Presiden Mesir Husni Mubarak berbicara dengan presiden Amerika Serikat Barack Obama di Gedung Putih, Washington, 1 September 2010. AP/Susan Walsh
Berita Terkait
Mubarak Tantang Obama
TEMPO Interaktif, Kairo - Presiden Mesir Husni Mubarak mengabaikan desakan Presiden Barack Obama agar dia segera mengalihkan kekuasaan kepada pemerintahan transisi yang diketuai oleh Wakil Presiden Omar Suleiman.
Kepada ABC News yang mewawancarainya, Mubarak mengatakan bahwa Obama tidak mengerti budaya orang Mesir dan apa yang terjadi bila ia berhenti sekarang sebagai Presiden Mesir. "Jika saya mundur sekarang pasti akan terjadi kekacauan," katanya.
Desakan pembentukan pemerintahan peralihan itu dilansir The New York Times kemarin. Pemerintahan transisi ini akan mengundang tokoh-tokoh dari oposisi, termasuk Ikhwanul Muslimin, yang selama ini dilarang oleh pemerintah Mesir. Organisasi oposisi terbesar di Mesir ini mulai melunak kemarin. Mereka menyatakan kesediaannya berdialog dengan pemerintah.
Dalam skema Washington, pemerintahan transisi ini akan mengundang tokoh-tokoh oposisi, termasuk kelompok terbesar Ikhwanul Muslimin, yang selama ini dilarang oleh pemerintah Mesir. Pemerintahan ini akan menyelenggarakan pemilihan umum yang transparan pada September nanti. Pemerintahan transisi juga dirancang akan mendapat dukungan penuh militer.
Untuk memuluskan rencana itu, Washington pun meminta dukungan para petinggi militer Amerika. Pejabat tinggi militer Amerika, Laksamana Muke Mullen, kepada jaringan televisi ABC mengatakan bantuan dana ke militer Mesir sebesar US$ 1,3 miliar tak akan dipotong. Ia mengaku telah mendapat jaminan dari para koleganya di Mesir bahwa tentara tak akan menembaki para demonstran.
Manuver cepat rencana pembentukan pemerintahan transisi itu pun disambut Ikhwanul Muslimin. Mereka menyatakan bersedia berdialog. Dalam keterangan persnya, mereka mengatakan perubahan sikap ini karena mereka tak ingin melihat lagi terjadinya kekerasan di Mesir. Padahal sebelumnya Al-Ikhwan kukuh berpendapat bahwa janji Mubarak tidak maju dalam pemilu September nanti tak cukup.
Partai oposisi, Partai Wafd dan Tajammu, juga menyatakan kesiapan berdialog. "Kami mau berdialog agar tak terjadi permusuhan di antara rakyat Mesir," kata Ketua Umum Partai Wafd, Dr Sayyid el-Badawi el-Shahhata, kepada wartawan Tempo, Qaris Tajudin, di Kairo kemarin.
Dari Brussel, Belgia, Kepala Hubungan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton menyatakan mendukung transisi kekuasaan itu, termasuk persiapan pemilu bebas dan adil. Ashton dijadwalkan mengunjungi Kairo pekan depan untuk bertemu dengan Omar Suleiman. Dia juga akan berjumpa dengan para aktivis dan kelompok-kelompok oposisi.
"Sudah jelas bahwa Mesir harus mengambil langkah untuk menunjukkan ada cara yang pasti, transparansi yang kredibel menuju transisi," ujar Perdana Menteri Inggris David Cameron kemarin.
Namun, tak peduli atas manuver politik para pemimpin dunia, sejuta orang di Kairo tetap menggelorakan tuntutan mundur kepada rezim Mubarak. "Hari ini adalah waktu keberangkatan Mubarak," kata salah seorang demonstran saat membeli makanan di Garden City, Tahrir Street, kepada Tempo.
Di pusat demonstrasi di Tahrir Square, massa dengan jumlah lebih besar dari massa pada Selasa lalu, yang mencapai sejuta orang, menggelar aksi yang mereka sebut sebagai "hari kepergian" Mubarak. Mereka tak mempedulikan kabar terbaru Ikhwanul Muslimin dan kekukuhan sikap sang presiden. Mereka bergemuruh meneriakkan "pergi, pergi!" sembari berjalan ke istana presiden.
"Atmosfer kejatuhan Mubarak mulai terasa di sini," kata wartawan Tempo, Qaris Tajudin, yang melaporkan dari tengah kerumunan massa di Tahrir Square tadi malam.
QARIS TAJUDIN (Kairo) | DWI ARJANTO| YR (NY Times, Al-Jazeera)
Berita terkait:
Amerika Godok Transisi Pemerintahan Mesir
Massa Pro Mubarak Tak Bisa Masuk Tahrir Square
Atmosfer Kejatuhan Mubarak Mulai Terasa