Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wapres Boediono setelah mendarat di Jakarta, Minggu (20/12). Kepala Negara tiba di Tanah Air setelah lawatannya ke sejumlah negara Eropa dan menghadiri konferensi perubahan iklim. ANTARA/Widodo S. Jusuf
Berita Terkait
Demonstrasi Warnai Setahun Yudhoyono-Boediono
TEMPO Interaktif, Jakarta -Sejumlah demonstrasi digelar menyambut setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Polisi memperkirakan 2.000 orang akan berunjuk rasa di Ibu Kota hari ini, memperingati setahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Perkiraan jumlah demonstran tersebut, kata juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, didasarkan pada laporan kepada Polda oleh 15 elemen masyarakat yang berniat mengadakan unjuk rasa.
Elemen masyarakat yang akan menggelar demo itu terdiri atas lembaga swadaya masyarakat, badan eksekutif mahasiswa (BEM), dan serikat buruh. Mereka, antara lain, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Petisi 28, serta BEM seluruh Indonesia Untuk mengamankan demonstrasi, polisi menyiagakan 19 ribu personel dari kesatuan Brigade Mobil dan pasukan antihuru-hara. "Mereka akan diturunkan bertahap, tergantung perkembangan," kata Boy Rafli.
Tempat-tempat yang menjadi fokus pengamanan adalah Istana Kepresidenan, Istana Wakil Presiden, DPR, gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Bundaran Hotel Indonesia, serta pusat-pusat perekonomian.
Wakil Persatuan Oposisi Nasional dari Petisi 28, Haris Rusli Motti, menegaskan bahwa aksi gabungan hari ini akan bermuara di depan Istana Negara. Di sana mereka akan mendirikan panggung orasi. “Kami akan menyatakan pemerintahan SBY telah gagal,”kata dia.
Haris menerangkan, demonstran mulai bergerak dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pukul 12.00 WIB, menuju Istana Negara. Setelah itu, panggung orasi terbuka akan digelar pukul 13.00 WIB.
Para aktivis dari berbagai kota juga berniat meramaikan hajatan hari ini. Presiden Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Herry Dharmawan, mengatakan ratusan mahasiswa Bandung akan berangkat ke Jakarta.
Begitu pula ratusan buruh dan elemen masyarakat Tangerang berniat bertolak ke Jakarta melalui Batu Ceper. Di Purwokerto, 12 elemen mahasiswa memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa.
Presiden Yudhoyono menanggapi santai rencana demonstrasi itu."Unjuk rasa besok dalam sistem sosial-politik tidak luar biasa," kata dia saat memberi sambutan pembukaan Rapat Kerja Gubernur se-Indonesia di Makassar.
Presiden menjelaskan, petisi, kritik, dan unjuk rasa harus dihormati. Pemerintah disebutnya tidak bakal terganggu, apalagi menanggapi aksi tersebut secara emosional.
Selain Jakarta, puluhan mahasiswa di Denpasar yang tergabung dalam Aliansi Rakyat untuk Demokrasi dan HAM (ARDHAM), Rabu (20/10) juga menggelar aksi unjuk rasa memperingati satu tahun pemerintahan SBY-Boediono. Mereka menganggap pemerintah gagal mensejahterakan rakyat.
Unjuk rasa diawali dengan penyebaran brosur yang berisi kecaman terhadap SBY-Boediono. "Liberalisasi ekonomi terbukti membuat rakyat makin sengsara," kata Zet Hasan dalam orasinya.
"Kalangan buruh terancam oleh sistem outsourcing yang membuat upah mereka sangat murah dan hubungan kerja yang hanya dalam ikatan kontrak belaka. Sementara pelajar dan mahasiswa harus membayar biaya pendidikan yang mahal."
Aksi mereka kemudian berlanjut dengan konvoi jalan kaki menuju perempatan Matahari, Denpasar. Para mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan "Pemerintah Gagal, Rakyat Sengsara".
Mereka juga membawa poster yang bertuliskan "SBY-Boediono Gagal Tegakkan HAM", "Tolak Usulan Soeharto Pahlawan", "Pemerintah Makmur, Rakyat Gulung Tikar", dan lain-lain.
Aksi diakhiri dengan pembacaan 10 tuntutan mahasiswa, antara lain berisi penolakan privatisasi BUMN, kaji ulang Asean China Free Trade Agreement (ACFTA), tolak liberalisasi ekonomi dan stop kekerasan.
Mereka juga meminta pencabutan Protap Kapolri Nomor 1/X/2010 tentang penanggulangan anarkhi yang mengizinkan polisi melakukan kekerasan hingga penembakan. "Kami merasa protap itu akan menyuburkan kekerasan," kata Hasan.
Sedangkan di Surabaya, sebanyak 1.300 personel kepolisian gabungan dari Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur dikerahkan untuk mengamankan aksi unjuk rasa setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Rabu siang ini (20/10).
Kepala Sub Bagian Humas Polrestabes Surabaya Komisaris Polisi Wiwik Setyaningsih menjelaskan, sebanyak 1.000 personil ditempatkan di Gedung Negara Grahadi, di Jalan Gubernur Suryo. Sedangkan selebihnya ditugaskan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur di Jalan Indrapura.
Lima unit Water Cannon dan dua tim dari anjing pelacak K9 Polda juga disiagakan untuk memback-up pengamanan. "Brimob juga kami siagakan untuk berjaga di barisan belakang," kata Wiwik usai apel persiapan pengamanan di lapangan Basuki Rahmat, Surabaya.
DWI RIYANTO | ANWAR S | A. ANDRIANTO | ABD AZIS | ROFIUDDIN | AYU CIPTA | ANTON W | EFRI RITONGA | ROFIQI HASAN | ROHMAN TAUFIQ