Pelaku Bom Cirebon Diduga Jaringan Lokal  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Markas Besar Kepolisian RI menduga pelaku peledakan bom bunuh diri di Masjid Al-Dzikra, Cirebon, Jawa Barat, adalah jaringan lokal. "(Jaringan) mungkin jangkauannya lokal, belum besar," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam saat dihubungi kemarin.

Pernyataan Anton itu didasarkan pada target lokasi yang dipilih pelaku, yakni Kota Cirebon. Polisi menyatakan belum menemukan kaitan antara pelaku dan jaringan teroris lama. Hal ini, kata Anton, baru bisa dipastikan setelah polisi menganalisis dan memastikan identitas pelaku.

Direktur Program Imparsial, Al-Araf, mengatakan kelompok jaringan lokal mungkin saja bermain dalam aksi kekerasan tersebut. Apalagi, menurut dia, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya merupakan tempat aliran agama Islam berkembang pesat. Jawa Barat, kata dia, juga rentan terhadap konflik agama. "Di sana cukup banyak komunitas keyakinan," katanya kemarin.

Meski demikian, banyak kemungkinan yang bisa muncul. Apalagi Jawa Barat merupakan wilayah yang padat dengan penduduk. Ia juga mengingatkan unsur kekerasan itu bisa ditumpangi kepentingan lain. Misalnya, mungkin selama ini ada kesalahan kepolisian yang menimbulkan dendam. Atau ada kepentingan politik untuk menjatuhkan kepolisian. "Banyak kemungkinan yang bisa diduga."

Sosiolog Universitas Sriwijaya, Alfitri, menilai bom di kompleks kepolisian itu merupakan ungkapan kekecewaan kelompok tertentu terhadap penegak hukum. "Saya melihat, kalau sebelumnya mereka membenci simbol yang merepresentasikan negara asing, belakangan membenci institusi formal."

Sebuah bom telah diledakkan saat dilaksanakan salat Jumat di Masjid Al-Dzikra, kompleks kantor Kepolisian Resor Kota Cirebon, pada 15 April lalu. Polisi menduga peledakan tersebut merupakan aksi bunuh diri. Insiden itu melukai sedikitnya 26 polisi, termasuk Ajun Komisaris Besar Herukoco. Seorang yang tewas diduga pelaku peledakan bom bunuh diri.

Kepolisian menyatakan identitas seseorang yang tewas itu hampir dipastikan bernama Muhammad Syarif, warga Cirebon berusia 25 tahun. "Sembilan puluh persen identitas pelaku teridentifikasi," kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Suparni Parto. "Sisanya tinggal memastikan melalui tes DNA dengan anggota keluarganya yang sudah dibawa ke Jakarta."

Dua warga Cirebon, yang diduga orang tua Syarif, yakni Ratu Srimulat, 56 tahun, dan Gofur, 60 tahun, kemarin dibawa ke Jakarta. Hasil pencocokan DNA akan diketahui hari ini.

 
Polisi sudah memeriksa 30 saksi untuk mengungkap kasus tersebut. Namun motif, bahan, dan jenis rangkaian bom belum diketahui. Hasil penyidikan sementara menunjukkan pelaku menggunakan bom gotri dan diramu dengan material paku, mur, serta baut.

Dalam beberapa hari terakhir, polisi mulai memperketat pengamanan markasnya di berbagai daerah. Polda Jambi, misalnya, memeriksa pengunjung yang hendak ke masjidnya dengan detektor logam. "Kami menjalankan instruksi meningkatkan kewaspadaan," kata Kepala Polda Jambi Brigadir Jenderal Bambang Suparsono.

Dalam perkembangan lain, kemarin sebuah tas plastik hitam yang mencurigakan ditemukan di kompleks gedung Sinode GMIM, yang merupakan kantor pusat seluruh gereja wilayah Sulawesi Utara. Benda ini langsung diledakkan di halaman gedung Sinode oleh polisi. Pemimpin Gegana Polres Tomohon, Inspektur Dua Roni Hendry, mengaku tas ini berisi bom berkekuatan ledak rendah.

Tokoh Muhammadiyah, Syafi''i Ma''arif, mengajak umat beragama tak terpengaruh aksi teror di rumah ibadah. Para pemuka agama telah sepakat menentang aksi itu. "Umat jangan terprovokasi," kata Syafi''i. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj juga meminta agar umat beragama bersatu menjaga keamanan dan kebersamaan.

RIKY F | EKO ARI W | ERICK PH | SYAIPUL B | IVANSYAH | ISA ANSHAR J | PUR

 

Berita Terkait;

Pelaku Bom Cirebon, Kakak Artis Sinetron

Pelaku Bom Cirebon Suka Menendangi Orang Tidur

Pagi Ini, Kapolresta Cirebon Diterbangkan ke Jakarta

  • Send
  • Print