TEMPO/Yuyun N
Berita Terkait
Pepi Fernando Pernah Direkrut NII
TEMPO Interaktif, Jakarta - Markas Besar Kepolisian RI menyatakan Pepi Fernando, otak bom buku, bom Puspiptek Serpong, hingga bom pipa gas Serpong, direkrut oleh kelompok radikal Negara Islam Indonesia (NII) sejak tahun kedua kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
"Tersangka direkrut 1998," kata juru bicara Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, di kantornya kemarin.
Tapi, ujar Boy, Pepi kemudian mendirikan kelompok sendiri. Kapan Pepi hengkang dari NII dan apa nama kelompoknya, ujar Boy, "Masih kami dalami."
Pengamat terorisme Dyno Chressbon menambahkan, Pepi semula bergabung dengan NII Komandemen Wilayah 9. Per 2003, ia pindah ke NII Banten, yang dipimpin Jaja, yang tewas tertembak di Aceh pada 2010.
Pepi juga aktif di kelompok Tawhed Wal Jihad pimpinan Oman Abdurrahman--kini dibui dalam perkara terorisme di Aceh. "Sejak tsunami Aceh pada 2004, Pepi bergabung dengan kelompok Abdullah Sunata, Oman, dan Jaja di pos relawan di Nagan Raya dan Meulaboh," kata Dyno kemarin.
Di Aceh pula Pepi dicokok pada 21 April. Ia ditangkap bersama calon pelaku bom bunuh diri Hendi Suhartono alias Zokaw (bukan Jokaw seperti diberitakan sebelumnya), dan Muhammad Fadil di Banda Aceh. Pada hari yang sama, 16 orang juga ditangkap di sekitar Ibu Kota, termasuk istri Pepi, Deni Carmelita, 32 tahun.
Bersamaan dengan penangkapan itu, polisi menemukan bom seberat 150 kilogram di samping pipa gas dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong. Polisi lantas menangkap kamerawan Imam Mochammad Firdaus dan dua lainnya.
Di antara 22 orang yang ditangkap, 17 jadi tersangka dan 5 dibebaskan. Pepi dan Zokaw menjadi tersangka utama. Istri Pepi juga jadi tersangka.
Boy menjelaskan, kelompok ini merencanakan aksinya selama setahun. Uji coba bom dilakukan pada Februari di rumah Pepi, Perumnas Harapan Indah, Bekasi. Menurut Boy, mereka mendanai sendiri operasinya dan belajar merakit bom secara otodidaktik. Di kelompok ini, empat orang bisa merangkai bom, antara lain Pepi dan Zokaw.
Ketua Badan Pengurus Kontras, Usman Hamid, menilai kekerasan dan teror bom lebih mencerminkan kisruh politik nasional ketimbang dipicu radikalisme kelompok Islam. Ia menyatakan informasi penanganan terorisme dari kepolisian selama ini tak bisa dipastikan kebenarannya. "Negara lemah dalam penanganan banyak masalah, lalu seperti diimbangi dengan penanganan kasus terorisme," ujarnya kemarin.
RUSMAN I JOBPIE
Berita terkait: