Berita Terkait
Rabu, 08 Oktober 2008 | 07:03 WIB
Indeks Pasar Modal Amerika Serikat Terus Anjlok
TEMPO Interaktif, New York: Pasar modal Amerika Serikat, negara tujua ekspor utama Indonesia, terus anjlok pada Selasa (7/10). Indeks kemarin mencapai nilai terendah dalam lima tahun terakhir ini.
Indeks Dow Jones di bursa New York--yang memantau perusahaan berbasis Amerika Serikat--turun 875 point. Indeks lain, yang mencatat sektor lebih luas yakni Standard & Poor, untuk pertama kali dibawah 1.000 dalam lima tahun terakhir. Seluruh indeks utama lain turun lebih dari lima persen.
Buruknya bursa biasanya mencerminkan buruknya ekonomi. Dampak buruknya ekonomi Amerika Serikat akan mempengaruhi dunia termasuk Indonesia karena negara itu menjadi salah satu tujuan ekspor. Pasar Eropa, tujuan ekspor Indonesia lain, juga tidak bisa diharap banyak dalam kondisi seperti ini karena ekonomi mereka sudah mulai terseret krisis pasar modal Amerika.
Langkah pemerintah Amerika Serikat memperbaiki pasar kredit tidak cukup kuat mengangkat bursa. Hugh Johnson, pemimpin perusahaan pialang saham Jonhson Illingto Advisors, misalnya, mengatakan semua telepon yang masuk dari kliennya--baik investor pribadi maupun para fund manager--meminta ia melepas saham-saham mereka.
"Sebagian besar dari mereka hanya berusaha bertahan saja, mengurangi jumlah saham untuk mempertahankan portofolionya," kata Johnson.
Buruknya bursa di New York tergambar dari:
-- Indeks kemarin ditutup terendah sejak 30 September 2003.
-- Dalam hanya lima hari perdagangan, indeks turun 1.400 poin atau 13 persen.
-- Indeks sudah anjlok 33,3 persen sejak ditutup dengan nilai tertinggi setahun silam pada 14.164,53.
-- Sampai selasa, bursa New York mengalami penurunan poin lima harian terburuk sejak serangan 11 September 2001.
Ketua Federal Reserve--istilah untuk gubernur bank sentral--Amerika Serikat, Ben Bernanke, kemarin memperingatkan bahwa krisis finansial ini bisa memperpanjang kesulitan ekonomi.
Meski ucapan ini bisa dianggap isyarat bahwa Federal Reserve akan memotong suku bunga agar ekonomi lebih berjalan, tapi bursa di Wall Street cenderung menangkap sisi negatif bahwa ekonomi akan memburuk.
Nurkhoiri/AP