Kasus Penyiksaan TKI di Malaysia

Jum''at, 03 Juli 2009 | 10:22 WIB

Komentar (15)

    1       1

    Malaysia itu Islam, Indonesia juga Islam, maka wajar kalo TKI mati di negara Islam, hihihihi..

    0       3

    jnggan prnah pndang rendah buruh migran.....
    hoe para pecundang jnggan remehkan bangsa kami...indonesia....
    kalau kamu gk ada buruh migran pasti qm gk prnah bisa makmur n sjahtera.....
    hormatilah burung migran.....
    dia jga hak manusia....
    pembakang bagi para pembakang....
    pemerintah mxx gk taw malu.....

    TKI itu calon bangkai, hihihihi...
    TKI itu calon bangkai, hihihihi...
    0       0

    karena kurangnya low kerja d indonesia membuat banyak masyarakat indonesia terus menjadi pahlawan devisa buat undonesia!!yang akhirnya nyawapun jadi taruhannya!!!!!kepada pemerintah indonesia agar cepat mengatasi masalah ini dengan cermat!!!

    0       1

    Saya sebagai warga negara RI merasa sedih setiap kali melihat TKI yang disiksa oleh majikannya/polisi negara tempat dia bekerja. Sudah lemahkah pimpinan negara ini dalam melindungi warganya yang dianiaya. Apakah tidak ada langkah2 untuk menciptakan lapangan kerja yang bisa menampung semua warga di negri tercinta ini. Kenapa tidak mau meniru cara-cara Malaysia/singapura yang notabene nya negara kecil tapi bisa menampung jutaan pekerja asing. Mana pemikir2 atau mungkin lembaga negara malas menampung orang2 cerdik pandai mengembangkan ilmunya dinegara sendiri, padaahal dalam setiap kali ada lomba tingkat dunia tentang masalah ilmu pengetahuan, pelajar Indonesia sering dapat juara, tapi setelah itu negara tidak mengambil dan memfaatkan ilmunya serta membiarkannya begitu saja.Kalau demikian jangan harap Indonesia bisa maju

    0       0

    ayahab (bahaya ) buat teman2 yang mau jadi TKI pikir2 dulu n inget kasus nirmala yang di seterika majikannya, cari agen yang beneran jangan ambil jalan pintas n mungkin masih bayak Nirmala bonet lainnya yang dalam AYAHAB di negeri orang.

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan