Khotbah Jumat Kenang Gus Dur

TEMPO Interaktif, Surabaya - Bagi sebagian masyarakat, pergantian tahun ke 2010 tidak membuat mereka larut berpesta-pora. Meski ada sebagian warga yang merayakan datangnya 2010, segelintir orang justru berduka.

Di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa orang terlihat khusyuk. Mereka mendaraskan tahlil dan takbir untuk sang guru bangsa, mendiang mantan Presiden Ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Gus Dur meninggal pada usia 69 tahun pada Rabu (30/12) sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Beliau mengembuskan nafas terakhir akibat komplikasi penyakit diabetes, ginjal, dan stroke.

Gus Dur merupakan putra pertama mantan Menteri Agama K.H Wahid Hasyim juga cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) K.H. Hasyim Asy''ari. Selama hidupnya ia dikenal sebagai tokoh pluralisme. Ketika masih menjadi Presiden, Gus Dur mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1867 yang melarang kegiatan warga Tionghoa. Gus Dur pun menjadikan Konghucu sebagai agama yang diakui serta menjadikan tahun baru Cina, Imlek, sebagai hari libur nasional.

Dengan jasa-jasanya untuk bangsa, tidak heran jika sebagian warga masih merasa kehilangan Gus Dur sehari setelah pemakamannya.

Di Surabaya, Pengurus Cabang NU menyerukan kepada khatib Salat Jumat agar memberikan materi ceramah mengenai Gus Dur. “Selain Salat Gaib, kita memang mengedarkan seruan untuk mengisi khotbah dengan tema utama tentang ketokohan Gus Dur,” kata Ketua Pengurus Cabang NU Surabaya, Achmad Syaiful Chalim, Jumat (1/1).

Menurut dia, ketokohan Gus Dur memang layak untuk dijadikan tema khotbah. Apalagi, Gus Dur dinilai memiliki banyak pengikut. Dengan khotbah bertema Gus Dur ini, NU Surabaya berharap seluruh warga NU bisa menjadikan sosok Gus Dur menjadi panutan dalam hidup.

Khotbah mengenai Gus Dur terdengar saat Salat Jumat di Masjid Rahmad Pulotegalsari, Wonokromo. “Gus Dur itu sakti karena tidak pernah tidur. Meski tidur, beliau bisa mendengar. Beliau juga sangat alim sehingga pantas kita semua menjadikanya sebagai suri tauladan,” kata kiai Musthofa, ketika membacakan khotbah Jumatnya.

Selain itu, dalam khotbah kali ini, Musthofa yang merupakan kiai kampung setempat juga mengisahkan kisah-kisah semasa muda Gus Dur dan kepandaiannya berbahasa asing. “Padahal beliau tidak pernah tamat kuliah, tapi ilmunya sudah melebihi profesor. Rasanya berdosa kalau tidak mengakui kealimannya,” kata dia.

Dalam mimbar khotbahnya, Musthofa juga menyayangkan masih banyaknya warga yang memilih hura-hura dalam menghabiskan pergantian tahun baru. Padahal di saat yang sama, bangsa dan Islam sedang kehilangan tokoh sekaligus ulama besar.

Usai Salat Jumat, rangkaian ibadah di masjid ini juga ditutup dengan Salat Gaib yang dikhususkan untuk menghormati Gus Dur.

Hal serupa juga terjadi di Lumajang. Ribuan jemaah Salat Jumat yang memadati Masjid Agung Anas Mahfudz Salat Gaib untuk Gus Dur. Ketua Majelis Ulama Indonesia Lumajang KH Amak Fadholi mengatakan, Gus Dur tidak hanya dikenal sebagai ulama besar. “Sebagai presiden keempat RI, beliau juga sebagai bapak sekaligus guru bangsa kita,” tutur dia.

Semoga doa warga bisa membawa Gus Dur ke derajat tertinggi di hadapan yang kuasa.

ROHMAN TAUFIQ| DAVID PRIYASIDHARTA| KODRAT

  • Send
  • Print