Ribuan Korban Tsunami Masih Hidup di Barak

TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Empat tahun tsunami melanda Nangroe Aceh Darussalam, namun masih ada sebanyak 964 kepala keluarga (KK) korban tsunami yang tinggal di barak pengungsi tsunami. Mereka masih menunggu bantuan rumah. Hal itu berdasarkan data dari Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias pada Desember 2008.

Barak-barak tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Pidie. Para penghuninya disebutkan adalah penyewa sebelum tsunami, dan tidak mempunyai tanah untuk dibangun rumah. Kini mereka sedang menunggu relokasi.

Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto dalam sambutannya melalui Deputi Kelembagaan BRR, Iqbal Farabi dalam peringatan empat tahun tsunami, Jumat (26/12) di Meulaboh, Aceh Barat, juga menyinggung hal tersebut.

Menurutnya, BRR hanya bertugas empat bulan lagi sampai April 2009. “Sisa waktu akan digunakan untuk menuntaskan proses rehab-rekon supaya tidak menjadi beban pemerintah daerah,” ujar dia.

BRR akan menyelesaikan beberapa tugasnya yang belum selesai, seperti menyiapkan sisa rumah, jalan, dan jembatan. Sisa waktu empat bulan lagi juga akan dipergunakan untuk menyusun laporan pertanggungjawaban kerja kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sementara itu, Kuntoro menegaskan berakhirnya BRR tidak berarti proses rehabilitasi dan rekontruksi selesai di Aceh. “Kelanjutan tugas itu akan dilakukan oleh pemerintah daerah dan kelembagaan,” katanya.

Sebanyak Rp 4 triliun telah dialokasikan melalui pemerintah daerah dan kelembagan untuk memastikan kelanjutan proses rehab-rekon di Aceh. Pihaknya juga berharap kepada lembaga swadaya masyarakat dan negara donor yang masih berkomitmen dengan Aceh, sehingga dapat menjalin kerjasama dengan Pemerintah Aceh dalam kelanjutan rehab-rekon pascatsunami.

Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar pada kesempatan yang sama, mengatakan seluruh masyarakat harus bangkit untuk mandiri dan tidak terlalu tergantung pada bantuan-bantuan. “Kenang peristiwa tsunami untuk diambil pelajarannya,” ucap Nazar.

Lebih jauh dia melanjutkan, kekurangan setelah BRR pergi adalah kewajiban seluruh masyarakat Aceh untuk menyempurnakannya. Pemerintah Aceh juga siap meneruskan proses rehab-rekon di Aceh masa mendatang.

Pusat peringatan tsunami di Meulaboh, Aceh Barat dihadiri sekitar seribu warga dan dipusatkan di bekas lokasi tsunami Desa Ujong Kareung, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Besar. Ikut hadir Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Kepala Polda Aceh, Bupati Aceh Barat, dan beberapa pejabat lainnya.

ADI WARSIDI

  • Send
  • Print