foto

Pengendara motor melintasi sebuah mobil yang mogok karena banjir di jalan Fatmawati, Jakarta, Senin (25/10). Minimnya daerah resapan dan drainase yang buruk membuat Banjir Ibukota saat di guyur hujan lebat. TEMPO/Seto Wardhana



Ancaman Banjir Jakarta

TEMPO Interaktif, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan hujan masih akan mengguyur Jakarta hingga akhir Februari tahun depan. "Hujan deras diperkirakan terjadi setiap sore," kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian saat dihubungi semalam.

Hujan terus-menerus seperti kemarin, Edvin melanjutkan, disebabkan tiga hal, yaitu suhu muka laut yang panas, La Nina dari Samudra Pasifik, serta Indian Ocean Dipole Mode dari Samudra Hindia. "Suhu muka laut masih panas sepanjang tahun," ujarnya.

Hujan deras dan lama, seperti yang terjadi kemarin sore di Jakarta, dikatakan Edvin, tidak akan terulang besok. "Hujan sederas itu mengambil energi yang besar, kalau sudah keluar langsung ternetralisir dan tidak akan terjadi hujan deras lagi," ujarnya.

Edvin mengatakan, hujan kemarin sore itu merata dari Jakarta sampai Puncak, Jawa Barat, dan berlangsung cukup lama dari pukul 15.00 hingga 20.00 WIB. "Hujan sore (kemarin) termasuk kategori luar biasa," katanya.

Hujan kemarin, selain membuat banjir di berbagai wilayah Jakarta, membuat kemacetan yang parah di berbagai ruas jalan Jakarta sampai ke pinggir Ibu Kota. Kendaraan sampai pukul 11.30 masih banyak yang merayap keluar jalan utama Jakarta.

Di depan tempat istirahat Tol Bumi Serpong Damai, genangan air mencapai 50 sentimeter, sehingga mobil dialihkan ke Tol Pondok Ranji, Bintaro, untuk mereka yang menuju BSD. "Karena setinggi pinggang, mobil tidak bisa lewat," kata Risa, yang mengendarai mobil dari Blok M selama tiga jam.

Sedangkan tanggul Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan, kembali jebol. "Luapan airnya membanjiri perkampungan di sini sampai setinggi dua meter," kata Ketua RT 01 RW 12 Bintaro, Pesanggrahan, Syamdul Ridwan.

Syamsul mengatakan air membanjiri hampir seluruh rumah di RT-nya. "Yang kena banjir 160 rumah dari 180 rumah di RT 01," ujarnya. Ia menuturkan, tanggul tersebut jebol dan mulai membanjiri rumah-rumah warga sekitar pukul 16.30. Hingga pukul 22.30, air masih tetap tinggi. "Tapi sudah mulai surut, sekarang tingginya sekitar satu meter," katanya.

Hujan pada akhir tahun nanti, menurut Aldrian, berpotensi membuat banjir besar di Jakarta. Bencana ini disebabkan perubahan iklim tahun ini. "Pada 2010, musim kemarau telah berubah menjadi musim hujan sepanjang tahun," ujarnya.

Cuaca ekstrem ini, katanya melanjutkan, membuat tanah di Ibu kota menjadi jenuh. Tanah sudah tidak mampu lagi menampung curah hujan yang tinggi karena hujan terjadi terus-menerus.

Sedangkan sungai-sungai Jakarta bisa jadi tak bisa mengalirkan airnya ke laut, karena air laut ternyata lebih tinggi volumenya. Apalagi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis bahwa baru-baru ini pulau es seluas wilayah Provinsi Jawa Barat telah mencair dan lepas dari Greenland, Kutub Utara.

Edvin memprediksi, jika ada banjir kiriman dari kota satelit, kemudian ditambah curah hujan tinggi, dan kucuran rob dari laut utara, Jakarta bisa jadi tenggelam meski tidak sebesar banjir 2007.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Soeroso Hadiyanto mengatakan, pancaroba mulai datang di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sejak September lalu.

Cuaca tak menentu membuat hujan kadang disertai angin bisa muncul setiap hari hingga awal tahun 2011. Soeroso mengatakan, angin kencang, kilat, ataupun petir tetap akan mewarnai Ibu Kota. "Termasuk juga cuaca yang sangat panas. Seperti yang kita alami selama tiga hari ini," katanya.


PUTI NOVIYANDA| NALIA RIFIKA| NUR HARYANTO





  • Send
  • Print