foto

TEMPO/Machfoed Gembong



Cegah Radikalisasi, Keluarga Kuncinya

TEMPO Interaktif, Jakarta - Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan menyatakan keluarga merupakan kunci penting dalam menangkal radikalisasi.

Menurut Anis, para orang tua yang harus dibekali materi untuk mencegah radikalisasi, bukan anak-anaknya. "Kalau programnya di sekolah, seperti ban kosong, cepat hilangnya," katanya dalam diskusi publik Indonesiana dengan topik “Mengupas Radikalisme di Sekitar Kita” di Auditorium Universitas Paramadina Jakarta, Rabu 4 Mei 2011.

Meski pendidikan di sekolah berperan penting, kata Anis, tetapi pendidikan dalam keluarga lebih efektif.  Dalam keluarga komunikasi yang terjadi lebih efektif, dan mampu melihat tanda-tanda perubahan pada individu.

Adapun di sekolah, wacana mengenai deradikalisasi sering kali sulit diterima oleh siswa. Mereka tak mampu menangkap teori-teori wacana yang ada dalam buku-buku teks.

Untuk itu, menurut Anis, orang tua perlu dibekali materi tentang pendidikan deradikalisasi kepada anak-anaknya. Ia khawatir jika orang tua tidak melakukan peran pentingnya dalam pendidikan tersebut, maka nantinya akan lahir generasi-generasi baru penerus teroris bom Bali Amrozy dan kelompoknya.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai, deradikalisasi tak cukup menggunakan khotbah. Sebab, kelompok radikal memiliki program, akses internasional, dan pendanaan terorganisasi. "Jangan hanya khotbah, tapi perlu pendekatan fisik," kata Ansyad dalam diskusi yang sama.

Selain penegakan hukum yang tegas, pendekatan lain adalah lewat jalur politik. Artinya, akan lebih baik jika kelompok radikal terlibat dalam partai politik. Mereka mendapatkan kebebasan memperjuangkan ideologinya lewat jalur demokratis. "Tidak ada salahnya mereka memperjuangkan ideologinya di Senayan, asalkan jangan mengancam pakai bom kalau kalah voting," kata Ansyaad.

Menurut Ansyad, kelompok radikal ini terbagi dua, yaitu teroris dan non teroris tapi punya jihad, ingin mendirikan negara Islam, dan membuat formal syariat Islam.

Semula, kelompok radikal teroris mengusung isu-isu internasional. Namun kemudian mereka sadar, isu itu tak mendapat perhatian masyarakat luas. Mereka lalu mengalihkan perhatian ke masalah-masalah lokal seperti yang diusung kelompok radikal non teroris.

Isu yang mereka usung, yakni kebencian terhadap agama lain, kebencian pada etnis lain, negara, ataupun negara lain. "Sekarang tidak jelas mana yang kelompok teroris mana yang bukan," kata Ansyaad.

Menurut Ansyaad, tidak ada faktor tunggal (single factor) penyebab radikalisme. Sebagian kalangan, menyebutkan penyebab munculnya radikalisme adalah kemiskinan. Namun, faktanya, sejumlah pelaku teror di Indonesia tidak berasal dari kalangan tak berpunya.

“Noordin M. Top dan Dr. Azahari bukan orang miskin. Pepi (tersangka bom buku dan bom Serpong) juga punya penghasilan besar,” ujar Ansyaad.  

Menurut Ansyaad, radikalisme ada di semua agama. Radikalisme pun tak semuanya memunculkan terorisme. Teori yang bisa menjelaskan akar terorisme pun banyak ditemui. Baik aspek ekonomi maupun politik. “Tapi, tidak ada single factor akar terorisme,” ujarnya.

AQIDA SWAMURTI| DIMAS

Berita Terkait:

Densus Menemukan Rangkaian Bom di Sungai Soka

Dubes Amerika: Waspadai Kelompok Kecil Teroris

Anis Baswedan: Jangan Hanya Menganalisis Teroris

  • Send
  • Print