Detik-Detik Proklamasi di Tanggul Lumpur

TEMPO Interaktif, Sidoarjo: Korban semburan lumpur PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, tak mau ketinggalan menyambut Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 63. Bertempat di tanggul Desa Jatirejo, sekitar 100 orang mengikuti upacara pengibaran bendera.

Dengan kidman warga berbaris untuk  memberi hormat saat petugas upacara mengerek bendera. Tanpa bersepatu dan baju seragam, mereka juga mengumandangkan Indonesia Raya. Sehabis upacara, beberapa pedagang makanan dan minuman merapat, menjajakan dagangannya.

Tanggul selebar lapangan bola basket itu tak berhiaskan umbul-umbul atau tiang-tiang bendera. Yang tampak adalah berderat mesin pengeruk lumpur yang dikumpulkan dari beberapa lokasi. Belasan alat berat ini berbaris seperti perserta upacara lain.

Komandan upacara Kapten Infantri Abdul Rohim dan inspektur upacara Mayor Infantri Rukun Santoso. Mereka sehari-hari mangkal di kawasan semburan lumpur. Tak ketinggalan staf Badan Pelaksana Penanggulangan Lumpur ikut serta.

Hari ini, seluruh kegiatan di kawasan lumpur seluas tujuh hektare dihentikan. “Tidak libur, hanya aktivitas dihentikan sejenak,” kata Ahmad Zulkarnain, juru bicara Baban Penanggulangan itu. Upacara dimulai pukul 07.00, mendahului Detik-Detik Proklamasi.

Warga desa yang rumahnya lenyap atau rusak, memeriahkan kemerdekaan dengan berbagai acara di lokasi pengungsian. Di Desa Besuki, misalnya. Warga korban Lapindo yang masih tinggal di tenda itu menyelenggrakan kitanan massal. Bocah yang disunat mendapat sarung, peci, dan sejumlah uang.

Sampai saat ini, warga menolak formula ganti rugi yang ditawarkan Lapindo. Warga menginginkan pembayaran sisa ganti rugi sebesar 80 persen dipercepat. Warga menolak syarat harus menyetorkan sertifikat lahan yang terkena lumpur untuk mendapat ganti rugi.

Sebaliknya, Lapindo tak akan membayarkan sisa ganti rugi jika syarat tersebut tidak disertakan. “Jujur saja jika warga tetap ngotot ,kami tidak lagi memiliki solusi bagi mereka,” ujar Vice President PT Minarak Lapindo, Andi Darussalam Tabussala.

 

Korban lapindo tak cuna kehilangan harta benda. Ancaman keselamatan mereka akibat berbagai penyakit, ada di depan mata. Menurut spesialis penyakit paru, Slamet Hariadi, warga di sekitar semburan lumpur berpontensi batuk dan sesak napas.

Apabila mereka terus menerus menghirup asap lumpur panas, berpotensi terkena radang paru-paru. “Meski gas yang menyembur tidak memperngaruhi metabolisme tubuh, tapi dapat merusak saluran pernafasan,” kata Kepala Bagian Penyakit Paru Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, ini.

Slamet sudah menganjurkan masyarakat di sekitar semburan diamankan. Jika belum bisa direlokasi, mereka haraus memakai masker. “Ini untuk mengatasi risiko penyakit karena gas yang keluar dari semburan lumpur,” katanya.

Lumpur Lapindo sudah dua tahun lebih menyembur dan belum dapat disumbat. Kawasan yang menjadi dampak semburan meluas. Ribuan warga mengungsi dan kehilangan mata pencaharian. Mereka menunggu pembayaran ganti rugi.


Rohman Taufik, Yekthi HM

 

  • Send
  • Print