foto

Asap membumbung dari reaktor nuklir Fukushima Daiichi (14/3). REUTERS/NTV via Reuters TV



Reaktor Nuklir Jepang Meledak Lagi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebuah ledakan baru mengguncang kompleks reaktor nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, Senin (14/3).

Badan keselamatan nuklir Jepang mengatakan pihaknya tidak dapat mengkonfirmasi apakah ledakan hidrogen pada reaktor nomor 3 itu telah menyebabkan kebocoran radioaktif yang tidak terkendali.

Operator sebelumnya menghentikan injeksi air laut ke dalam reaktor, yang menyebabkan kenaikan tingkat radiasi dan tekanan. Pemerintah telah memperingatkan bahwa ledakan itu mungkin karena penumpukan hidrogen di bangunan reaktor.

Sebelumnya, Sabtu lalu, reaktor nuklir 1 di Fukushima Daiichi meledak. Sebuah tayangan televisi yang disiarkan kantor berita lokal memperlihatkan adanya asap yang keluar dari pembangkit milik perusahaan Tokyo Electric Power Corp (Tepco).

Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan, situasi di reaktor nuklir yang rusak dihantam gempa masih mencemaskan. Pihak berwenang melakukan yang terbaik untuk mencegah kerusakan menyebar.

Jepang saat ini tengah berjuang mencegah bencana nuklir dan merawat jutaan orang tanpa air menyusul krisis terburuk sejak Perang Dunia II, setelah gempa dan tsunami yang diperkirakan menewaskan lebih dari 10 ribu orang itu. "Kami sedang diawasi apakah kami, orang-orang Jepang, dapat mengatasi krisis ini," ujar Kan.

Pejabat Jepang telah mengkonfirmasi tiga reaktor nuklir di utara Tokyo berada pada risiko memanas (overheating), menimbulkan kekhawatiran kebocoran radiasi yang tidak terkendali.

Saat Kan berbicara, insinyur tengah bekerja mati-matian untuk mendinginkan reaktor yang bermasalah. Jika mereka gagal, wadah dari inti reaktor bisa mencair, atau bahkan meledak, melepaskan bahan radioaktif ke atmosfer.

Kantor berita Kyodo mengatakan 80 ribu orang telah dievakuasi dari radius 20 kilo meter sekitar pabrik nuklir bermasalah. Mereka bergabung dengan lebih dari 450 ribu pengungsi lainnya di timur laut pulau Honshu.

Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tokyo, Jepang, mendata ada 82 warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Fukushima. Dari jumlah tersebut, 19 orang telah diketahui keberadaannya, 3 WNI dalam radius 70 kilometer dari pembangkit sudah direlokasi, dan 63 orang masih belum diketahui keberadaannya. “Tim di sana masih melakukan pendataan, bisa jadi mereka sudah direlokasi oleh pemerintah Jepang,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tenne saat dihubungi, Senin (14/3).

Hingga hari ketiga sejak gempa dan tsunami mengguncang Jepang, Kedutaan Besar RI di Tokyo belum mendapat data pasti berapa jumlah warga Indonesia yang hilang atau meninggal.

Berdasarkan data di KBRI, WNI yang bermukim di Prefektur Miyagi dan Iwake mencapai 414 orang. Bila dikurangi dengan jumlah WNI yang sudah direlokasi, tim masih mencari 300 orang yang belum diketahui keberadaannya. “Saat ini belum bisa dipastikan kalau mereka hilang atau meninggal,” katanya. Untuk mengetahui keberadaan mereka,  Tim Relief KBRI melakukan penyisiran ke rumah sakit dan tempat penampungan di dua prefektur yang mengalami kerusakan paling parah itu.

Menurut dia, pendataan WNI mengalami beberapa kendala geografis. Karena kondisi kota dan jalanan yang rusak parah, serta larangan Pemerintah Jepang untuk memasuki beberapa lokasi karena dianggap masih dalam kondisi bahaya. “Sinyal telepon seluler juga masih sulit. Jadi semua masih menunggu perkembangan di lapangan,” kata Tenne.

Sementara itu, di Kota Oarai, Jepang, sekitar 100 WNI masih terisolasi pasca peristiwa gempa dan tsunami di negeri itu Jumat lalu.  Meski lokasi Oarai sekitar 150 kilometer sebelah timur Tokyo, dan bukan wilayah terparah akibat gempa dan tsunami, namun daerah itu sulit dijangkau. “Kondisi tersebut dikarenakan ruas jalan yang terputus menuju Oarai,” kata Sekretaris Kedutaan Besar RI di Tokyo, Jane Runkat dalam surat elektroniknya, Senin (14/3).

Karena terisolasi, lanjut dia, persediaan bahan makanan di Oarai menjadi sangat tipis. Bahkan pengungsi mendapat jatah makanan yang amat terbatas. Saat ini Tim Bantuan Logistik KBRI Tokyo telah tiba di dua titik pengungsi di kota itu. “Tim membawa berbagai bantuan, seperti biskuit, mie instan, minuman botol, obat-obatan, perlengkapan sanitari, dan kebutuhan bayi,” kata Jane.

REUTERS| ERWIN Z| CORNILA DESYANA

 

Berita Terkait:

Zat Radioaktif Ditemukan 96 Kilometer dari Reaktor Nuklir Jepang 

Tujuh Terluka Akibat Ledakan Pembangkit Fukushima  

Negara Tetangga Cemas Kebocoran Pembangkit Nuklir Jepang 

  • Send
  • Print