foto

Ilustrasi. (Unay Sunardi/TEMPO)



Teror Bom untuk Kacaukan Publik

TEMPO Interaktif, Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Rizal Darma Putra, menilai terjadi kesimpangsiuran dalam menduga pelaku dan motif di balik rangkaian teror bom belakangan ini.

Dia menunjuk kepolisian menduga pelakunya adalah teroris radikal Islam. Tapi salah satu target pengeboman, Ulil Abshar-Abdalla, menyatakan pelaku bermotif politik. "Kesimpangsiuran ini tak boleh terjadi," kata dia di Jakarta kemarin. "Kalau dibiarkan, bakal ada yang memanfaatkan momen ini."

Rizal menengarai penebaran bom-bom paket tersebut berpotensi menimbulkan konflik horizontal di kalangan masyarakat. "Apalagi bom-bom tersebut bertebaran pada saat konflik di kalangan elite dan masyarakat tengah meruncing."

Dia meminta pemerintah melalui aparat kepolisian secepatnya memberi penjelasan kepada masyarakat tentang pelaku dan motif penyerangan. "Jika aparat tak dapat memberi keterangan, akan menimbulkan kebingungan di masyarakat."

Kemarin serangkaian teror ancaman bom kembali mengusik Ibu Kota. Salah satu bom, yakni di gardu listrik dekat perumahan Kota Wisata Cibubur, meledak saat sedang berusaha diamankan Tim Gegana. Satu bom lainnya kembali dikirim ke Kantor Berita Radio 68H dan bisa dijinakkan aparat dengan diledakkan.

Dari gedung Dewan Perwakilan Rakyat di kawasan Senayan, petugas mengamankan sebuah paket yang ditujukan kepada Wakil Ketua DPR. Paket tersebut dinilai mencurigakan karena tanpa identitas dan alamat pengirim.

Sebelumnya, berbagai teror bom paket sudah menyasar beberapa figur, seperti Ulil Abshar-Abdalla, Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gories Mere, pemimpin Pemuda Pancasila Yapto S. Suryosumarno, dan musisi Ahmad Dhani.

Rizal Darma ragu pelaku teror dari kelompok radikal Islam. Kata dia, kelompok ini biasanya mendeklarasikan penyerangan yang mereka lakukan untuk menegakkan eksistensi kelompok. "Sekaligus menunjukkan bahwa lawannya kalah," kata dia. Rizal condong berpendapat teror bom ini dilakukan untuk menciptakan ketakutan publik secara massif.

Pengamat intelijen Dynno Chressbon mengatakan polisi sudah mendeteksi para pelaku di sekitar Bogor dan Jawa Barat. "Mereka saling berkomunikasi di daerah itu," katanya. Ia juga mendapat informasi bahwa pelaku sudah menyiapkan 37 paket bom.

Adapun Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan para pelaku tak lagi berkomunikasi menggunakan perangkat teknologi informasi. "Tapi komunikasi secara langsung dan sangat tertutup," katanya.

ANANDA BADUDU | RAMIDI | DIMAS A | JOBPIE S

Berita terkait:

 

  • Send
  • Print