foto

Bentrok warga dengan polisi di Leok, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Selasa (1/9). ANTARA/Imank



Presiden Minta Polisi Atasi Rusuh Buol

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan meminta pertanggungjawaban Kepolisian atas terjadinya kerusuhan di Kota Buol, Sulawesi Tengah. Ia menilai kerusuhan tersebut semestinya bisa dicegah sejak awal.

"Saya juga akan meminta pertanggungjawaban Kepolisian," kata Yudhoyono sebelum membuka rapat kabinet paripurna di Kantor Presiden, Komplek Istana Negara, Kamis (2/9).

Hingga kemarin ketegangan masih menyelimuti Kota Buol, Sulawesi Tengah. Sedikitnya 500 orang dari sejumlah desa kembali menyerang kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Biau. Mereka melempari batu ke arah Polsek.

Serangan tersebut merupakan ketiga kalinya. Akibatnya bentrokan massa dengan aparat menjadi tak terhindarkan. Tujuh orang dilaporkan tewas akibat insiden ini.

Selain meminta pertanggungjawaban Kepolisian, Presiden juga akan meminta pertanggungjawaban Gubernur dan Bupati setempat. Mereka dinilai kurang mengantisipasi kejadian tersebut.

Selain kurang mengantisipasi, Presiden melanjutkan, sinergi antara pemimpin daerah juga tak baik dan leletnya respons yang diberikan. "Yang semestinya bisa kita cegah, terjadi. Atau semestinya korbannya bisa kita kurangi, tapi malah lebih besar. Ini tidak bisa kita terima," katanya.

Presiden mengatakan kejadian tersebut seharusnya bisa dicegah atau korban bisa dikurangi jika TNI dan Polri saling berkoordinasi dengan Gubernur dan Bupati. "Sudah ada pemicu, sudah ada insiden, sudah ada berita-berita kesana kemari, mestinya dengan cepat dan responsif dan tepat semua resources digunakan," katanya.

Presiden meminta insiden tersebut segera diinvestigasi. Siapapun yang melanggar harus ditindak tegas. Ia menilai kejadian ini mencoreng bulan suci Ramadan. "Tidak boleh membiarkan di negeri ini, anarki demi anarki terus berlangsung, tapi bagi yang lalai menjalankan tugasnya perlu mendapatkan sanksi. Siapapun," katanya.

Presiden meminta hari-hari penuh ketegangan di Buol dikelola secara baik. Aparat diminta tak cepat menilai situasi telah aman. Ia mengingatkan kejadian di Tanjung Priok beberapa waktu lalu. Setiap kejadian, kata Presiden, selalu ada efeknya "Mesti ada buntut, kalau kita mengerti sampai betul melewati batas aman, baru sedikit relaks kita," katanya.

Ia mengingatkan agar setelah kejadian kerusuhan para tokoh masyarakat dan ulama diajak bicara. Saat ini, kata Presiden, langkah itu belum dilakukan. "Kalau solusinya hanya mengandalkan 2 SSK Brimob dikirim ke depan, keadaan geografisnya tidak memungkinkan masih harus ditambah lagi, pasti terlambat," katanya.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan kondisi di Kota Buol saat ini berangsung membaik. "Keadaan sudah mendekati normal. Aktivitas masyarakat sudah berjalan, sudah ada bantuan TNI dan Brimob jaga keadaan di sana," katanya di Kantor Presiden, Kamis (02/09).

Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memastikan tujuh orang tewas akibat insiden kerusuhan  di Buol, Sulawesi Tengah.  Karena itu pihaknya membentuk tim khusus untuk melakukan investigasi kasus ini. Tim dikepalai Wakil Kepala Polri Jusuf Manggabarani. "Kami juga akan mengundang Komisi Hukum DPR," kata Bambang Hendarso yang ditemui sebelum rapat kabinet di Istana Negara, Jakarta.

DWI RIYANTO AGUSTIAR

Berita terkait:

 

 

  • Send
  • Print