Bajir di Monas, Pejabat Terancam Dimutasi

sylvianaTEMPO Interaktif, Jakarta: Apel siaga banjir kerap digelar di Taman Monumen Masional (Monas). Selain lapang, arena landmark-nya Jakarta ini mudah dijangkau dari berbagai penjuru Ibu Kota.

Di tempat inilah Guberur DKI Jakata biasa mengatur strategi penanggulangan banjir. Mulai mengecek peralatan evakuasi, rencana pendirian posko pengungsi, hingga teknis menolong  korban yang rumahnya tergenang.

Nanum, Monas yang selama ini dikenal bebas dari banjir, belakangan sebagain arealnya tergenang. Walau hujan tak lebat, lantaran saluran irigasi tersumbat sampah, taman yang dekat dengan Istana Negara ini tak luput dari banjir. Bukan cuma  sampah yang menumpuk di mana-mana, tong sampah, lampu, tiang listrik pada rusak dan  hilang. 

Pemandangan itu yang membikin Gubernur Fauzi Bowo berang kepada Wali Kota Jakarta Pusat, Sylviana Murni, Kamis (29/1). Ia memuntahkan kemarahannya dengan memberi deadline dua pekan kepada mantan None Jakarta itu utuk membereskan Monas dari kesan jorok.

Dengan kondisi yang kumuh dan kotor, Monas walau sudah dipagar keliling, tak nyaman untuk olahraga. Fasilitas jogging track yang luas, contohnya, kanan kirinya banyak tumpukan sampah. Arena bermain anak seperti ayunan sampai papan seluncur, tak enak dipakai lantaran rusak. 

Kejengkelan gubernur ini terkait dengan perombakan manajemen Monas. Fauzi Bowo memutuskan pengelolaan Monas dilimpahkan kepada Wali Kota Jakarta Pusat. Sebelumnya, Monas diurus unit pelaksana teknis yang bekerja sama dengan dinas terkait seperti Dinas Pertamanan, Dinas Kebersihan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Dinas Pekerjaan Umum.

Unit ini bekerja tidak efektif lantaran koordinasinya tumpang tindih. Restrukturisasi manajemen berlaku akhir Januari ini. Wali Kota Jakarta Pusat dipilih sebagai koordinator.  “Saya akan menjadi arranger (pengatur) dalam pola manajemen baru,” kata Sylviana dalam sebuah kesempatan.

Sejak manajemen Monas diserahkan, Sylviana bisa bergerak leluasa. Ia tak lagi berurusan dengan para kepala dinas terkait Monas. Langkah yang ditempuh Sylviana mengumpulkan para kepala suku dinas di wilayah Jakarta Pusat.  "Saya pantau langsung kerja mereka," Sylviana berujar.

Sebanarnya, Monas merupakan salah satu sumber pundi-pundi DKI Jakarta. Hasil retribusi pada 2008 mencapai Rp 3,14 miliar, naik 126,32 persen dari target Rp 2,49 miliar. Pemasukan itu berasal dari parkir, retribusi pedagang, dan penjualan karcis naik ke puncak Monas.

Pengelolaan Monas tak cukup dengan merampingkan koordinasi antarinstansi. Monumen yang dirancang oleh arsitek Soedarsono itu membutuhkan penanganan ekstra. Salah satunya mengubah perilaku aparat di lapangan dan pengunjung. Aparat mesti jujur tak main-main dengan retribusi. 

Mereka juga harus kompak berhenti melakukan pungutan liar, apalagi sampai memeras kepada pedagang maupun warga yang berkunjung. Begitu pula dengan penikmat kawasan Monas dan  mereka yang berdagang, mesti taat aturan dan ikut memelihara lingkungan taman.

Soal genangan air di Monas gampang diatasi dengan membangun taman barrier atau parit keliling pagar atau membuat lubang biopori.  Parit atau sumur resapan itu tak lebih sebagai penunjang teknis belaka. Wali kota mesti menciptakan manajemen yang tangguh dan profesional. Orang-orang yang ditunjuk tidak gampang disuap dan memiliki dedikasi tinggi. "Saya memang akan merekrut manager in charge atau semacam manajer harian," kata Sylviana.

Mungkin dengan cara itu, lingkungan Monas menjadi terurus. Foke, panggilan Gubernur DKI jakarta Fauzi Bowo, tak sewot lagi dengan Ibu Wali Kota.  Ancaman akan memutasi pejabat yang terkait dengan pengelolaan Monas seperti terlontar pada Kamis sore itu, urung terjadi. Kalaupun tetap dimutasi, lebih karena alasan prestasi.

ELIK S 

* Gubernur Minta Monas Diperbaiki 

 

 

 

  • Send
  • Print