Berita Terkait
Kalla Didesak Kembali ke Yudhoyono
TEMPO Interaktif, Jakarta: TEMPO Interaktif, Jakarta: Desakan agar Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla tetap menjadi wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono menguat. Menurut sejumlah kalangan, pilihan tersebut merupakan hal yang realistis.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar Jawa Tengah Soejatno Pedro mengatakan setidaknya ada dua alasan duet Yudhoyono-Kalla tetap dipertahankan. Koalisi sesama partai besar mampu menciptakan pemerintahan yang kuat. Kedua, pascapemerintahan Yudhoyono kelak, Kalla tinggal melanjutkan saja.
Berdasarkan penghitungan suara sementara, Partai Demokrat menggeser posisi Golkar, yang dalam Pemilu 2004 menjadi pemenang, dengan meraih 21,58 persen suara. Partai Golkar kini menempati posisi ketiga dengan mengumpulkan 13-14 persen suara.
Menurut Pedro, meski sebelumnya Kalla menyatakan siap bersaing dengan Yudhoyono untuk merebut kursi presiden, sikap itu muncul bukan dari pribadi Kalla, melainkan desakan sejumlah petinggi Golkar. "Tidak jadi masalah jika Kalla kembali merapat ke Yudhoyono," ujar Ketua Sentral Organisasi Karyawan Swamandiri Indonesia Jawa Tengah ini.
Harapan agar Yudhoyono-Kalla kembali berduet juga diungkapkan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) saat menemui Kalla, Jumat malam lalu. "Kami berharap agar tidak ada bongkar-pasang lagi," ujar Silmi Karim, Ketua II Hipmi.
Menanggapi usul itu, Jusuf Kalla, menurut Silmi, setuju. "Kalau untuk kebaikan bangsa, apa pun bisa dilakukan," kata Silmi menirukan ucapan Kalla.
Ketua Partai Golkar Theo L. Sambuaga seusai konsolidasi internal partai di kediaman Kalla dua hari lalu menjelaskan hal serupa. "Dengan kenyataan seperti ini, koalisi Golkar-Demokrat lebih tepat," ujarnya.
Adapun Partai Demokrat menyatakan masih membuka peluang Kalla mendampingi Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. "Skenario terbaik, Golkar masuk membentuk koalisi parlemen yang kuat," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat Bidang Politik Partai Demokrat Anas Urbaningrum kemarin. Kendati begitu, Demokrat masih menunggu sikap Golkar.
Mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung meminta Kalla tak mundur. "Dari segi etika berpolitik, fatsun politik, apa cocok dia mundur dari calon presiden dengan mengubah menjadi calon wakil presiden? Itu kurang cocok," kata Akbar kemarin.
Menurut Akbar, Kalla siap dan memiliki kepercayaan diri maju sebagai calon presiden. Buktinya, Kalla telah memaparkan program kerja pemerintahan mendatang, seperti pertumbuhan ekonomi 8 persen dan pendapatan per kapita mencapai US$ 4.000. Karena itu, Golkar harus mencari dukungan dari partai lain untuk mengajukan calon presiden.
Pengamat politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, mengatakan desakan agar Kalla mengurungkan niat mencalonkan diri sebagai presiden dapat dimaklumi. "Kelompok yang realistis tahu, tanpa Yudhoyono, peluang Kalla menjadi presiden kecil," ujarnya.
SOHIRIN | TITIS S | EKO ARI W | KURNIASIH B | NININ D | SUKMA
Web via