wordpress.com
Berita Terkait
Kampus Besar Siaga NII
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Pulau Jawa mulai memperketat pengawasan terhadap para mahasiswanya terkait aksi Negara Islam Indonesia (NII). Langkah itu diambil karena perguruan tinggi di Jawa disinyalir menjadi area perburuan para juru rekrut NII.
Sebelumnya Markas Besar Kepolisian RI menyatakan kampus di Pulau Jawa menjadi target garapan NII. Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengatakan, sasarannya adalah kalangan remaja yang baru masuk perguruan tinggi. "Modusnya, mencuci otak saat mahasiswa baru mengikuti orientasi kegiatan tertentu," katanya di Jakarta Senin lalu.
Sinyalemen kepolisian dibenarkan Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) Athian Ali Dai. Menurut Athian, di Bandung gerakan NII terpantau di Institut Teknologi Bandung, STT Telkom, hingga Universitas Pendidikan Indonesia--dulu IKIP Bandung.
Athian menyatakan belum ada angka pasti tentang jumlah mahasiswa di Bandung yang telah direkrut NII. Namun mengutip data 2001, kata Athian, 200 mahasiswa ITB dikeluarkan gara-gara kuliahnya tak tuntas akibat direkrut NII. Dan, "Selama 6 bulan terakhir paling aktif upaya rekrutmen dilaporkan di kampus ITB," ujarnya kemarin. "Masjid Salman ITB sudah mewaspadai hal itu."
Antisipasi juga dilakukan UPI. Direktur Pembinaan Kemahasiswaan UPI Cecep Darmawan mengatakan, pihaknya akan menggelar rapat khusus membahas soal ini pada Kamis. "Bersama dewan kemakmuran masjid," ujarnya kemarin.
Di Institut Pertanian Bogor, upaya menangkal gerakan NII dilakukan dengan mengasramakan mahasiswa tingkat I tanpa kecuali. Di asrama, mahasiswa itu akan dididik tentang idiologi agama yang benar. “Setelah keluar dari asrama dan tinggal di kost-kostan, mereka jadi tak akan mudah dipengaruhi,†kata Rektor Institut Pertanian Bogor Herry Suhardiyanto usai mengisi Stadium Generale di Monumen Simpang Lima Gumul Kabupaten Kediri, kemarin.
Di Surakarta, pengawasan aktivitas NII di kalangan mahasiswa akan melibatkan kepolisian. Kepala Kepolisian Resor Kota Surakarta, Ajun Komisaris Besar Listyo Sigit Prabowo menyatakan pihaknya pekan ini kami akan menemui rektor dan pimpinan perguruan tinggi untuk koordinasi.
Menurut Listyo, pihaknya juga akan menemui semua lurah di Kecamatan Jebres pada Kamis. Di kecamatan tersebut terdapat kampus terbesar di Surakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret dan Institut Seni Indonesia.
Di Jogja, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta, tengah menyiapkan tim Crisis Center untuk korban NII yang akan siap dibuka mulai pekan depan. “Kami harapkan dengan dibukanya Crisis Center, para korban melapor kepada universitas sehingga terdeteksi jumlahnya,†kata Rektor UIN Musya Asari kemarin. Dengan melapor kepada pihak universitas, maka lembaganya bisa melakukan pendampingan pada korban.
Musya juga tengah menggodok redesain kurikulum. DIa menyatakan kurikulum pendidikan di UIN akan dirancang berperspektif Indonesia. “Misalnya di Fakultas Ekonomi, tidak mungkin Indonesia yang menganut ekonomi kerakyatan jika fakultasnya mengadopsi pendidikan Barat yang kapitalis,†kata Musya.
Universitas Gadjah Mada menilai untuk memutus mata rantai penyebaran NII di kampus, orang tua perlu terlibat aktif. Menurut Direktur Kemahasiswaan Sentot Haryanto, bila orang tua mendapati anaknya yang masih kuliah semester awal telah meminta uang praktek kerja lapangan, orang tua itu harus curiga. “Ini karena korban NII dimintai uang untuk kegiatan mereka,†dia mengingatkan.
TIM TEMPO
Berita terkait: