foto

Seorang mahasiswa menunjukan poster kecil saat kampanye hemat energi listrik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Kamis (20/11). TEMPO/Yosep Arkian



Earth Hour, Seruan Bagi Para Pemimpin

TEMPO Interaktif - Earth Hour! Kredo itu sungguh ditujukan untuk mengajak penghuni bumi hemat energi. Sabtu, 26 Maret pukul 20.30 wib, dunia serentak mematikan listrik selama satu jam .

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon dan sejumlah pemimpin dunia mengajak semua orang mengikuti Earth Hour 2011. "Markas PBB di New York juga akan mematikan lampu selama satu jam," kata Ban Ki-Moon dalam pesannya kemarin.

Ajakan serupa disampaikan Perdana Menteri Inggris David Cameron, Perdana Menteri Australia Julia Gillard dan Presiden Kolombia Juan Manuel Santos. Seruan senada disampaikan Uskup Agung Emeritus Desmond Tutu.

Perubahan iklim, kata Desmon Tutu, adalah krisis terbesar yang dihadapi umat manusia dewasa ini. Tidak peduli asal ras, budaya, kelas, kebangsaan atau agama. Krisis ini, ujar Desmon kemarin, mempengaruhi setiap organisme hidup di planet Bumi, termasuk kita.

Earth Hour merupakan kampanye perubahan iklim global WWF (World Wide Fund for Nature). Individu, pelaku bisnis, dan pemerintah dari berbagai negara akan mematikan lampu selama satu jam sebagai pernyataan dukungan upaya penanggulangan perubahan iklim.

Earth Hour itu sendiri berawal dari kampanye kolaborasi antara WWF-Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett untuk kota Sydney. Tujuannya mengurangi gas rumah kaca di kota tersebut sebanyak 5% pada tahun 2007.

Keberhasilan kampanye ini diharapkan dapat diadopsi masyarakat, komunitas, bisnis, dan pemerintah lain di seluruh dunia. Mereka ingin menunjukkan bahwa sebuah aksi individu yang sederhana sekalipun bila dilakukan secara massal akan membuat kehidupan di Bumi menjadi lebih baik.

Menurut Nazir Foead, Director of Governance, Community, and Corporate Engagement World Wide Fund for Nature (WWF)-Indonesia, kampanye ini mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di Earth Hour saja.

"Tetapi aksi kecil ini harus terus dibuktikan setiap hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca dan diikuti dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan," katanya. Perilaku itu antara lain menggunakan kendaraan umum atau bersepeda untuk bepergian, hemat air, menanam pohon, dan lain-lain.

Antusias publik makin meluas. Pada 2009 dan 2010, Earth Hour menjadi kampanye lingkungan hidup terbesar dalam sejarah karena berhasil meraih 1,5 milyar pendukung dari 4616 kota di 128 negara.

Untuk tahun ini, ada lima kota di Indonesia yang berpartisipasi yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Selain itu, WWF juga mengangkat inisiatif sumber energi baru terbarukan di lokasi kerja kami di daerah terpencil Indonesia yang belum pernah mendapatkan akses listrik.

"Kami telah membangun pembangkit listrik mikrohidro di Kalimantan Barat. Setelah Earth Hour 2011, akan dibangun lagi sebuah pembangkit listrik mikrohidro di Kalimantan Tengah," kata Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia Nyoman Iswarayoga.

Menurut Nyoman, hajatan ini menjadi momentum mengingatkan masyarakat pada emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan kontribusinya kepada perubahan iklim.

Di Jakarta, kata Verena Puspawardani dari WWF-Indonesia, ada 400 pengelola gedung, hotel, dan mal yang akan mematikan lampunya selama satu jam. Wilayah itu antara lain kawasan Monas, Istana Negara, dan Bundaran HI.

Jika 10 persen warga Jakarta mematikan dua buah lampu selama sejam, ujar Verena, listrik bakal dihemat sekitar 300 megawatt. Jumlah ini setara dengan listrik untuk menyalakan 900 desa atau mengurangi emisi sekitar 267 ton CO2.

Ban Ki-Moon dan Desmond Tutu menyebut Earth Hour merupakan tindakan simbolis yang diharapkan menjadi bagian gaya hidup setiap individu. Bagi pemimpin pemerintah dan dunia usaha, kata Desmond Tutu, kegiatan ini merupakan seruan nyaring melakukan perubahan. "Kami mohon Anda mengambil tindakan mengatasi perubahan iklim sekarang."

UNTUNG WIDYANTO

  • Send
  • Print