Perusahaan Super Toy Harus Menanggung Kerugian Puso

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan, PT Sarana Harapan Indo Pangan (SHI) harus bertanggung jawab dan menanggung kerugian atas kegagalan panen (puso) padi jenis Super Toy HL-2 di Purworejo, Jawa Tengah. PT SHI adalah mitra pemerintah daerah setempat dalam pengembangan padi jenis tersebut.

SHI harus menanggung kerugian, kata Anton, sebab dalam kasus puso itu masalahnya adalah kontrak antara perusahaan dan para petani tidak jelas. Namun ditanya soal ketidakjelasan itu, Anton mengelak. “Tanya perusahaannya, saya hanya dapat info dari kepala desanya,” kata dia di sela buka bersama di rumah dinasnya, Kompleks Wijaya Chandra, Jakarta, Kamis (4/9) malam.

Selain perusahaan, Anton menambahkan, pemerintah baik pusat ataupun daerah juga siap memberi bantuan berupa pemberian bibit unggul dan pupuk terkait gagal panen itu. “Seperti yang biasa dilakukan jika ada puso,” katanya.

Anton belum memastikan kapan pihak SHI akan dimintai klarifikasi seputar kegagalan panen itu. Sementara ini, pihaknya baru meminta SHI melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah setempat. “Lihat dulu pesoalannya.”

Seperti diberitakan, para petani di Grabak, Purworejo, mengamuk karena panen Super Toy di lahan 100 hektar gagal. Tanaman padi siap panen ternyata tak berisi alias kopong. Ini berbeda dengan saat panen pertama 17 April 2008 lalu yang dihadiri Presiden SBY. Saat itu panen sukses, hasilnya berlipat dibanding jenis IR 64 yang biasa ditanam petani.

Soal padi Super Toy itu, Anton melanjutkan, statusnya saat ini masih dalam tahap uji coba sebelum ditetapkan sebagai varietas unggul. Masa uji coba itu selama 7 tahun, dan sekarang sedang diteliti di Balai Penelitian Departemen Pertanian Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Penelitian mulai dilakukan setelah panen pertama jenis padi itu April lalu. “Kita harus menindaklanjuti temuan baru agar semua pihak terpacu meneliti,” katanya.

Selama masa uji coba, benih padi Super Toy itu hanya dicoba di balai penelitian, dan di lahan masyarakat secara terbatas. Proyek pengembangan Super Toy di Purworejo itu, menurut Anton, masih bagian dari uji coba. Soal keunggulan Super Toy, dia menjelaskan, sejauh ini belum dipastikan kelebihannya dibanding jenis padi yang sudah beredar. “Fluktuatif, belum stabil, kadang lebih tinggi, sama atau lebih rendah,” ujarnya.

Harun Mahbub | Dian Yuliastuti

  • Send
  • Print