Suasana di depan sebuah hotel yang hancur akibat diterjang banjir badang di Wasior, Teluk Wondama, Papua, (9/10). AP
Berita Terkait
Karena Apa Banjir Bandang Wasior
TEMPO Interaktif, Wasior - Rasa asing langsung menyergap Umbu Akwan, 23 tahun. Warga Kampung Sanduai, Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, tersebut baru tiba di penampungan. Ia sempat diperiksa tim medis dan didata petugas.
Umbu Akwan adalah salah satu dari ribuan pengungsi korban banjir bandang di Wasior yang kini berada di Wamena. Ia termasuk beruntung. Tidak ada sedikit pun luka yang menghinggapi tubuhnya. Semua keluarganya pun selamat. Padahal, banjir bandang yang terjadi pada 4 Oktober lalu telah menewaskan 147 orang.
Kontroversi mengenai penyebab bencana tersebut mencuat. Kelompok pecinta lingkungan hidup seperti Wahana Lingkungan Hidup menuding pembalakan liar sebagai biang keladi. Bahkan, Walhi mengklaim memiliki bukti foto-foto kayu hasil pembalakan liar yang ikut terbawa banjir bandang.
Namun, pemerintah membantahnya. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menegaskan banjir bandang di Wasior disebabkan kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Indonesia sebulan terkahir ini. "Ini betul-betul karena fenomena alam karena curah hujan yang sangat tinggi," katanya.
Sementara, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyalahkan pihak pengelola tata ruang di daerah sebagai penyebab bencana banjir bandang yang menewaskan ratusan orang di Wasior, Papua Barat.
"Pinggir laut adalah kawasan hutan produksi terbatas yang seharusnya tidak boleh dijadikan kota yang dipenuhi banyak penduduk," ujar Zulkifli di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Senin (11/10).
Menurut dia, kondisi yang terjadi saat ini adalah berkembangnya populasi manusia di daerah kota ke arah cagar alam. Padahal dengan kondisi topografi kawasan cagar alam yang curam, kesalahan penataan ruang dapat memicu longsor yang menyapu perumahan warga di sekitar daerah aliran sungai Sobey, di Wasior.
Sebelum bencana terjadi, kata Zulkifli, terjadi peningkatan curah hujan di kawasan hutan lindung. Dua danau kecil yang berada di puncak kawasan cagar alam lalu meluap dan mengalir ke daerah padat penduduk tersebut.
Adapun mengenai kabar adanya pembalakan liar di kawasan cagar alam, Zulkifli mengatakan hal itu tidak benar. Dia beralasan kawasan cagar alam merupakan kawasan konservasi yang tak tersentuh oleh kegiatan ilegal.
Ketika perdebatan soal penyebab bencana tersebut masih bergulir, Akwan dan ribuan pengungsi lain bingung. Usai diterjang banjir, mereka kini hanya bisa pasrah. Tiap harinya berbaring di dalam tenda dan menunggu waktu makan.
Akwan tak punya pilihan untuk kembali ke Wasior. "Saya tidak tahu. Saya masih trauma. Lagi pula Wasior saat ini sudah hancur, kita tidak ada tempat di sana lagi," ujarnya.
ANTON WILLIAM| RIRIN AGUSTIA| JERRY OMONA| KODRAT
Berita terkait:
Pemerintah: Banjir Wasior Karena Cuaca Ekstrem