indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Angka

Minggu, 13 November 2011 | 00:25 WIB

Putu Setia

Ada angka sial, ada angka mujur, bagi yang percaya. Kalau punya mobil baru, orang berani membayar mahal untuk nomor polisi yang angkanya diyakini membuat mujur. Setidak-tidaknya menolak angka sial.

Secara nasional, angka sial itu 13. Banyak nomor rumah, bahkan nomor lantai gedung tinggi, memakai angka 12-A untuk mengganti angka 13. Tapi di Bali, angka sial itu bukan 13, melainkan 12. Sering ada ungkapan: "celaka dua belas". Dari mana asal-usulnya? Seperti halnya angka 13, kesialan angka 12 tak punya sejarah pasti. Ada yang menduga diambil dari permainan sepak bola, ada istilah "dua belas pas"--hukuman tendangan penalti dengan jarak 12 langkah dari garis gawang.

Angka mujur? Orang Cina yang percaya Taoisme menyebutnya angka 8. Beberapa keyakinan lain menyebut angka 9, tentu dengan kelipatannya (99 dan seterusnya) atau setelah dijumlah menjadi 9 (misalnya 18). Dalam keyakinan Hindu, 9 itu angka tertinggi, karena itu Tahun Baru Saka, yang di Indonesia dirayakan dengan Nyepi, terjadi pada tanggal 1 bulan 10. Tasbih umumnya berisi 99 butir, tapi "tasbih" yang dipakai umat Hindu berisi 108 butir, kalau angka itu dijumlah menjadi 9.

Nol bukan angka, ini terdapat dalam berbagai keyakinan. Berapa pun besar bilangan itu, kalau dikalikan 0 akan hilang, karena 0 adalah kosong, sesuatu yang tak terbayangkan. Nol adalah "angka Tuhan", misteri kekosongan yang tak terjangkau oleh pikiran manusia. Adapun angka 1 tak pernah disebut mujur, baik berdiri sendiri maupun berderet-deret, karena (bilangan) apa pun yang dikalikan 1, hasilnya tak pernah bertambah.

Bagaimana dengan 11-11-11 atau 11 November 2011 yang jatuh pada Jumat lalu? Kenapa ada ribuan orang kawin dan ratusan bayi dilahirkan dengan terpaksa lewat pembedahan (caesar)? Padahal, kalau dihubungkan dengan ajaran Tao, ini "hari sial", bukan "hari mujur", karena angka 1 mengandung unsur logam, lambang kekerasan. Bayangkan kalau "kekerasan" itu bertumpuk-tumpuk tak ada unsur lain yang meredamnya.

Di Denpasar ada 26 bayi yang "beruntung" bisa lahir caesar pada 11-11-11, di kota lain mungkin lebih banyak. Di sebut "beruntung" karena tak semua dokter kandungan mau menerima "pesanan" itu. Ada yang dengan alasan medis--usia kandungan masih kurang--ada pula yang memakai alasan "keyakinan", yakni kelahiran seseorang biarlah diatur oleh "Yang Di Atas" karena sang bayi membawa sendiri sifat-sifatnya. Saya setuju dengan alasan terakhir ini, karena dalam Hindu, kelahiran itu tak bisa dipaksakan lewat bedah perut jika bukan karena alasan medis (darurat, untuk keselamatan bayi dan ibunya). Kalau kelahiran "direstui" dengan bedah, orang Bali akan menghindari anaknya lahir pada hari tertentu, yang mengharuskan anak itu diruwat setelah besar. Ritual ruwatan ini biayanya lebih mahal daripada caesar.

Kenapa SEA Games Palembang harus dipaksakan dibuka pada 11-11-11, padahal persiapannya amburadul? Kenapa tak diundurkan tiga bulan, misalnya? "Makanya sial, hujan turun, Susi Susanti melenceng melemparkan tombak api. Api yang menyala di kaldron itu bukan api SEA Games dari Grobogan," ini kata anak saya--karena saya tak menonton. Saya hanya tertawa, tapi saya pun bertanya dalam hati, apa benar ada pertimbangan angka mujur (dan angka sial) dalam hajatan semacam ini? Atau sekadar kegenitan kita "memuja angka", lalu mengabaikan hal utama, membenahi sarana?

Saya khawatir, kalau Indonesia tidak menjadi juara umum, nanti ada orang nyeletuk: "Itu gara-gara salah memilih hari." Mari berdoa, semoga Indonesia bisa: bisa juara dan bisa rasional.

Komentar


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Presiden dan Menpora nya dari Demokrat, ya ... bermainnya hanya dengan angka, angka dan angka.