foto

Sejumlah penduduk mencari korban yang tertimbun tanah ;lonsor di Ciwidey, Jawa Barat (24/2). Enam orang tewas tertimbun dan puluhan lainnya dilaporkan hilang, dalam peristiwa yang terjadi kemarin. REUTERS/Crack Palinggi



Bantuan Longsor Terhambat Akses

TEMPO Interaktif, Jakarta -Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Edi Sujadi beralasan terlambatnya informasi terjadinya longsor di Tenjolaya, Ciwidey, Kabupaten Bandung, karena akses ke lokasi sangat sulit dijangkau kendaraan umum.

"Butuh tiga jam untuk sampai ke kota kecamatan itu dengan kendaraan, karena jalannya yang berbatu." katanya, hari ini (24/2). Sementara komunikasi di lokasi longsor sulit dijangkau dengan telefon seluler, sehingga sulit memantau data terbaru tentang korban tanah longsor .

Pemerintah Daerah Kabupaten sampai saat ini kesulitan mendapatkan data terbaru dari posko yang yang ada dilokasi. "Di kantor pemerintah, kami juga membuat posko untuk menghimpun informasi dan menyalurkan bantuan." ujarnya.

Edi menyatakan, data yang diterima posko badan penanggulan bencana Kabupaten Bandung, sejak tadi malam baru lima orang yang ditemukan tewas. Adapun 32 lainnya masih tertimbun longsor, dan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. "Lokasi yang sulit dijangkau baik kendaraan maupun telepun membuat kami kesulitan menghimpun data lapangan." katanya.

Hal itu pun dirasakan pihak Kepolisian Daerah Jawa Bara, saat berupaya mencari korban tertimbun. Sinyal telefon seluler mulai padam sekitar 20 kilometer dari lokasi. Sehingga polisi menyertakan anjing pelacak untuk membantu pencarian.

"Kami berangkat untuk membantu proses evakuasi." kata Komisaris Dade Achmad, Juru bicara Polda Jawa Barat saat dihubungi Tempo, Rabu (24/2).

Polisi memberlakukan sistem piket untuk membantu evakuasi dan pertolongan ke warga. Satuan Polda lainnya juga dikerahkan seperti Brimob, Dalmas, Tim Indentifikasi dan Tim Medis dari Polwil Priangan dan Polda Jawa Barat "Kami fokuskan pada pencarian dan pengamanan wilayah untuk saat ini."ujarnya.

Lokasi longsor ini berada di Kabupaten Bandung. Jaraknya 60-an kilometer dari Kota Bandung ke arah selatan. Satu-satunya akses ke menuju lokasi harus menempuh jalan desa sepanjang 30 kilometer. Akses ini lebih dari setengahnya adalah jalan tanah bebatuan menembus hutan dan pegunungan dengan lebar dua kendaraan empat.

Waktu tempuh melalui jalan desa dari jalan raya Ciwidey ke lokasi longsor sekitar dua hingga tiga jam, tergantung jenis kendaraan dan kepadatan lalu lintas yang keluar masuk lokasi.

Sementara persedian logistik korban longsor di Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, kembali menipis. Bantuan satu ton beras dari Dinas Sosial Kabupaten Garut dan paket sembako dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan yang diberikan pada Senin (22/2) kemarin, belum mencukupi kebutuhan pengungsi. “Pasokan bantuan hanya mencukupi sampai hari kamis besok,” ujar Camat Talegong, Rena Sudrajat, dihubungi Tempo melalui telpon selulernya, Rabu (24/2).

Sampai hari ini, jumlah pengungsi terus bertambah. Sedikitnya tercatat 615 kepala keluarga yang terdiri dari 2.446 jiwa menempati tempat pengungsian. Mereka berasal dari Desa Sukamulya, Sukalaksana dan warga Desa Sukamaju.

Para pengungsi itu dipusat di lima titik pengungsian. Diantaranya di Desa Sukalaksana yakni di kampung Genteng, Cibungur, Datar Kupa dan Sawah Jeruk. Sedangkan di Desa Sukamulya, pengungsian dipusatkan di kampung Gadog. “Bantuan baru dari pemerintah daerah dan provinsi, jumlahnya juga terbatas,” ujarnya.

Bencana longsor terjadi pada Kamis (18/2) lalu itu mengakibatkan sekitar 30.871 warga Kecamatan Talegong terisolir. Akses transportasi menuju daerah yang berada 120 kilometer arah selatan dari pusat kota Garut itu terputus total. Ruas jalan provinsi dari Garut merobohkan jembatan Cibubuay dan tembok penahan jembatan Batu Sero sepanjang 10 meter di kampung Nangewer, Desa Sukamulya, sehingga tidak bisa dilewati kendaraan.

ALWAN RIDHA RAMDANI | EVAN (Riset) | SIGIT ZULMUNIR | ERICK P HARDI

  • Send
  • Print