TEMPO/Adri Irianto
Berita Terkait
Calon Kepala Polri Sebaiknya Jangan Tunggal
TEMPO Interaktif, Jakarta -Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya akan menyerahkan satu nama calon Kepala Polri ke Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden tak menyiapkan opsi lain seandainya nama calon yang disodorkan itu ditolak.
"Satu nama," kata Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi sebelum menghadiri rapat paripurna di Kantor Sekretariat Negara, Komplek Kepresidenan.
Sudi enggan menyebutkan siapa nama tersebut. Ketika ditanya apakah calon tersebut adalah petinggi Polri yang baru dinaikkan pangkatnya, Sudi hanya tertawa. "Sejak dulu kan ga ada yang langsung dari bintang empat," katanya.
Yang pasti, kata Sudi, nama yang nanti akan dikirim ke DPR adalah sosok yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. "Presiden memilih yg dianggap pas," katanya.
Mengenai kapan nama tersebut akan dikirim ke DPR, Sudi mengaku tak tahu. Ia hanya mengatakan Presiden akan mengirim nama tersebut secepatnya. "Dalam waktu yang sangat dekat," katanya.
Adapun mengenai kemungkinan calon tersebut ditolak DPR karena hanya satu nama, Sudi enggan menjelaskan. "Kami tidak ingin mengandai-andai," katanya.
Ketua DPR Marzuki Alie membenarkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya akan mengajukan satu nama calon Kapolri ke DPR.
Menurut Marzuki, kalau Presiden Yudhoyono mengajukan lebih dari satu nama calon Kapolri pengganti Jenderal Bambang Hendarso Danuri, maka akan terjadi kompetisi yang tidak sehat di internal Polri dan proses seleksinya nanti DPR. "Presiden akan ajukan satu nama saja," kata Marzuki di Gedung DPR.
Namun sampai hari ini, lanjut mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu, Presiden belum mengajukan nama calon Kapolri ke DPR yang selanjutnya akan diuji kelayakan dan kepatutan oleh Komisi III.
"Presiden Yudhoyono belum mengajukan nama calon Kapolri. Saat ini nama calon Kapolri baru diserahkan Kapolri ke Presiden Yudhoyono, tapi DPR belum dikirimi oleh presiden," kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini.
Mengenai dua nama yang santer disebut-sebut yakni Komjen Nanan Sukarna dan Irjen Imam Soedjarwo yang sudah berada di tangan presiden, Marzuki menilai, kalaupun nantinya Presidenmengajukan nama-nama tersebut, tidak masalah sama sekali.
"Kalau memang dua nama itu diajukan ke DPR, keduanya sudah melalui proses seleksi yang dilakukan oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) sehingga diyakini sebagai figur yang terbaik untuk dipilih salah satunya memimpin Polri ke depan," kata Marzuki.
Ia berharap, Kapolri mendatang harus mampu melakukan reformasi internal Polri dan memberikan pelayanan yang baik kepada publik.
"Harapan saya, Kapolri terpilih adalah orang yang bisa melanjutkan reformasi di tubuh Polri. Bisa meningkatkan pelayanan pada masyarakat, responsif pada pengaduan masyarakat, tak tebang pilih dalam menangani kasus-kasus," ujarnya.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Amanat Nasional meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak menyodorkan calon tunggal pengganti Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri. “Jadi, kami bisa memilih calon mana yang kriterianya paling sesuai,” kata anggota Komisi Hukum dari PDIP, Gayus Lumbuun, kemarin.
Meski begitu, kata Gayus, pihaknya tak mempermasalahkan jika memang akhirnya Presiden memutuskan hanya mengirim satu nama. “Kami tidak bisa protes ke Presiden karena hal itu tak diatur dalam undang-undang,” katanya.
Namun Gayus memberi catatan, bila calon tunggal yang diajukan itu dianggap tak memenuhi kriteria, partainya akan meminta Presiden mengajukan calon baru. "Kalau enggak sesuai, ya, akan kami tolak,” ujarnya. “Memang butuh biaya lagi (untuk uji kepatutan dan kelayakan). Tapi kami mengutamakan kualitas Kepala Polri yang akan terpilih."
Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Tjatur Sapto Edy, mengharapkan hal yang sama. Menurut Tjatur, calon tunggal Kapolri memiliki plus-minusnya sendiri.
“Kalau Presiden mau satu, ya, silakan saja. Tapi kalau lebih dari satu akan lebih baik,” ucapnya. Dari delapan nama yang pernah diseleksi oleh Komisi Kepolisian Nasional, mencuat tiga nama yang dianggap berpeluang.
Mereka adalah Komisaris Jenderal Nanan Sukarna, Inspektur Jenderal Imam Sudjarwo, dan Inspektur Jenderal Timur Pradopo. Belakangan, nama Nanan dan Imam dianggap bersaing ketat.
DWI RIYANTO AGUSTIAR | MUTIA RESTY | ISMA SAVITRI | FEBRIYAN | EKO ARI
Web via