foto

Gunung Merapi mengeluarkan Guguran awan panas, Tempo/Andry Prasetyo



Merapi Masih Terus Mengancam

TEMPO Interaktif, Yogyarakta - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kementerian ESDM Surono memperkirakan, Gunung Merapi masih akan terus meluncurkan awan panas atau wedhus gembel, beberapa hari ke depan.

Menurut Surono, hal itu disebabkan aktivitas gunung tersebut masih sangat tinggi. “Karena itu wajar kalau masih seperti itu (mengeluarkan awan panas) sampai beberapa kali,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (29/10).

Namun ia tak bisa menyebut, umumnya sampai berapa lama gunung berapi beraktivitas seperti itu. “Andaikan saya tahu, ya pasti saya kasih tahu,” kata Surono.

Mengenai kemungkinan munculnya lava dingin, Surono mengatakan, sampai sekarang belum ada indikasi aktivitas tersebut terjadi. Pun dengan terbentuknya kubah lava baru, sejauh ini belum tampak tanda-tanda.

Ia hanya mengimbau masyarakat sekitar Merapi, untuk sementara menjauhi lokasi erupsi. “Yang jelas, selama statusnya masih ''Awas'', belum berubah, masyarakat harus menghindari lokasi.”

Pagi ini, Merapi kembali memuntahkan awan panas. Yakni pada pukul 06.10 WIB dengan radius 3-3,5 kilometer ke arah selatan, pukul 08.39 WIB, dan pukul 08.44 WIB dengan radius 3 kilometer.

Luncuran lava panas Gunung Merapi mulai sering terjadi pada Jumat (29/10). Tercatat luncuran awan panas yang populer dengan sebutan wedhus gembel ini setidaknya sebanyak Lima dengan masih mengarah ke selatan yaitu kali Gendol.

Ancaman seusai letusan adalah awan panas dan lahar dingin jika puncak hujan deras. “Jarak luncurnya hingga 4 kilometer, kecepatannya mencapai 300 kilometer per jam,” kata R Sukhyar, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral di Yogyakarta, Jumat (29/10).

Ia mengatakan, pascaeskplosif Merapi pada Selasa (26/10) lalu, ancaman berikutnya adalah luncuran awan panas dan lahar dingin saat terjadi hujan di puncak. Hasil pemantauan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta memang belum mendapatkan adanya indikator visual terbentuknya kubah lava baru seperti kebiasaan Merapi selama ini.

Sesuai kebiasaan Merapi, kata dia, setelah terjadinya letusan eksplosif memang diikuti dengan terbentuknya kubah aktif, awan panas yang meluncur dan guguran material dari puncak. Ancaman lahar dingin yang terutama di kali Gendol kini ada sekitar 6 juta meter kubik dan perkiraan hingga 8 juta meter kubik.

"Kalau ancaman eksplosif kemungkinan tidak ada lagi, kita menunggu pertumbuhan kubah lava baru. Potensi lain yaitu perhatian kubah lava 1911 dengan volume 7,5 juta meter kubik yang bisa terancam jika kestabilannya terganggu," kata Sukhyar.

Sukhyar menyebutkan melihat akibat letusan eksplosif pada Selasa lalu, terjadi direct blast yang mengarah langsung ke lereng Merapi. Kekuatan awan panas punya daya rusak yang besar menerjang apa saja di sepanjang lereng. Wajar jika di lereng selatan Merapi terlihat kerusakan cukup parah dan menghancurkan Dusun Kinahrejo. "Substansi awan panas itu terdiri dari debu, gas, pasir, panas dan kecepatan tinggi,” kata dia.

Jumlah pengungsi Merapi di 23 barak pengungsian diperkirakan mencapai 30 ribu orang. Para pengungsi perempuan dan anak-anak menghadapi persoalan logistik. “Untuk anak-anak sangat dibutuhkan pampers, sementara untuk perempuan dewasa membutuhkan celana dalam dan bra,” kata Koordinator Tim Peduli Merapi Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, Sudibyakto ketika dihubungin Tempo, Jumat (29/10).

Sudibyakto menyarankan para pemberi bantuan memberikan paket bantuan personal yang berisi kebutuhan mandi, softek, bra, dan celana dalam untuk perempuan. Sementara untuk anak-anak paketnya minyak kayu putih, pampers, celana dalam, susu, dan perlengkapan bayi untuk anak-anak.

Yang tak kalah penting, Sudibyakto juga menyarankan ada bantuan laundry massal. Ini sangat dibutuhkan lantaran terbatasnya sanitasi di masing-masing posko pengungsian. “Padahal kan mereka butuh ganti baju, karena saat mengungsi tidak membawa barang banyak dari rumah,” katanya.

Aulia Zaki, yang menjadi relawan di posko pengungsian Sleman mengatakan, tikar, susu untuk bayi, juga menjadi kebutuhan yang mendesak bagi pengungsi. “Soalnya anak-anak banyak yang cuma menggelar koran," katanya. Padahal jika malam hari udara sangat dingin.

ISMA SAVITRI l MUH SYAIFULLAH l PITO AGUSTIN l BERNADA RURIT l BASUKI RAHMAT

  • Send
  • Print