Cinema paradiso
Sabtu, 29 Juni 1991
SEBUAH kota kecil. Sebuah bioskop kecil. Sebuah kehidupan yang tak pernah
cemerlang, di daerah miskin Italia Selatan, di tahun 1950-an. Dalam film
Cinema Paradiso, latar yang abu-abu hambar itu dengan ajaib bisa jadi kaya,
bahagia, ramai, kocak, mengharukan, hanya karena bioskop kecil itu
mendatangkan apa yang selama ini tak ada di sana, di kota kecil itu: fantasi,
dongengan, selingan, dan pertautan dengan bagian-bagian dunia yang jauh, yang
tak terjangkau di siang hari, ketika bioskop ditutup dan tak ada yang duduk
melongo di depan layar putih.
Cinema Paradiso oleh sebab itu adalah film yang memberikan sebuah
penghormatan kepada gambar-hidup.
Di kota kecil itu, sang padri Katolik memang dengan asyik menyensor semua
adegan "tak bermoral" sebelum film dipertunjukkan. Ia, sembari menatap ke
layar sendirian, akan meng- goyangkan lonceng kecil di tangan kanannya
"kelintingggg...", bila Humphrey Bogart mulai mendekatkan mulutnya ke bibir
Ingrid Bergman. Dan si tukang putar bioskop "Paradiso" yang setia itu pun
pasti akan mematuhinya. Tapi film, Casablanca atau apa saja, biarpun tanpa
adegan seks biarpun cengeng, dan biarpun tak masuk akal, rupanya punya
kekuatan yang lebih.
Si tukang putar, yang tak terpelajar itu, yang hampir tiap hari dalam waktu
sekian jam mengikuti setiap cerita yang disorotkannya ke layar, dengan
mengagumkan bisa menyebutkan kalimat-kalimat arif untuk menasihati anak kecil
sahabatnya. Tapi ia tak mengutip dari buku agama atau novel Dostoyewski. Ia
mengutip kalimat John Wayne dalam The Sands of Iwo Jima. Apakah John Wayne
baginya dan ia bagi John Wayne? Apa Marilyn Monroe baginya dan ia bagi Marilyn
Monroe?
Gambar-hidup adalah keajaiban yang tak cuma dilahirkan oleh teknologi, tetapi
oleh kepandaian bercerita: ia menghubungkan sebuah dunia yang jauh di
Hollywood dengan dunia-dunia lain yang sering terpisah satu sama lain. Layar
putih itu seakan-akan telah jadi makrokosmos yang bersentuhan terus-menerus
dengan berjuta-juta mikrokosmos. Anak-anak dan orang muda di kota kecil
Sisilia itu memandang dengan terangsang Marilyn yang menggairahkan dalam film
Niagara. Dan nun jauh di Amerika, di luar layar putih, dalam kehidupan nyata,
Marilyn Monroe yang patah hati mengatakan, "Yang mencintaiku hanya mereka
yang nonton aku di kursi belakang dan terangsang."
Gambar-hidup adalah keajaiban, tapi akhirnya yang ajaib pun tak bisa kekal.
Di akhir Cinema Paradiso, gedung bioskop kecil itu diruntuhkan. Di tempat
bangunan yang sudah tak laku itu akan berdiri sebuah supermarket. Kota kecil
itu telah berubah. Si anak kecil sudah besar. Ia sudah jadi orang kaya yang
pulang karena sahabatnya, si tukang putar film, meninggal: sebuah isyarat
tentang berakhirnya suatu masa.
Masa yang baru pun menyingsing. Gambar-hidup, yang dulu memberikan banyak
kepada orang-orang udik itu, sudah tak laku lagi. Televisi mengambil alihnya.
Orang tak lagi berduyun bersama-sama ke bioskop "Paradiso", untuk berbareng
ketawa atau terharu atau terangsang. Mereka kini akan tinggal duduk, di rumah
masing-masing, memandang ke sebuah kotak.
Ada selalu sesuatu yang sentimentil dalam cerita yang menangisi masa lampau
yang hilang di sebuah kota kecil. Dan Cinema Paradiso memang di sana-sini
terasa cengeng dan kelewat manis ketika menengok ke masa ketika banyak hal
belum berubah. Tapi nostalgia adalah sesuatu yang 100% sah. Bukankah kita
mulai menyukai kursi antik, arsitektur tua, masakan si embok, ketika yang
disebut progress berlangsung, dan 1.000 gedung tinggi berdiri, jalan tol
berbelitan, dan supermarket dan restoran berjejer, dan banyak jejak masa silam
yang hilang?
Manusia selalu bergerak antara rasa ingin meninggalkan sebuah tempat dan rasa
kangen untuk kembali. Kita seakan-akan takut hidup terapung-apung seperti
gabus botol di laut luas yang tanpa sejarah. Masa silam memang tak selamanya
enak, tetapi ada sesuatu dalam diri kita yang seperti mengakui bahwa kita kini
sebenarnya hidup bagaikan para pengungsi: serombongan manusia yang terusir.
Yang mengusir memang hasrat kita sendiri untuk hengkang dari kemiskinan,
keterbelakangan, dan sejenisnya. Dalam film Cinema Paradiso, si anak
dianjurkan sahabatnya- si tukang putar film- untuk pergi ke kota besar dan
tak usah kembali: ia tampaknya tahu bahwa masa silam adalah bagian dari hidup
yang tak akan bisa dikunjungi lagi. Tetapi justru di situlah mendadak timbul
sindrom pengungsi itu, yang dalam arti yang luas bukanlah cuma orang yang
meninggalkan sebuah tempat.
"Kita harus menerima, meskipun dengan rasa enggan, fakta sederhana bahwa
kita hidup dalam abad para pengungsi," kata Leszek Kowakoswski. Kita adalah
"migran, gelandangan, pengembara, yang gentayangan di benua-benua", yang
mencoba meng- hangatkan sukma kita dengan kenangan tentang rumah-rumah kita
yang dulu- rumah rohani yang kini tak kita tempati lagi.
Goenawan Mohamad