foto

Puluhan ribu pengungsi dari tiga kecamatan di Kabupaten Sleman memasuki Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jumat (5/11). TEMPO/Arif Wibowo



Masyarakat Lebih Sigap Dibanding Pemerintah

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Peran serta masyarakat dinilai sangat besar dalam menangani korban bencana Gunung Merapi, yang mencapai ratusan ribu orang. Menurut mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi''i Ma''arif, masyarakat jauh lebih sigap dibanding pemerintah dalam mengantisipasi membludaknya pengungsi.

"Begitu terjadi bencana, masyarakat langsung berduyun-duyun memberi bantuan tanpa pamrih," katanya kepada Tempo, Sabtu (6/11).

Syafi''i Ma''arif mengkritik, pemerintah seperti tak pernah belajar dari tragedi bencana yang kerap melanda. Ia menilai besarnya jumlah korban dalam letusan Merapi kali ini karena pemerintah gagal menyadarkan masyarakat akan bahaya letusan Merapi.

Erupsi dahsyat Gunung Merapi dua hari lalu menyebabkan jatuh korban jiwa sebanyak 116 orang dan luka-luka sebanyak 218 orang. Kejadian ini juga memicu arus pengungsian massif ke berbagai zona aman. Jumlah pengungsi membengkak menjadi 200 ribu jiwa dan berpotensi menimbulkan kerawanan jika tak tertangani dengan baik.

Tapi kerawanan itu bisa dihindarkan berkat kesigapan warga. Di Yogyakarta, misalnya, warga perkampungan bergotong-royong membangun dapur umum guna memenuhi kebutuhan logistik pengungsi.

Kepala Dukuh Kaliwaru, Condongcatur, Sleman, Sumadi, 56 tahun, dan istrinya, Tumilah, 51 tahun, menceritakan, begitu terjadi pengungsian di Stadion Maguwoharjo, Jumat lalu, warganya segera mengumpulkan kebutuhan logistik. "Makanan ringan, biskuit, pakaian, pakaian dalam segera kami kirim pagi itu," tutur Tumilah kepada Tempo, Sabtu.

Para pemuda dukuh itu pun terjun menyurvei kebutuhan pengungsi dan bergerak mencari dana. "Kami datangi rumah warga untuk sekileran," ucap Tumilah. Sekileran adalah sebutan masyarakat Yogyakarta untuk pencarian dana bagi orang yang sedang ditimpa musibah.

Mereka berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp 7 juta dan langsung dibelikan bahan kebutuhan pokok. Malamnya, mereka berhasil mengirim seribu bungkus nasi kepada pengungsi.

Warga di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak ketinggalan. Mereka mengumpulkan Rp 1.000 per orang untuk membantu pengungsi dan mendirikan dapur umum. "Saat gempa 27 Mei 2006, kami dibantu warga Sleman. Kini saatnya kami meringankan beban mereka," kata Bupati Bantul Sri Surya Widati, Sabtu.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta juga menggalang pengumpulan sarung untuk para pengungsi melalui gerakan satu orang satu sarung. "Sarung dipilih karena multifungsi," kata Direktur Eksekutif Walhi Yogyakarta Suparlan.

Sejumlah kampus di DIY juga segera meliburkan perkuliahan untuk memberi kesempatan kepada mahasiswanya menjadi relawan. "Sudah ada 1.000 mahasiswa yang antre," kata Kepala Humas Universitas Gadjah Mada, Suryo Baskoro, Sabtu.

Universitas Islam Indonesia (UII) juga melakukan hal serupa. Menurut Rektor UII Edy Suwandi Hamid, selain diberi kesempatan menjadi relawan, mahasiswa UII diberi rasa aman dengan liburnya perkuliahan. Kampus terpadu UII berada di Jalan Kaliurang Kilometer 14,5, yang termasuk zona tidak aman.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Jumat lalu, mengatakan penanganan pengungsi, baik dalam mobilisasi ke tempat pengungsian maupun pendistribusian bantuan, telah ditangani dengan cepat karena melibatkan masyarakat dan Tentara Nasional Indonesia. Sultan menyatakan pemerintah daerah siap berkoordinasi di bawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

FEBRIYAN | MUH SYAIFULLAH | PITO AGUSTIN RUDIANA | ARIF ARIANTO

  • Send
  • Print