Dampak Krisis Global, Trade Expo Indonesia Sepi

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dampak krisis keuangan global terasa di ajang pameran Pekan Raya Jakarta. Peserta Trade Expo Indonesia yang menawarkan produk unggulannya  mengeluhkan lesunya transaksi. "Sekarang sudah hari ketiga, belum ada satu pun orang yang closing (sudah pasti beli)," kata pemilik Credo Wood Ipung W. Muryadi saat ditemui Kamis (23/10).

Produk furnitur kayu fosil buatan Credo, mulai hari pertama membukai gerai sulit mendapatkan pembeli pasti. "Tahun lalu kami bisa mendapatkan deal untuk mengirim empat kontainer," ujar Ipung. Nilai transaksinya mencapai Rp 800 juta. Pada pameran kali ini Ipung baru meraih satu konsumen potensial dari Inggris, dengan nilai transaksi Rp 97 juta. "Itu pun belum tentu jadi."

Pengunjung yang menurutnya tak sebanyak tahun lalu membuat Ipung dan stafnya lebih banyak menganggur di gerainya. Padahal, tahun lalu ia selalu sibuk melayani pembeli yang terus mengalir antre.
Pemilik PT Delima Inti Raya, Lavina, mengeluhkan hal serupa. "Gara-gara krisis ekonomi, pengunjung sepi," tuturnya.

Menurut Lavina, ia tidak berani menargetkan bakal bisa membawa pulang uang berapa. Tahun  lalu bisnis furnitur cukup berjaya, yaitu US$ 40 ribu dari pengiriman 10 kontainer produk rotannya.

Untuk tetap menarik pembeli, Ipung terpaksa menurunkan harga produknya, meski harga bahan baku sudah naik. "Margin keuntungannya tipis sekali," katanya. Cara Ipung tak bisa dilakukan Lavina. "Kami sudah mengalami kenaikan harga sampai 30 persen."

Menurut Lavina, naiknya harga membuat konsumen lari, terutama ke negara Cina yang membandrol produk dengan harga sangat murah. "Padahal kualitasnya jauh di bawah buatan Indonesia," katanya.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Sae Tanangga Karim memprediksi, jumlah transaksi mebel di pada pameran ini memang akan turun. "Kalau tahun lalu US$ 122 juta, sekarang mungkin US$ 110 juta," ujar Sae.

Menurut dia, tahun ini sebetulnya lebih banyak pengunjung datang, namun mereka lebih suka  melihat  ketimbang membeli dalam ajang pameran yang berlangsung sepakan itu.  Data sementara penyelenggara menunjukkan, sampai hari pertama, furnitur cuma mendapat US$ 1,4 juta.

Bunga Manggiasih

  • Send
  • Print