Jakarta Ambles, Belum Diketahui Kapan Berhenti

TEMPO Interaktif, Jakarta:  Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta menyatakan permukaan tanah Jakarta memang turun setiap tahun. "Hitung-hitungan kami, bekerja sama dengan akademisi, jadi sama dengan apa yang dikatakan oleh Firdaus (peneliti teknik lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali)," kata Kepala Bidang Pencegahan Dampak Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Perkotaan BPLHD Jakarta Dian Wiwekowati saat dihubungi Tempo kemarin.

Ahad lalu, Firdaus memperkirakan Jakarta akan tenggelam sebelum 2012. Itu disebabkan oleh penyedotan air tanah secara berlebihan di Jakarta sehingga permukaan tanah Ibu Kota semakin turun. "Tidak hanya tenggelam, kita juga akan kehausan," kata doktor lulusan University of Wisconsin itu.

Struktur tanah Jakarta, menurut Dian, belum padat sehingga akan terus turun. Tapi suatu saat penurunan itu akan berhenti. "Cuma, kami belum tahu kapan berhenti," ujarnya. Penurunan permukaan tanah di Ibu Kota tidak sama untuk setiap wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik sendiri. "Memang ada daerah-daerah tertentu seperti di Jakarta Barat yang kelunakannya tinggi. Jadi turun 1,2 meter," katanya.

Menurut Dian, ada dua penyebab turunnya permukaan tanah di Jakarta, yaitu faktor tekanan dari bangunan dan penyedotan air tanah. Tekanan bangunan menyumbang 87,5 persen, sedangkan eksploitasi air tanah sebesar 13,5 persen.

Data BPLHD menunjukkan jumlah penyedotan air tanah 21 juta meter kubik setiap tahun. Tapi, menurut Firdaus Ali, jumlah air tanah yang disedot 320 juta meter kubik per tahun. Padahal batas aman penyedotan adalah 38 juta meter kubik per tahun.
Menurut Dian, angka yang disebutkan Firdaus mungkin saja benar. "Kami hanya menghitung pengguna industri. Sedangkan rumah tangga tidak kami hitung," ujarnya.

Pengguna air tanah rumah tangga memang tidak memerlukan izin. "Karena untuk kebutuhan dasar," katanya. Beda dengan kebutuhan komersial, seperti hotel dan mal. Untuk menekan penggunaan air tanah, pemerintah akan menaikkan tarifnya. "Bulan depan drafnya kami masukkan ke DPRD," ujar Dian.

Pemerintah DKI Jakarta berencana menaikkan tarif air tanah untuk rumah tangga mewah hingga industri sebesar 6-16 kali lipat dari sebelumnya. Namun, kenaikan tarif tanpa pengawasan, menurut Firdaus, percuma saja.

Dian mengaku pihaknya memang kesulitan melakukan pengawasan. "Sumur itu bisa diumpetin di mana saja dan sulit untuk mendeteksinya," katanya. Ia membenarkan adanya kemungkinan pengguna air tanah melakukan manipulasi. Karena itu, ia berharap masyarakat membantu dengan melaporkan jika ada penggunaan air tanah tanpa izin.

SOFIAN

* Krisis Air Tanah Jakarta Berbahaya

* Tarif Air Tanah Jakarta Naik 6-16 Kali Lipat

* Tanah Jakarta Ambles Setengah Sentimeter Per Tahun

* Jakarta Diramalkan Tenggelam pada 2012

  • Send
  • Print