foto

Gunung Merapi. REUTERS/Beawiharta



Ganasnya Wedhus Gembel

TEMPO Interaktif, Sleman -  Wedhus gembel atau awan panas Gunung Merapi mencapai 1.000 derajat celcius. Awan panas itu mengandung bermacam-macam material berupa berupa batu, kerikil, pasir, abu dan gas vulkanik. Material itu meluncur mengikuti morfologi lereng dan gas vulkanik yang bertekanan tinggi bergerak secara turbulen.

“Luncuran kencang itu karena tekanan gas sangat kuat, kecepatannya mencapai 300 kilometer per jam,” kata IGM Agung Nandaka, Kepala Seksi Metode dan Teknologi Mitigasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPTTK) Yoyakarta, Rabu (27/10).

Dalam buku tentang erupsi Merapi disebutkan Merapi memiliki dua lapangan solfatar Gendol 800 derajat celcius dan Woro 500 derajat celcius. Kedua lapangan solfatar itu melepaskan gas dengan komposisi H2O yang mencapai 90 persen mol pada status aktif normal. Sisanya merupakan senyawa gas SO2, CO2, H2S, CO, HCI dan H2O2 dan CH dalam kadar yang relatif kecil.

Akumulasi gas SO2 yang dilepaskan Merapi mencapai 300 ton per hari pada saat erupsi. Gas vulkanik pascaerupsi 2006 menunjukkan gas vulkanik memiliki kadar HO sebesar 90 persen mol.

Sedangkan abu vulkanik dengan ukuran tidak lebih dari 2 milimeter merupakan salah satu fragmen material yang dilontarkan selama proses erupsi. Abu vulkanik merupakan bagian dari tephra, istilah yang mengacu pada semua fragmen batuan vulkanik tanpa melihat ukurannya yang terlontar ke udara waktu letusan eksplosif. Pada erupsi 1930, abu Merapi sampai ke Pulau Madura. Sedangkan di Kota Yogyakarta terjadi hujan lumpur.

Karena panas dan kecepatannya luar biasa, kata Agung, sulit bagi warga yang berada di 5 kilometer dari puncak Merapi bisa melarikan diri. Kecuali jika para warga sudah mengungsi sebelum terjadi luncuran awan panas.

Dari visualisasi yang ditunjukkan pada erupsi 2006, sangat luar biasa indah. Wedus gembel membumbung tinggi dengan kepekatan yang tinggi. Awan panas yang bergumpal-gumpal itu baru terurai jika terhembus oleh angin.

Siapapun tak akan bertahan jika terkena langsung awan panas karena suhunya yang mencapai hingga 1.100 derajat celcius saat keluar kawah. Ketika meluncur sepanjang lerengnya hingga menerjang permukiman warga, suhu awan panas turun menjadi 600 derajat celcius.

Peneliti dan pengamat Gunung Merapi dari Institut Teknologi Bandung Asnawir Nasution mengatakan, letusan gunung setinggi 2.968 meter tersebut berasal dari gas magma tinggi. Kekuatannya sanggup menjebol kubah bebatuan seluas 10-11 juta meter kubik yang menutupi kawahnya.

Suhu magma yang mendesak ke atas itu diperkirakan mencapai 1.000-1.100 derajat Celcius. “Begitu kena uap air yang berasal dari hujan di permukaannya, langsung meledak,” katanya saat dihubungi Tempo, Rabu (27/10).

Proses desakan magma yang disebut aktivitas seismik tersebut selama ini terpantau oleh alat seismograf. Rekaman data alat tersebut biasa dipakai petugas pemantau dan badan geologi untuk menetapkan status suatu gunung.

Di lereng Merapi, ujar pensiunan Departemen Sumber Daya Energi di bagian gunung api tersebut, awan panas yang berisi magma dan campuran batu, kerikil, dan debu itu meluncur dengan kecepatan 60 kilometer per jam. “Suhunya yang telah menyesuaikan suhu permukaan mencapai 600 derajat celcius,” ujarnya. Karena itu, warga yang tinggal 7-8 kilometer dari puncak Merapi diminta mengungsi agar selamat dari terjangan awan panas.

Soal aktivitas dan bahaya Merapi berikutnya, kata Asnawir, sangat tergantung dari catatan seismograf selanjutnya. Adapun kemungkinan letusan besar yang memuntahkan material panas ke atas dan bukan menyamping ke lerang, bisa diketahui dengan meneliti kandungan silika pada sisa awan panas.

Jika silika tinggi, ujarnya, berarti batuan andesit di dalam kawah membawa tekanan gas yang tinggi pula. “Ledakannya bakal jadi mirip seperti Gunung Galunggung,” ujarnya. Abu gunung bisa menutupi daerah lain yang jaraknya puluhan hingga ratusan kilometer.

Sementara mengenai bencana tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikabarkan akan mengunjungi Kepulauan Mentawai yang terhantam gelombang tsunami. "Siang ini dijadwalkan sampai Padang," ujar Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, Rabu, (27/10).

Menurut dia,  Presiden akan terbang dari langsung dari Hanoi, Vietnam. "Presiden mempersingkat kunjungannya ke Hanoi dan memutuskan langsung ke sana," ujarnya. Seharusnya, Presiden berada di Vietnam sampai Sabtu esok.

Djoko menambahkan, sejauh ini pemerintah telah melaksanakan prosedur tanggap bencana menghadapi musibah di Kepulauan di barat Sumatera ini. "Sudah dikirimkan bantuan, pesawat-pesawat pengangkut sudah terbang kesana," ujarnya.

Musibah gelombang tsunami menghantam kepulauan Mentawai Senin kemarin. Gelombang dengan tinggi sekitar tiga meter menyapu permukiman penduduk yang terletak di pinggir pantai. Sesaat sebelumnya, gempa dengan skala 7,2 Skala Richter melanda kepulauan ini. Sampai saat ini, jumlah korban diperkirakan mencapai 113  orang, sedangkan korban hilang dilaporkan mencapai 500 orang.

 
MUH SYAIFULLAH l ANWAR SISWADI l FEBRIYAN

  • Send
  • Print