Enam Situ di Depok Kondisinya Mirip Situ Gintung

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Bina Marga Kota Depok, Jawa Barat,  Welman Naipospos mengungkapkan, ada enam situ di wilayahnya yang berpotensi jebol seperti Situ Gintung. Untuk mencegahnya butuh dana puluhan miliar rupiah.

"Keenam siitu tersebut mirip Situ Gintung baik fungsi maupun posisi," kata Welman kepada Tempo, Rabu (1/4).Keenam waduk atau danau kecil itu adalah  Situ Asih Pulo di Rangkapanjaya, Situ Pedongkelan di Tugu, Cimanggis, Situ Bojong Sari di Sawangan, Situ Pangarengan di Cisalak, Situ Bahar  di Limo,Cinere, dan Situ Sido Muktidi  Sukmajaya.

Dari segi fungsinya, menurut Welman, keenam situ tersebut dulunya berfungsi untuk mengaliri  persawahan. Lantaran itu,  posisi situ  lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Hanya saja, seiring perkembangan, daerah sekitar situ yang dulunya merupakan persawahan sekarang  berkembang menjadi permukiman.

Welman menambahakan, untuk menertibkan permukiman warga yang berada di daerah sekitar situ tidak  mudah. Pasalnya, penertiban pemukiman menyangkut tata ruang dan permukiman serta status tanah.  Welman tidak tahu perubahan fungsi lahan persawahan menjadi perumahan. “Saya tidak bisa menjelaskan kenapa perumahan ada di sekitar situ”, ujarnya.

Welaman mengatakan, apabila mengacu pada Undang-Undang Nomor 7  Tahun 2004 tentang SumberDaya Air, pembenahan situ  menjadi tanggungjawab pemerintah pusat. Tapi, dalam praktiknya tidak bisa hanya menyerahkan kepada pemerintah pusat semata.

“Kami sudah mengusulkan dana bantuan sekitar Rp  20 miliar  ke pemerintah provinsi untuk pembenahan situ,” kata dia. Dana tersebut  untuk normalisasi situ dan penertiban badan air dan banguan di sepanjang sepadan situ. Jumlah total seluruh situ di Depok ada 26. Kondisi dari situ tidak sama. Ada yang mirip dengan Situ Gintung, ada  yang posisinya sejejar dengan permukiman warga. “Kami inginnya semua situ diperbaiki.”

Situ Gintung di Cireundeu, Ciputat, Tangerang, Banten, jebol Jumat pekan lalu. Situ seluas 21 hektare itu airnya menerjang sebanyak 319 rumah penduduk dan menewaskan sedikitnya 100 orang serta puluhan hilang. Jebolnya tanggul diduga akibat perawatan situ yang kurang maksimal.

TIA HAPSARI

 

  • Send
  • Print