Polisi dan TNI Kerahkan 130 Anggota Patroli Jaga Jakarta  

TEMPO Interaktif, Jakarta -Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, Komisaris Besar Saidal Nursalim mengatakan pasukan gabungan Kepolisian Republik Indonesia dan TNI melakukan patroli skala besar dengan menurunkan 130 orang anggota.

"Untuk menciptakan suasana kondusif, kami patroli skala besar," ujarnya ditemui di depan ruang jenazah RS Polri, Rabu (29/9). Hingga kini terdapat tiga korban tewas dari dua kelompok yang siang tadi bertikai di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang disemayamkan di RS Polri.

Saidal menambahkan, terdapat beberapa titik yang menjadi konsentrasi patroli yang akan terus berjaga-jaga hingga korban selesai dikebumikan.

"Ini operasi gabungan TNI AD, Kodim 0505, Polres, Garnisun, Brimob serta Polda Metro Jaya," jelasnya. Kapolres Kombes Saidal hingga kini masih berkoordinasi dengan pasukan di halaman kamar jenazah RS Polri Kramat Jati.

Situasi di lokasi telah ditutup dengan garis polisi dan belasan pasukan bersenjata laras panjang berjaga - jaga di pintu masuk ruangan. Sementara keluarga korban juga tampak masih menunggu di depan ruang jenazah.

Polisi pun mulai melakukan pemeriksaan terhadap enam orang saksi terkait bentrokan di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (29/9) siang.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar menyatakan bahwa mereka yang diperiksa, diduga mengetahui penyebab terjadinya bentrokan.

"Sementara ini pemeriksaan masih berlangsung, kita tunggu saja hasilnya," ujarnya saat dihubungi. Menurutnya, enam orang ini berasal dari masing-masing kelompok yang bertikai serta warga yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka masih berstatus sebagai saksi.

Boy masih belum bisa memberikan informasi identitas para saksi ini. Selain itu, dia menegaskan bahwa belum ada seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Eddy Pramono membenarkan adanya pemeriksaan terhadap saksi.

Dia pun enggan memberikan identitas orang-orang yang diperiksa tersebut. "Sampai saat ini pemeriksaan masih berlangsung," katanya.

Seemntara sejumlah warga mengaku trauma dengan peristiwa bentrok berdarah di Jalan Ampera tidak jauh dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (29/9) siang.

"Kondisi saat itu menakutkan. Orang ramai berteriak dan saling bacok. Juga terdengar ledakan senjata," kata Ariadi, 25 tahun, pemilik kios rokok di Jalan Ampera.

Ariadi mengaku sempat ketakutan saat bentrokan terjadi. "Saya langsung masuk dan menutup kios," lanjutnya.

Hal senada diakui Toyib, 30 tahun, penjual bubur kacang ijo di Jalan Ampera. "Dulu juga pernah rusuh waktu sidang kasus Sangaji. Kondisi juga mencekam, dan sekarang terulang lagi," katanya.

Riani, 30 tahun, warga Jalan Ampera mengaku syok melihat kerusuhan itu. "Darah berceceran di jalan," katanya.

Karena itu, ia meminta polisi bisa mengantisipasi sidang yang berpotensi menimbulkan kerusuhan. "Kejadiannya di jalan, bisa saja mereka salah sasaran dan menyerang warga yang tidak tahu apa-apa yang sedang melintas di jalan," imbuhnya.

Siang tadi keributan bentrokan antar dua kubu yang bersengketa dalam kasus Blowfish yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengakibatkan tiga orang tewas. Korban tewas adalah Saifudin, Agustinus Tamaza, dan Frederick Philo Letlet.

Selain itu juga ada delapan orang dan tiga polisi terluka. Bahkan Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Edy juga terserempet peluru di bagian lutut kaki kiri.

VENNIE MELYANI | AGUNG SEDAYU | EZTHER LASTANIA

  • Send
  • Print