Ilustrasi: TEMPO/Mahfoed Gembong



TEMPO Interaktif, Jakarta - Mayoritas pelajar di Jakarta dan sekitarnya ternyata cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral. Fenomena ini terungkap dari hasil survei yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang digelar Oktober-Januari 2011.

”Yang mencengangkan, sikap radikal dan tidak toleran itu tak hanya dimiliki para siswa, tapi juga guru agama,” kata Bambang Pranowo, Direktur Lembaga Kajian ini kepada <I>Tempo</I> di Jakarta, kemarin.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta ini mengaku tertarik meneliti “radikalisasi” di kalangan pelajar karena melihat banyaknya anak muda usia belasan tahun yang jadi pengebom bunuh diri. “Kami ingin tahu seperti apa persepsi dan sikap para remaja itu terhadap keberagaman.”

Survei dilakukan di 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri. Tak satu pun madrasah diambil jadi sampel. Hasilnya? Saat ditanya apakah mereka bersedia terlibat dalam aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral, sebanyak 48,9 persen siswa menyatakan bersedia. “Yang paling mengagetkan: belasan siswa menyetujui aksi ekstrem bom bunuh diri,” katanya.

Sebanyak 63,8 persen siswa dan 41,8 persen juga bersedia terlibat dalam penyegelan rumah ibadat penganut agama lain. Bambang pun mengungkapkan, para pelajar itu menganggap Pancasila sudah tidak relevan lagi menjadi dasar negara. “Mereka juga mengenal Abdullah Yusuf Azzam (pendiri Al Qaidah) dan Usamah bin Ladin,” ujarnya.

Bambang berpendapat, tumbuh suburnya sikap radikal di kalangan pelajar atau guru agama di sekolah umum karena pelajaran agama Islam di sekolah itu sering diajarkan secara eksklusif. “Hanya 2 jam satu minggu, itu pun tanpa melibatkan sisi kecintaan terhadap tanah air” ujarnya. “Porsi minim dan eksklusif membuat mereka mencari jawaban moral dari luar sekolah”

Bambang berharap, penelitian lembaganya yang juga sudah dirilis beberapa media itu bisa menjadi “sinyal bahaya' bagi kehidupan pluralisme bagi masa depan republik.

Terhadap kecenderungan ini, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal memastikan akan melakukan pengawasan berjenjang terhadap para siswa dan guru. Termasuk mengubah pola pengajaran agama di sekolah. “ Kami akan bekerjasama dengan pemerintah daerah, dan kementerian agama karena merekalah yang akan membina para guru agama” ujarnya.

KARTIKA C | MAHARDIKA | MARTHA RT| AMANDRA | WIDIARSI AGUSTINA

 

Berita Terkait:

Remaja dan Calon Mahasiswa Jadi Target NII

Pancasila Penting untuk Menangkal Radikalisasi

Komentar


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Calon negara penghasil teroris terbesar di dunia. Congrats!
0
0
Calon negara penghasil teroris terbesar di dunia. Congrats!
0
0
Ini promo boss, hati2 kalau infokan data, belum tentu valid tapi berpengaruh ...
0
0
Ini promo boss, hati2 kalau infokan data, belum tentu valid tapi berpengaruh ...
0
1
Tak heran fikiran radikal membenam di benak masyarakat. Polisi, jaksa, hakim, undang-undang yg diharapkan dapat menyelesaikan masalah yg ada di masyarakat, ternyata hanya utopia. Kalau sdh ditemukan mesin cuci otak melalui internet, baru kacau. Jangan anggap remeh penelitian ini.
Selanjutnya
Copyright © 2011
TEMPO
.CO