jalan layang di atas Jalan Prapanca itu, kemudian menyedot perhatian masyarakat. Sejumlah media nasional kemudian memberitakannya.

Kebetulan, ketika itu, sebagian warga yang tinggal di kawasan tersebut serta pegiat lingkungan juga melayangkan protes.

Pria yang sejak kecil tertarik dunia melukis ini masih ingat ketika karyanya itu "dibahas" panjang-lebar di situs sosial .

"Oh, ternyata banyak yang merasa diwakilkan (aspirasinya melalui gambar mural itu)," kata Ryan.

Namun demikian, sambungnya cepat-cepat, dia sama-sekali tidak berpretensi untuk menjadi pahlawan dalam polemik pembangunan jalan layang tersebut.

"Posisi saya nggak seperti Robin Hood, yang tiba-tiba saya (menjadi) heroik untuk membikin suatu karya," katanya dengan nada tegas.

Ryan juga menandaskan, bahwa dalam setiap berkarya, dia tidak pernah mengatasnamakan apa yang disebutnya sebagai "aspirasi rakyat".

"Kalau ada yang merasakan terwakilkan, ya, itu efek," katanya pendek.

Dari semua karya mural Ryan di berbagai tembok di jalanan Ibu kota, sebagian besar diantaranya memuat kritik sosial.

"Karena paling dekat," kata Ryan, saat saya menanyakan apa motivasinya memuat kritik sosial dalam karya-karya muralnya.

"Saya nggak akan ngomong kehidupan yang jauh-jauh".

Menurutnya, kehidupan sosial merupakan realitas yang paling dekat dengan dirinya. "Minimal baru saja saya ," tambahnya.

Dengan berpijak pada realitas sosial di sekelilingnya, membuatnya "tidak perlu meraba-raba" dalam melahirkan karya seninya.

Lalu, apakah Anda bertujuan mengubah keadaan melalui mural yang berisi kritik sosial itu? Tanya saya lagi.

"Itu kayak semacam ," jawabnya. "Sama saja seperti kita di tengah macet, terus kita -tweet".

Dia lantas mencontohkan karya muralnya 'Jangan t lihat Jakarta macet' di tembok tol TB Simatupang, Jakarta Selatan, yang menyoroti persoalan kemacetan di Jakarta.

"Terus ada orang yang bertanya: 'tujuannya apa (membuat mural soal macet), biar (Jakarta) nggak macet? Nggak!"

Dengan kata lain, menurutnya, pembuatan mural yang bermuatan kritik sosial tidak bertujuan untuk mengubah keadaan.

"Mengeluarkan, intinya," katanya, singkat. "Motivasinya ya cuma ingin mengeluh, atau ingin menyampaikan sesuatu. Sama seperti buku diary."

Popo merupakan karakter gambar yang selalu menyertai karya-karya mural Ryan Riyadi.

"Kalau seniman lain ada tanda tangan (di dalam karyanya), kalau saya si karakter Popo. Jadi saya 'nggak perlu tanda tangan," kata Ryan, menggambarkan 'kedekatannya' dengan karakter Popo.

Bentuk fisik Popo merupakan manifestasi tubuh manusia, dengan mata melotot, tanpa hidung dan (sering tanpa) rambut, kepala lonjong, serta cenderung tanpa jari-jemari.

Secara sekilas karakter Popo mirip dengan karakter tokoh kartun dalam film seri kartun di layar kaca.

"Itu kebetulan saja," kata Ryan, ketika saya menanyakan kemiripan sosok Popo dengan tokoh kartun tersebut.

"Memang karakter mata (melotot), terus bentuknya lonjong-lonjong, itu gampang dihafal," jelasnya, lebih lanjut.

"Anak kecil untuk menggambar (karakter) Spoonge Bob dan Patrick, itu lebih gampang untuk menggambar Patrick".

"Karena," imbuhnya, "untuk me- garis-garis visual itu lebih gampang Patrick. Tinggal bulat-bulat lonjong".

Pada akhirnya, sosok karakter ciptaannya, yaitu Popo, lebih banyak dikenal masyarakat ketimbang sosok pribadi Ryan sendiri.

Itulah sebabnya, orang-orang yang mengenal karyanya lebih sering memanggilnya dengan sebutan "Popo".

Tetapi, betulkah nama Popo itu singkatan dari 'positif progresif'?

Ryan membenarkan. "Itu kayak doa kecil. Satu langkah kebaikan. Semoga karya gua satu langkah lebih baik dari sebelumnya."

Beberapa kali BBC Indonesia meminta agar Ryan mengirimkan foto dirinya untuk kebutuhan ilustrasi tulisan ini, tetapi secara halus dia tidak pernah menuruti permintaan ini.

"Sebenarnya bukan saya mau anonim ya," terang Ryan, tentang keenganannya menyertakan foto dirinya untuk kebutuhan pemberitaan.

Namun demikian, dia akhirnya mengaku, kebiasaan ini tidak terlepas dari strateginya untuk mengenalkan karakter Popo ke masyarakat.

"Saya ingin Popo ini," aku pengagum pelukis mural terkenal asal Inggris, Banksy, yang dikenal misterius dan jarang menampilkan sosoknya di depan umum ini

Itulah sebabnya, masih menurut pengakuannya, dia sering menolak permintaan wartawan untuk memotret dirinya.

Hal ini rupanya berlaku pula buat BBC Indonesia, walaupun Ryan mempersilakan memuat foto dirinya jika saya menemukan potretnya di situs sosial miliknya.

Walaupun demikian, Ryan termasuk rajin memotret karya-karya muralnya, setelah dia menyelesaikannya.

Hal ini dia lakukan secara sadar karena karya seninya bakal dihapus oleh Satuan Polisi Pamong Praja, karena dianggap mengotori sarana dan prasarana umum.

"(Saya) Selalu (memotretnya). Jadi saya sadar ini nggak akan lama. Jadi saya foto langsung," akunya, agak tergelak.

Menurutnya, aksi menggambar mural lalu disusul aksi menghapus mural tersebut merupakan sesuatu yang lumrah bagi dirinya.

"Ya, akhirnya kuat-kuatan saja. Saya yang gambar atau mereka yang menghapus. Lebih kuat mana," imbuhnya, kali ini dengan tertawa.

Itulah sebabnya, saat ini sangat sulit menjumpai karya Ryan di tembok-tembok di ruang publik di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

"Hampir semua (sudah dihapus), kecuali yang di (tempat tersembunyi). Hidden spot itu biasanya di rumah-rumah kosong, gudang, di daerah pedesaan, atau di luar kota yang memang jauh".

Tentu saja, tidak setiap saat Ryan taat untuk memotret hasil karya muralnya.

"Saya sempat beberapa kali kecolongan 'nggak foto karya saya, tapi saya cari di internet, banyak orang yang mengabadikannya. Kayak . Jadi mereka foto karya saya. Jadi mereka mewakili mendokumentasikan karya saya. Saya tinggal (menyimpan) saja," katanya agak terkekeh.

Jika diperhatikan secara teliti, karya-karya mural Ryan Riyadi sangat kental dengan unsur jenaka, selain bernada satir dan kritikan.

Menurutnya, unsur jenaka mewarnai sebagian karyanya tidak terlepas dari pengaruh mendiang ayahnya.

"Karena gen keluarga dan almarhum ayah saya, memang selalu bercanda untuk membicarakan apapun," ungkapnya, dengan nada bergetar.

Ayahanda Ryan Riyadi meninggal dunia pada awal Mei 2013 lalu akibat sakit.

"Almarhum pernah mengatakan: masalah seberat apapun, kalau disampaikan secara humor, secara ringan, itu akan masuk, itu akan diterima," katanya, menjelaskan.

"Jadi ini sudah gen ayah saya yang masuk ke saya. Sudah ada mengalir ke saya," katanya lagi. "Untuk menceritakan segala sesuatu seberat apapun, mesti dengan humor. Humor harus tetap ada".

Namun demikian, akunya, "kalau saya suka menuliskan sesuatu yang satir".

Semenjak awal Ryan mempunyai keinginan dan selalu termotivasi untuk meneruskan kuliah seni rupa, namun tidak terlaksana karena masalah biaya.

Belakangan, pria yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat ini, akhirnya melakukan eksplorasi di dunia seni rupa secara mandiri.

Hal ini juga yang melatari pilihannya untuk menekuni seni mural.

Di lingkungan tempat tinggalnya di Bekasi, dia pertama kali tertarik seni grafiti ketika masih di bangku sekolah menengah.

Saat itu, dia sering menyaksikan sejumlah mahasiswa -- yang menjadi tetangganya -- menggambar mural pada tembok-tembok rumahnya.

"Saya kemudian tertarik," katanya, mengenang.

Aktivitas seni mural yang semula terbatas di tembok rumah sendiri, di dalam kampung, akhirnya berkembang di tembok-tembok di luar tempat tinggalnya.

Selain menggambar di ruang publik, Popo juga menumpahkan hasrat seninya ke berbagai media seperti kayu, kanvas, maupun media media unik lainnya, seperti instalasi atau .

Dia juga beberapa kali berkolaborasi dengan berbagai seniman mancanegara lainnya, termasuk ketika menggelar pameran bersama di Singapura, sebanyak dua kali beberapa tahun silam.

Di Singapura, salah-satu karya mural yang dikerjakannya bersama seniman dari komunitas Ruang Rupa (Ruru) adalah mural yang " tentang Singapura" setinggi 60 meter kali 7 meter.

"Selama 10 hari tinggal di sana, saya mempelajari kehidupan (masyarakat Singapura) dan saya bikin mural di sana. Misalnya, saya nulis, ''. Karena di Singapura, banyak CCTV-nya," ungkapnya.

Di Singapura, tetapi dalam pameran yang berbeda, Ryan Riyadi juga diundang untuk menghasilkan karya seni mural, yang sampai sekarang tidak dihapus oleh pemilik galerinya.

"Karena pemilik galeri dan pemilik heritage suka," katanya.

Mural itu menggambarkan sosok Popo dengan tulisan ''.

Di pameran itu, Ryan juga membuat mural dengan tulisan 'seni tidak selalu tinggi' dengan gambar sosok Spiderman dalam posisi terbalik.

Di akhir wawancara, saya menanyakan kepada Ryan Riyadi apa keinginannya yang selama ini belum terlaksana.

Dengan nada bersemangat, Ryan berkata: "Saya ingin (membuat) bantal dan saya bagikan kepada orang-orang".

"Orang mampu boleh memiliki, orang susah juga boleh memiliki. Tapi saya utamakan orang yang tidur di jalan".

Di atas bantal itu, Ryan bercita-cita menuliskan sebuah kalimat "masa depan berawal dari mimpi".

Melalui pesan itu, dia ingin mengatakan kepada semua orang: "Kamu tidur saja, kamu mimpi saja. Setelah semua selesai, kamu akan beraktivitas, dan mewujudkan semuanya".

" itu . Mau bantal dan mau kita harus tetap semangat," katanya.

"Saya bikin saya teman-teman di jalan, yang tidur di jalan, di trotoar, di halte, agar mereka tetap merasakan empuknya bantal dan sekalian dibikin semangat," tambah Ryan, sekaligus menutup wawancara sore itu.

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X