Berita Terkait
Kiai Pluralisme Itu Dimakamkan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Tidak seperti hari biasanya, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dipadat warga, Kamis (31/12). Teriknya matahari tidak menciutkan ratusan warga mendatangi kompleks makam Pondok Pesantren Tebuireng.Aparat keamanan pun sempat kewalahan mengantisipasi membludaknya warga di kompleks makam. Padahal, kawasan tersebut termasuk daerah yang seharusnya steril.
Takbir dan tahlil pun berkumandang. Bangsa Indonesia berduka dengan meninggalnya mantan Presiden Ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal sebagai Gus Dur.
Dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur dimakamkan dengan upacara kenegaraan di samping makam kakeknya yang juga pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Hasyim Asy''ari.
“Beliau adalah bapak pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia,” ujar Yudhoyono. “Selamat jalan bapak pluralisme kita.”
Gus Dur meninggal kemarin sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ia wafat karena komplikasi penyakit diabetes, ginjal, dan stroke.
Gus Dur lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Ia merupakan putra pertama mantan Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim. Gus Dur meninggalkan seorang istri, Sinta Nuriyah, dan empat orang putri.
Menurut juru bicara Gus Dur ketika masih menjadi Presiden, Wimar Witoelar, Indonesia kembali dipandang masyarakat Internasional berkat upaya Gus Dur. "Sejak Gus Dur jadi presiden, di situlah Indonesia keluar dari pengucilan dan bisa diterima oleh masyarakat Internasional," kata dia. "Indonesia bukan sebagai negara besar dengan 240 juta penduduknya, tapi negara dengan perasaan yang besar dan inklusif yang mencakup semua."
Sosok Gus Dur yang merakyat juga bisa dilihat dari antusiasme warga yang memberikan penghargaan terakhir untuk Gus Dur. Iring-iringan 30 mobil pengantar jenazah Gus Dur disambut ribuan massa di sepanjang jalan dari Bandar Udara Juanda, Surabaya, menuju Jombang.
Ada ratusan bendera Partai Kebangkitan Bangsa dipasang setengah tiang dari Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto. Beberapa murid sekolah yang dilewati terlihat membawa bendera merah putih. Ada pula pabrik yang karyawannya membentang spanduk ''Selamat Jalan Gus Dur''.
Adik Gus Dur, Salahuddin Wahid, mengatakan sebelum meninggal Gus Dur pernah berucap akan kembali ke Tebuireng akhir tahun ini. "Entah itu firasat atau apa, tapi dia pernah mengatakan seperti itu kepada salah satu keluarga," terang dia.
Perkataan itu diungkapkan Gus Dur kepada istri Salahuddin, Farida Salahuddin, saat berziarah ke Tebuireng Kamis pekan lalu. Di Jombang, Kamis pekan lalu, Gus Dur sempat dirawat intensif selama lima jam di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Jombang karena kondisi fisiknya merosot. Setelah mendapat perawatan, kondisinya stabil.
Akhirnya, Gus Dur benar-benar kembali ke Tebuireng akhir tahun ini. Namun, dia kembali dengan keadaan tak bernyawa. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
MUHAMMAD TAUFIQ| SHOLLA TAUFIQ| WAHYU MURADI| KODRAT
Web via