foto

Tiga tersangka pembunuh Irzen Octa, nasabah Citibank. ANTARA/DHONI SETIAWAN



Kematian Octa Diduga Akibat Dihantam Benda Tumpul

TEMPO Interaktif, Jakarta - Laporan Pemeriksaan Sementara menunjukkan bahwa penyebab kematian Irzen Octa, nasabah kartu kredit Citibank, adalah akibat pecahnya pembuluh darah di bilik otak dan di bawah selaput keras otak. Hal itu tertera dalam laporan yang ditandatangani dokter spesialis forensik Ade Firmansyah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang salinannya diterima Tempo.

Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot membenarkan dokumen yang ditunjukkan Tempo tersebut. Dalam dokumen itu juga diketahui pada sekat hidung Octa ditemukan bekas luka, dan dari kedua lubang hidungnya keluar darah.

Selain itu, wajah korban terlihat ungu gelap, terdapat bekuan darah di bilik otak dan memar di batang otak. "Tetapi ini kan (laporan) yang sementara. Kami memiliki versi finalnya," ujar dia kemarin. Gatot tak bersedia mengungkap laporan final itu karena merupakan wewenang pengadilan.

Koran Tempo mencegat Gatot di sela rapat dengar pendapat antara manajemen Citibank dan Komisi Keuangan DPR di gedung DPR kemarin. Dalam rapat tersebut Gatot mengungkapkan kronologi kasus kematian Irzen di ruang negosiasi Citibank di lantai 5 Menara Jamsostek, Jakarta Selatan, Selasa pekan lalu.

Saat itu Irzen memenuhi undangan untuk menyelesaikan tagihannya, yang ternyata membengkak dari Rp 48 juta menjadi Rp 100 juta. Dia menghadapi penagih utang yang dipekerjakan Citibank di ruang Cleopatra selama sekitar satu jam.

Menurut Gatot, yang mengutip keterangan empat penagih utang yang telah ditetapkan menjadi tersangka, saat itu Irzen agak sedikit ngeyel. Dalam negosiasi itu Irzen sempat terjatuh ke lantai dan pingsan. Namun A, D, dan H, negosiator Citibank, mengabaikannya. Head of Collection, BT, juga tak bereaksi ketika mendapat kabar perkembangan itu. "Ah, pura-pura. Nanti juga bangun sendiri," kata BT ditirukan Gatot.

Tubagus, Bendahara Partai Pemersatu Bangsa, menyatakan, saat ia menjemput rekannya itu pada pukul 13.30, di ruang negosiasi, Irzen dibiarkan telentang di lantai dan sudah tak bernapas. Selain itu, terlihat darah di bawah hidung. Tangannya biru, dan tangan kanan memar. "Waktu saya angkat ke kursi, belakang kepalanya terlihat bonyok," katanya kepada Tempo kemarin. Tubagus mendatangi kantor Citibank karena ditelepon A, yang mengabarkan Irzen pingsan.

Polisi, kata Gatot, juga menemukan bercak darah di tembok dan gorden ruangan itu ketika datang ke lokasi. Sampel darah sudah diambil dan diperiksa di laboratorium forensik untuk dipastikan apakah itu darah Irzen atau bukan.

Citi Country Officer (CCO) Citibank untuk Indonesia, Shariq Mukhtar, di depan anggota DPR berkeras tidak ada kekerasan terhadap Irzen. "Kami tidak meyakini bahwa ada yang melukai Bapak Irzen Octa. Saya tetap bertahan apa yang saya katakan adalah benar," kata Mukhtar, menjawab pertanyaan anggota Komisi Keuangan Harry Azhar Azis.

WURAGIL | FEBRIYAN | PINGIT ARIA | FEBRIANA | PUTI

Berita terkait:

Kronologi Kematian Irzen Octa 

Keluarga Irzen Tuding Penyidikan Polisi Janggal

Polisi Tetapkan Tersangka Baru Pembunuh Irzen 

  • Send
  • Print