Hari Tenang
Sabtu, 04 Juli 2009 | 20:14 WIB
Hari tenang--karena hanya tiga hari--ditunggu oleh rakyat Indonesia. Ada kesempatan untuk merenung dan menentukan sikap, nomor berapa yang akan dicontreng pada 8 Juli nanti. Ini bagi mereka yang serius mengikuti pemilihan umum presiden. Bagi yang cuek, hari tenang berarti hilangnya riuh rendah kata-kata, dunia terasa lebih damai. Itu saja, urusan mencontreng soal lain.
Beda dengan pemilihan presiden lima tahun lalu, kali ini masyarakat desa banyak yang serius. Mereka asyik bergerombol. Bahan diskusi umumnya janji para calon presiden yang berkaitan dengan kehidupan rakyat desa. Sayangnya, diskusi ini tanpa ujung, yang berakibat tak ada kesimpulan. Mereka kekurangan informasi.
Misalnya tentang janji seorang calon presiden yang akan memberikan bantuan satu miliar rupiah ke setiap desa per tahunnya. Janji ini sudah disebarkan ke berbagai pelosok. Di Bali bahkan berwujud selebaran kepada kepala desa, yang dikirim (oknum) aparat pemerintah. Maklum, Gubernur Bali dan sebagian besar bupati di Bali termasuk anggota tim kampanye calon presiden yang menjanjikan bantuan itu.
Tapi orang desa bertanya kepada saya, apa itu betul? La, mana bisa saya jawab. Saya tak ikut jadi tim kampanye pasangan mana pun. "Dari mana, ya, uangnya?" tanya seseorang. Saya juga tak tahu. "Katanya dari ngemplang utang luar negeri," seseorang yang lain menjawab. "Itu sudah tahu, saya malah tidak," kata saya. Tapi orang yang sama penasaran: "Kalau begitu, utang bertumpuk terus. Lima tahun lagi mewariskan utang berjubel, bukannya negeri ini tambah bangkrut?" Saya hanya menjawab: "Kalian lebih tahu, saya tak pernah ikut kampanye."
Topik bantuan semiliar setahun untuk satu desa ini menarik. Selama ini desa-desa di Bali mendapat bantuan Rp 50 juta setahun dari pemerintah daerah. Dari pemerintah pusat ada bantuan proyek yang nilainya tak pasti dan belum tentu semuanya mendapat. "Tapi yang diterima desa sudah berkurang, katanya untuk biaya administrasi," kata seorang staf kelurahan. "Uang itu saja sudah bikin ribut, apalagi uang semiliar, bagaimana hebohnya nanti."
Saya tak bisa menangkap apa-apa dari obrolan ini. Meski melihat ada kesan ragu pada orang desa akan janji-janji spektakuler itu, saya tak mau berkomentar. Memperkuat janji itu salah, memperlemah janji itu lebih salah lagi. Inilah sulitnya menjadi orang yang tak ikut-ikutan jadi tim sukses.
Masa kampanye saya kira terlalu cepat. Calon-calon presiden mengobral janji dan kontrak politik tanpa sempat diuji apakah kira-kira bisa dilaksanakan atau tidak. Calon presiden dan tim suksesnya kurang berdialog dengan rakyat. Yang ada monolog dan tiba-tiba sudah hari tenang. Padahal banyak pertanyaan yang belum dijawab yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Jalan yang ditempuh belum dijelaskan, tiba-tiba saja rakyat langsung sejahtera, sandang pangan jadi murah, negeri jadi makmur, pengangguran tak ada. Penghasilan di atas Rp 20 ribu, karena uang sebanyak itu hanya cukup untuk membeli secangkir kopi di Jakarta. Rakyat desa tercengang, karena uang Rp 20 ribu di desa bisa untuk makan empat orang sehari penuh. Tapi pertanyaan datang terus, apa iya?
Beda dengan penduduk perkotaan. Mereka sebal pada kampanye yang mengumbar kata-kata sampah dan debat tanpa ujung. Debat ini biasa disebut debat kusir, meskipun yang bernama kusir andong sudah sulit dicari di desa, apalagi di kota. Orang kota senang dengan datangnya hari tenang. Negeri ini rasanya damai "ditinggal pergi" oleh orang-orang yang haus kekuasaan.
Web via