foto

Seorang anggota polisi menggunakan pakaian penjinak bom berjalan di sekitar tempat penemuan beberapa bahan peledak, di dekat sebuah gereja di Serpong, Banten. AP



Teroris Baru Ingin Aksinya Disiarkan Langsung

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepolisian mengungkap pola baru dalam aksi jaringan teroris. Menurut polisi, kelompok baru teroris yang ditangkap dalam beberapa hari terakhir menginginkan aksi mereka disiarkan langsung oleh media, baik di dalam maupun luar negeri.

Kepala Bagian Penerangan Umum Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengatakan modus baru teror itu terungkap setelah polisi memeriksa P (biasa dipanggil Pepi) yang diduga otak rencana peledakan pipa gas di kawasan Serpong, Tangerang Selatan.

Menurut Boy, Pepi telah menawari seorang juru kamera Global TV, IF (diduga Imam Firdaus), menyiarkan detik-detik pengeboman pipa gas di dekat Gereja Christ Cathedral, Gading Serpong, Tangerang.

Polisi mengatakan Pepi mengaku menawari Imam mengontak wartawan asing agar turut menyiarkan aksi yang tak sempat mereka lakukan itu ke seluruh penjuru dunia. "IF ditawari oleh P jasa untuk liputan internasional," kata Boy di Mabes Polri kemarin.

Kamis lalu, polisi menemukan bahan peledak berupa karbit sebanyak 120 kilogram di gorong-gorong dekat pipa distribusi gas milik Perusahaan Gas Negara. Menurut polisi, bahan peledak dalam lima tas itu dirancang meledak pada Jumat, pukul 09.00 WIB, ketika umat Katolik sedang menjalankan misa Paskah di Gereja Christ Cathedral.

Keterangan polisi ini senada dengan isi sebuah artikel seruan jihad yang dimuat situs Arrahmah.com pada 23 Maret lalu. Artikel berjudul "Jihad Fardiyah, Antara Sebuah Kewajiban dan Strategi Perang" itu antara lain menegaskan pentingnya peran media dalam mendukung aksi-aksi jihad individual.

"Jadi peran media itu haruslah seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, dapat menggentarkan musuh dan di sisi lain bisa mentarbiyah (mendidik) umat," demikian tertulis dalam artikel tersebut.

Pada bagian lain, Boy menambahkan, Pepi telah bertemu dengan Imam sebanyak dua kali, sebelum tiga paket bom buku disebarkan di Jakarta pertengahan Maret lalu. Namun polisi belum memastikan apakah Imam menyanggupi tawaran Pepi atau tidak.

Meski belum bisa memastikan peran Imam, Jumat dinihari lalu, Detasemen Khusus 88 Antiteror tetap menangkap mantan pekerja infotainmen itu. Imam pun menjadi orang ke-20 yang ditangkap satuan antiteror dalam tiga hari berturut-turut di Aceh, Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Dari hasil penggeledahan di rumah Imam di Jakarta, kata Boy, polisi juga belum bisa menyimpulkan peran Imam. "Saat ini masih dilakukan pendalaman," ujar Boy.

Jika dalam waktu 7 x 24 jam penyidik tidak menemukan fakta-fakta hukum yang bisa dijadikan bukti, menurut Boy, "IF akan dikembalikan, tidak akan ditahan." Boy pun menambahkan bahwa sang juru kamera tidak memiliki catatan kriminal, apalagi mengisi daftar pencarian orang milik polisi.

Direktur Pemberitaan Global TV Arya Mahendra S. mengatakan perlu memastikan dulu secara langsung apakah IF yang dimaksud polisi benar juru kamera Global TV bernama Imam Firdaus. Penyidik sendiri telah menerima pengakuan yang bersangkutan bekerja sebagai wartawan Global TV.

"Kami perlu melihat secara fisik," kata Arya dalam sebuah konferensi pers di sebuah restoran di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, kemarin.

RUSMAN PARAQBUEQ | MARTHA RUTH THERTINA | PUTI NOVIYANDA | Z WURAGIL

Berita terkait:

 

  • Send
  • Print