Pemerintah Dinilai Sengaja Abaikan Banjir

TEMPO Interaktif, Surabaya: Pengamat Lingkungan dari Universitas Airlangga Surabaya, Suparto Wijoyo menilai banjir yang  melanda banyak kawasan di Jawa Timur akibat dari kelalaian  pemerintah pusat maupun daerah. "Banjir di Bojonegoro dan lainya secara yuridis-birokratis adalah undangan pemerintahan. Banjir sengaja diundang dengan menjadikannya komoditas program penanggulangan bencana yang dialokasikan dalam APBN dan APBD," ungkap  Suparto kepada Tempo, Senin  (2/3).

Suparto menjelaskan, berdasarkan cara pemerintah menanggulangi bencana selalu bersifat responsif daripada preventif. Karena mendadak dalam menyikapi banjir, jangankan revitalisasi terhadap saluran sungai, untuk sekadar normalisasi sungai pemerintah tidak pernah melakukannya. "Rehabilitasi dan konservasi terabaikan. Akhirnya banjir adalah agenda pemerintahan yang dirubah menjadi tradisi tragedi yang berimplikasi birokratik," tegasnya.

Ia mendesak pemerintah  segera mengubah paradigma penanggulangan banjir dengan mengoptimalkan  tiga langkah, yaitu jangka pendek, menengah dan panjang. Untuk jangka pendek, pemerintah harus  memberikan bantuan mulai dari air bersih, sembako serta perlengkapan wanita. Untuk jangka menengah, pemerintah  mampu memfungsikan kembali sudetan-sudetan berupa gorong disejumlah titik di sepanjang Bengawan Solo.

"Belanda memang mendesain Bengawan Solo tanpa pintu air. Tapi mereka menggantinya dengan gorong-gorong dibeberapa titik," ungkap  Suparto. Gorong-gorong ini, menurut dia, berfungsi untuk mengurangi debit air sungai. Hanya saja, karena tak adanya itikad baik dari pemerintah, gorong-gorong  tertimbun oleh kawasan permukiman sehingga tak  mampu meredam luapan Bengawan Solo.

Sedangkan untuk penanganan jangka panjang, Suparto mengusulkan  pemerintah melakukan proses rehabilitasi kawasan hutan di Jawa Timur  yang saat ini mengalami kerusakan  serius. Menurut dia, dari 1,4 juta hektare hutan, 86 persen di antaranya sudah kritis bahkan bisa dikatakan gundul dan beralih fungsi.

ROHMAN TAUFIQ

Bengawan Solo Meluap, Satu Orang Tewas 

Bengawan Solo Dipasangi Detektor Banjir

Kerugian Banjir Bengawan Solo Sekitar Rp 2 Triliun 

* Dampak Banjir Meluas 

  • Send
  • Print