Berita Terkait
TNI Tak Langsung Pecat Tentara yang Ngamuk
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kota Sentani, Ibu Kota Kabupaten Jayapura, Papua, kembali normal setelah tegang gara-gara ratusan tentara mengamuk di markas Batalion Infantri 751 kemarin. Penduduk kota yang sempat ketakutan, sejak pagi tadi sudah beraktivitas seperti biasa. Warga Sentani yang semula takut melintas di depan markas militer itu juga sudah tak takut lagi.
Kepala Staf TNI Angkata Darat Jenderal Agustadi Sasongko, yang terbang dari Jakarta tadi malam tiba di Bandara Sentani pagi, Kamis (30/4). Jenderal Agustadi menengok markas 751 dan mendengarkan keluhan langsung anak buahnya, yang kemarin marah besar.
Akibat mereka mengamuk, rumah dinas Komandan Batalion 751 Letnan Kolonel Lombak Sihotang, rusak. Pemicu protes, salah satunya pemotongan uang lauk pauk untuk nomboki sewa pesawat mengantarkan jenazah Prajurit Satu Joko ke Nabire. Joko meninggal karena sakit.
Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengatakan, prajurit yang mengamuk tidk bisa langsung divonis apakah mereka akan dipecat atau tidak. "Tergantung dari akar masalahnya. Kami masih menginvestigasi persoalan yang memicu kemarahan prajurit itu," ujar Sagom yang dihubungi Tempo, Kamis (30/4).
Menurut Sagom, ini bukan sekadar perkara komandan yang diprotes anggota. Atau, kata dia, anggota yang tidak puas terhadap pimpinan. "Tapi sudah menyangkut soliditas tentara.. Masalah juga tak lepas dari dari persoalan internal kemudian menjadi eksternal karena pemberitaan media massa," katanya.
Ia mengaku, prajurit yang emosional kemudian membuat keributan sempat menimbulkan gangguan keamanan. Tapi, kata dia, masyarakat tidak memahami situasi tentara yang bertugas di Papua. "Tidak bisa dibandingkan antara tentara yang bertugas di Jawa, yang transportasinya murah dan cepat dan tentara yang berdinas di Papua," kata Sagom.
Sagom mencontohkan, di Jawa masalah transportasi sangat mudah dicari. Apabila ada prajurit yang meninggal, seorang komandan dengan mudah memerintahkan anak buahnya mencari kendaraan untuk mengantar jenazah ke keluarganya. Sedangkan di Papua, yang medannya sulit dan antarwilayah tidak bisa ditempuh melalui jalur darat, ini menjadi persoalan tersendiri.
"Kalau di Papua mengantar jenazah ke luar daerah harus dengan pesawat. Satu jenazah tidak bisa hanya menyewa satu kursi, tapi harus satu pesawat. Karena tidak setiap hari ada penerbangan antardaerah," kata Sagom. Padahal, anggaran untuk satu batalion yang berada di Papua dan di Pulau Jawa tidak dibedakan. "Komandan tidak punya dana khusus untuk menyewa pesawat," ujarnya.
DIANING SARI
Web via