Transformasi Negatif Asif Ali Zardari

TEMPO Interaktif, Keinginan Asif Ali Zardari untuk menggantikan istrinya Benazir Bhutto menjadi pemimpin Pakistan tercapai. Sabtu (6/9), pria yang dikenal dengan “Mr 10 persen'' di negaranya resmi memenangkan pemilihan umum dan sah menjabat sebagai Presiden baru di negara yang berada dalam situasi tak menentu tersebut.

Cukup sulit bagi Zardari untuk mempertahankan kekuasaannya. Meski dianggap pengikut setia Amerika Serikat pria yang sempat menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup Pakistan di jaman Bhutto berkuasa (1993-1996), dipastikan akan mendapatkan tantangan dan goncangan dalam pemerintahannya.

Gangguan utama datang dari gerakan pengacau Islam. Gerakan yang dituding terkait dengan organisasi teroris Al-Qaida itu juga yang diyakini menghabisi nyawa Benazir Bhutto pada 27 Desember 2007. Bhutto tewas setelah ditembak oleh seorang pembunuh yang kemudian meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri, ketika tengah berkampanye di Rawalpindi.

Gangguan lain yang akan dialam Zardari adalah soal stabilitas ekonomi. Sejak kepemimpinan Pervez Musharraf, Pakistan terus didera masalah inflasi yang tinggi. Menurunnya pertumbuhan ekonomi juga menjadi pekerjaan rumah yang tak gampang diselesaikan Zardari.

Bukan hanya gangguan itu yang akan membekap Zardari. Terkait pecahnya koalisi , Pemerintahan pria yang sempat dua kali menjabat sebagai menteri Pakistan itu akan mendapat rongrongan dari Nawz Sharif yang notabene pemimpin Liga Muslim Pakistan (PLM-N). 

Semua gangguan itu terkait erat akan citra buruk Zardari di Pakistan. 

“Tuan Zardari belum siap meninggalkan panggung politik. Atau di lain pihak rakyat Pakistan belum siap berhadapan dengannya. Bahkan Benazir Bhutto menganggapnya sebagai citra negatif,” kata Shaheen Sehbai, editor dari koran harian di Pakistan The News.

Tapi di atas semuanya Zardari pasti telah memperhitungkam masak-masak naik ke panggung politik di Pakistan. Dengan kedekatannya dengan Pemerintah Gedung Putih, dia diyakini akan mendapat restu dari kubu George W Bush.

“Zardari akan mendapatkan restu dari Pemerintahan Bush. Amerika Serikat merasa Zardari adalah salah satu ''teman'' politis terkait operasi militer untuk membasmi gerakan militer dari pemberontak muslim,” kata Tariq Fatemi, mantan Duta Besar Pakistan di Washington.

Dari berbaga sumber | Bagus Wijanarko

  • Send
  • Print