foto

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono saat acara ulang Tahun Tempo ke 40 di Hotel Four Season, Jakarta, Rabu (9/3). TEMPO/Arnold Simanjuntak



Presiden: Kekuasaan Eksekutif Makin Ramping

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mensyukuri konstitusi yang telah diamendemen sehingga membuat kekuasaannya sebagai presiden tidak sangat kuat.

"Sehingga, insya Allah, bagi presiden, siapa pun, tidak akan tergoda untuk menyalahgunakan kekuasaan," ujar dia dalam pidatonya pada perayaan ulang tahun ke-40 majalah Tempo di Hotel Four Seasons, Jakarta, tadi malam.

Menurut dia, empat kali amendemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membuat kekuasaan presiden menjadi ramping. Kekuasaan pun terkontrol dengan prinsip checks and balances. "Maka, kontrol atas kekuasaan yang ada sangat ketat agar tidak ada abuse of power. Karena power tends to corrupt, and absolute power tends to corrupt absolutely," ucapnya, mengutip pepatah terkenal yang dilontarkan politikus Inggris, Lord Acton, pada akhir abad ke-19.

Saban hari, Yudhoyono mengungkapkan, masih kerap ada pesan pendek, telepon, maupun surat yang datang kepadanya dari orang-orang yang mengira presiden bisa melakukan segalanya. "Mindset (pola pikir) lama, dipikir presiden bisa melakukan apa saja,” kata dia. “Di sinilah indahnya self-control untuk kita semua, untuk kebaikan dan kebajikan bangsa dan negara yang kita cintai."

Menurut Presiden, kekuasaan kini dipegang oleh para pimpinan eksekutif,
legislatif, yudikatif, media massa, dan masyarakat sipil. Para pemegang kuasa tersebut menjalankan fungsi checks and balances yang membuat pemerintah berjalan lebih adil dan transparan.

Yudhoyono menyatakan hubungan antara media massa dan penguasa lazimnya berada dalam kondisi cinta dan benci. "Hate and love relationship," ujarnya. Hubungan itu, Presiden melanjutkan, tentu berbeda-beda antara di negara otoriter, semiotoriter, dan demokratis.

Dia melanjutkan, di Indonesia yang demokratis, relasi tersebut sepatutnya bukan dibangun atas dasar ketakutan. "Saya tidak tahu, barangkali sekarang penguasa yang justru takut kepada pers," ujar Yudhoyono, berkelakar. Kontan, seisi ruangan tertawa saat presiden yang biasanya serius itu melontarkan canda.

Ia pun mengingatkan adanya etika yang selayaknya dipegang oleh para penguasa. Etika itu adalah menggunakan kekuasaannya bagi kebaikan, untuk keperluan yang penting, dan menjaga norma kepatutan. Jika penguasa berpegang teguh pada ketiganya, tak bakal ada konflik dalam dirinya saat berkuasa. "Selamat ulang tahun Tempo, semoga terus mengisi ruang demokrasi, makin berjaya, makin kritis," kata Presiden.

Hadir dalam perayaan tersebut sejumlah tokoh nasional. Mereka, antara lain, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa; Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto; Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu; dan juru bicara presiden bidang internasional, Teuku Faizasyah. Juga tampak Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md., pengacara senior Adnan Buyung Nasution, serta sejumlah direktur utama perusahaan negara.

Untuk menghibur hadirin, penyanyi Rossa dan grup musik Slank menyumbangkan suaranya. Adapun seniman Butet Kertaredjasa unjuk gigi dengan kepiawaiannya bermonolog. Dalam perayaan bertajuk “Untuk Publik, Untuk Republik" ini, Tempo juga menyerahkan Life Time Achievement Award untuk Ali Sadikin, salah satu pendiri majalah Tempo.

BUNGA MANGGIASIH | PINGIT ARIA | DWI WIYANA

Berita terkait:

 Presiden Panggil Goenawan Mohamad ''Mas''

 Presiden Hadiri Jamuan Makan Malam Tempo 

  • Send
  • Print