foto

Wartawan senior Rosihan Anwar (kiri) bersama mantan Menteri Penerangan BM Diah (kanan) saat menghadiri pemakaman Suardi Tasrif di Jakarta, 1991. TEMPO/ Rully Kesuma



Bubur Terakhir Rosihan Anwar

TEMPO Interaktif

, Jakarta - Wartawan senior Rosihan Anwar hari ini tutup usia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC), Kuningan, Jakarta Selatan. Ia kembali dibawa lagi ke rumah sakit setelah mengeluh sesak napas.

Padahal, kemarin ia baru pulang setelah menjalani operasi jantung di Rumah sakit Harapan Kita. Menurut dokter Puherbianto dari unit darurat Rumah Sakit MMC, lelaki 89 tahun itu tiba di ruang ICU pukul 8.15 dalam keadaan meninggal. "Beliau sudah usia lanjut, baru saja operasi jantung 1 bulan lalu,” katanya.

 

Menurut cucu almarhum, Alma Fanniya, kakeknya itu sempat sarapan bubur di teras rumah sebelum sesak napas muncul. Wartawan lima zaman ini tinggal di Jalan Surabaya nomor 13, Menteng, Jakarta Pusat. “Ketika napasnya hilang kita langsung bawa Opa ke RS untuk bantuan napas, ternyata belum sampai di rumah sakit, Opa meninggal," ujarnya.

Tentu saja, kabar meninggalnya Rosihan ini ramai jadi perbincangan. Lusinan pejabat, selebritas, dan tokoh, berdatangan untuk melayat ke rumah duka. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

Maklum saja, ia merupakan salah satu tokoh pers tanah air. Ia juga saksi sejarah perjalangan bangsa Indonesia mulai dari penjajahn Belanda dan Jepang hingga meraih kemerdekaan. Ia juga mengalami enam kali pergantian presiden, mulai dari Soekarno, Soeharto, B.J Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Tokoh pers sekalgus ahli hokum S. Tasrif menjuluki Rosihan sebagai sebuah catatan kaki dalam sejarah.

Berkat kiprahnya di dunia jurnalistik itulah, ia mendapat penghargaan Bintang Mahaputra. Tanda jasa inilah yang membuat mendiang Rosihan pantas dikuburkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Empat tahun lalu, Persatuan Wartawan Indonesia mengganjar dia dengan Life Time Achievement Award.

Pengalamannya sebagai jurnalis sangat luar biasa. Rosihan merintis karier sebagai reporter surat kabar Asia Raya. Ia kemudian mendirikan majalah Siasat, juga koran Pedoman. Dia juga pengajar wartawan.

Ketika agresi Belanda kedua, sebagai wartawan Pedoman, ia ikut sibuk di Yogyakarta, ibu kota Republik waktu itu. Di masa Kemerdekaan, selama enam tahun sejak 1968, ia sempat menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ketika kedudukannya digantikan oleh Harmoko (Menteri Penerangan di era Presiden Soeharto), Rosihan menjadi Ketua Pembina PWI Pusat. Sejak itu pula ia banyak menerima ajakan memberikan ceramah dan menjadi penatar berbagai Karya Latihan Wartawan (KLW).

Bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan perusahaan film Perfini. Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, ia giat mempromosikan film Indonesia di luar negeri.

Rosihan anak keempat dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Anwar Maharaja Sutan, seorang demang di Padang. Menjelang kelahirannya, sang ayah berkelahi dengan perampok. Seolah-olah hendak melestarikan semangat perlawanannya kepada kebatilan, bayi lelaki yang lahir setelah perkelahian itu diberi nama Rozehan, berarti sinar atau cahaya. Nama pemberian orang tuanya itu belakangan berubah menjadi Rosihan.

Rosihan menikahi Siti Zuraida Binti Moh. Sanawi dan dikaruniai tiga anak. Istrinya, Siti Zuraida lebih dulu menghadap Sang Khalik pada umur 87 tahun, Sepetmber 2010. Kini Rosihan menyusul kekasihnya itu.

Menurut rencana, ia dimakamkan di TMP Kalibata selepas salat Asar. Selamat jalan Pak Ros.

H. ROSIHAN ANWAR

Lahir:
Kubang Nan Duo, Solok, Sumatera Barat, 10 Mei 1922

Agama:
Islam

Pendidikan:
- HIS, Padang (1935)
- MULO, Padang (1939)
- AMS-A II, Yogyakarta (1942)
- Drama Workshop, Universitas Yale, AS (1950)
- School of Journalism, Columbia University New York, AS (1954)

Karir:
- Reporter Asia Raya, (1943-1945)
- Redaktur harian Merdeka, (1945-1946)
- Pendiri/Pemred majalah Siasat (1947-1957)
- Pendiri/Pemred harian Pedoman, (1948-1961)
- Pendiri Perfini (1950)
- Kolumnis Business News, (mulai 1963)
- Kolumnis Kompas, KAMI, AB (1966-1968)
- Koresponden harian The Age, Melbourne, harian Hindustan Times New Delhi, Kantor Berita World Forum Features, London, mingguan Asian, Hong Kong (1967-1971)
- Pemred harian Pedoman, (1968-1974)
- Koresponden The Straits, Singapura dan New Straits Times, Kuala Lumpur (1976-1985)
- Wartawan Freelance (mulai 1974)
- Kolumnis Asiaweek, Hong Kong (mulai 1976)
- Ketua Umum PWI Pusat (1970-1973)
- Ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978)
- Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat (mulai 1983)

Kegiatan Lain:
- Wakil Ketua Dewan Film Nasional (mulai 1978)
- Anggota Dewan Pimpinan Harian YTKI (mulai 1976)
- Committee Member AMIC, Singapore (mulai 1973)
- Dosen tidak tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia (mulai 1983)

Karya:
- Ke Barat dari Rumah, 1952
- India dari Dekat, 1954
- Dapat Panggilan Nabi Ibrahim, 1959
- Islam dan Anda, 1962
- Raja Kecil (novel), 1967
- Ihwal Jurnalistik, 1974
- Kisah-kisah zaman Revolusi, 1975
- Profil Wartawan Indonesia, 1977
- Kisah-kisah Jakarta setelah Proklamasi, 1977
- Jakarta menjelang Clash ke-I, 1978
- Menulis Dalam Air, autobiografi, SH, 1983
- Musim Berganti, Grafitipers, 1985

Dimas (PDAT)/Dianing Sari/Febriyan/Faisal Assegaf

Berita Terkait:

Wakil Presiden Melayat Almarhum Rosihan Anwar

 Rosihan Wafat, Ucapan Duka Mengalir di Twitter

Rosihan Dirawat di Tiga Rumah Sakit Sebelum Wafat

 

  • Send
  • Print