foto

TEMPO/Dwi Narwoko



Investigasi BBM Ilegal, Pemred Pelangi Tewas Terapung

TEMPO Interaktif, Jakarta - Alfrets Mirulewan, Pemimpin Redaksi mingguan Pelangi Maluku, Jumat dini hari (16/12) ditemukan tewas secara mengenaskan. Korban ditemukan terapung di laut di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, dengan kondisi tubuh memar yang diduga akibat pukulan benda tumpul.

Menurut kerabatnya, Alfrets Mirulewan telah hilang sejak Selasa (14/12). "Alfrets sudah hilang selama tiga hari sejak Selasa lalu dan baru ditemukan pagi tadi dalam keadaan tewas di Pantai Nama," kata Hendrik Laudiun, salah seorang kerabat Alfrets yang dihubungi Tempo dari Kupang, Jumat (17/12).

Leksi Kikilai, rekan korban sesama wartawan, mengatakan Alfrets terakhir terlihat sedang melakukan liputan investigasi perdagangan gelap bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Maluku Barat Daya. Ia melakukan investigasi lantaran beberapa waktu belakangan terjadi kelangkaan BBM di kabupaten itu.

"Dia (korban) melakukan liputan investigasi dan meminta saya menemani," kata Leksi ketika dihubungi, Jumat (17/12).

Saat itu, tepatnya pada Selasa (14/12) malam, Leksi dan korban mengunjungi Pelabuhan Pantai Nama di Kabupaten Maluku Barat Daya untuk meliput transaksi gelap BBM. Keduanya mengendarai sepeda motor. Setibanya di sana, Leksi ditinggal sendirian di pelabuhan, sementara korban membuntuti sebuah truk yang mengangkut BBM dari pelabuhan menuju ke Desa Yawuru, yang berlokasi tak jauh dari situ.

Di tengah jalan membuntuti truk, kata Leksi, keberadaan korban kepergok oleh seorang penumpang truk. Penumpang itu sempat menanyai identitas korban. "Mereka juga sempat adu mulut karena pertanyaan dari penumpang truk. Tapi akhirnya dia (korban) terpaksa membuka identitasnya sebagai wartawan," ujar dia.

Usai itu, korban kembali ke pelabuhan untuk menemui Leksi. Mereka berdua sempat berbincang dengan petugas pelabuhan. Tak lama kemudian petugas mengarahkan keduanya keluar dari pelabuhan dan menutup pintu pelabuhan.

Ketika keduanya sedang berbincang di pelataran parkir pelabuhan, lanjutnya, ternyata truk yang tadi dibuntuti korban kembali masuk ke dalam pelabuhan. "Namun dengan sopir yang berbeda," kata dia.

Menduga ada kejanggalan, korban memutuskan kembali masuk ke pelabuhan untuk menanyai sopir truk itu. Mendapat pertanyaan dari korban, sopir truk mengatakan ia akan mengangkut BBM milik petugas kesyahbandaran (petugas pelabuhan). "Katanya untuk pembuatan rumah," imbuh Leksi menirukan ucapan sopir truk.

Setelah melakukan investigasi malam itu, korban lantas mengantar Leksi pulang ke kosnya. Kejadian itu merupakan saat terakhir Leksi berjumpa dengan korban. Leksi tidak pernah kontak dengan korban hingga mendengar kabar tewasnya korban dini hari tadi. "Dia baru ditemukan jam 03.00," kata dia.

Leksi, yang dari pagi tadi menunggu proses visum di Puskesmas Kisar, sempat melihat kondisi tubuh korban sebelum dibawa masuk ke puskesmas. Jenazah korban, kata Leksi, ditemukan dalam keadaan membengkak. Terdapat luka lecet di kedua kakinya. "Lengan kiri korban ada lebam kebiruan," ujarnya.

Leksi mengatakan, sepeda motor yang mereka gunakan ketika melakukan liputan investigasi pada Selasa malam ternyata dijumpai di pelabuhan. "Motor itu masih utuh, tidak ada lecet sedikit pun di bodinya," kata dia.

Sementara itu, Kepala Desa Wonreli, Edi mengaku pihaknya baru menerima laporan tentang temuan mayat di Pantai Nama, sehingga belum diketahui penyebab kematiannya apa. "Saya juga baru dapat laporan siang ini. Rencananya sore ini dimakamkan," katanya.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surabaya mendesak polisi mengungkap kasus tewasnya Alfrets Mirulewan secara transparan.

Sekretaris AJI Surabaya Andreas Wicaksono mengatakan pengungkapan kasus setidaknya bisa membuka tabir yang sebenarnya terhadap kematian Alfrets. "Informasi yang kami dapat, Alfrets meninggal dengan kondisi tubuh penuh memar bekas pukulan," kata Andreas.

YOHANES SEO | MAHARDIKA SATRIA HADI | ROHMAN TAUFIQ

Berita terkait:

 

  • Send
  • Print