REUTERS/Herwig Prammer
Berita Terkait
Tawuran yang Tak Kunjung Usai
TEMPO Interaktif, Jakarta - Jalan Kampung Rawa Selatan VI, Johar Baru, Jakarta Pusat itu tampak hampir sama dengan jalan-jalan lain di pemukiman padat di Jakarta. Jalan terbuat dari aspal, lebar sekitar 2 meter, dan dipenuhi rumah warga di sisi kanan dan kirinya.
Namun, jalan yang menjadi pembatas wilayah Kelurahan Johar Baru dan Kelurahan Kampung Rawa itu sering menjadi pusat perhatian. Itu lantaran di jalan yang populer dengan sebutan Jalan T --lantaran bentuknya seperti huruf T--, itu kerap terjadi tawuran antar warga sekitar.
Tawuran teranyar terjadi Rabu, 4 Mei 2011 malam. Warga saling serang dengan batu, mercon, bahkan panah. “Satu orang terpanah dari warga RT 01 RW 02,” ujar Camat Johar Baru Suyanto Budiroso, Kamis, 5 Mei 2011.
Penyebab tawuran, kata Suyanto, hanya karena saling ledek antar anak muda di RW 02 Kelurahan Johar Baru.
Tawuran itu menambah panjang daftar bentrokan antar warga yang terjadi di Kecamatan Johar Baru. Menurut Lurah Kampung Rawa Darmadi, sejak Januari hingga April tahun ini telah terjadi 23 kali tawuran di wilayah Johar Baru.
Kecamatan Johar Baru terdiri atas empat kelurahan, yaitu Kelurahan Tanah Tinggi, Kampung Rawa, Galur dan Johar Baru. Selain di Jalan T, tawuran juga kerap terjadi di Jalan Baladewa dan Jalan Tanah Tinggi XII, dekat Kantor Urusan Agama (KUA).
Tawuran di wilayah Johar Baru bukan baru terjadi akhir-akhir ini. Menurutu catatan Tempo, pada 20 Oktober 2001, Diah, seorang warga gang Intan RT08/03, Johar Baru, mengatakan tawuran antar warga ini sudah terjadi sejak tahun 1992.
Padahal, masalah pemicunya sepele, seperti saling ejek, salah paham, main sepak bola. Namun akibatnya fatal. Rumah-rumah warga rusak terkena lemparan batu dan terbakar, korban luka-luka berjatuhan, bahkan menimbulkan korban jiwa.
Berdasarkan catatan Tempo, setidaknya pada 19 Oktober 2001 tawuran warga yang terjadi di Jalan Galur Raya, Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat, mengakibatkan Efendi Sitorus, 28 tahun, warga sekitar, tewas. Selain itu, tawuran yang terjadi terus menerus sepanjang malam itu mengakibatkan seorang luka berat terkena senjata rakitan, serta tujuh kios dan empat rumah terbakar.
Meski korban telah berjatuhan, namun tawuran masih tetap terjadi hingga kini. Berbagai upaya dilakukan untuk menanggulanginya. Mulai dari pelatihan "Emotion and Spiritual Quotient" (ESQ), doa Istighosah, hingga deklarasi perdamaian. Tetapi, upaya itu tetap tidak bisa meredam aksi tawuran.
Upaya teranyar dilakukan pasca tawuran kemarin. Menurut Suyanto, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan berbagai pihak yang terlibat tawuran. Pertemuan di rumah seorang warga RT 01 tersebut dihadiri kepolisian dan beberapa tokoh masyarakat. Hasilnya, kepolisian dan camat meminta warga menggalakkan kembali gerakan Forum Peduli, yang pernah dibentuk Camat Johar Baru sebelumnya, Marsigit.
Selain itu, Pemerintah DKI Jakarta berencana memasang CCTV (Closed Circuit Television) di wilayah Johar Baru. Pemasangan kamera ini, kata Gubernur DKI Fauzi Bowo, guna mendeteksi kegiatan warga yang mengundang mara bahaya. Dengan demikian, setiap terjadi kegiatan yang tidak diinginkan dapat segera ditanggulangi.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta Effendi Anas, memastikan akan memasang tiga kamera di tiga lokasi rawan tawuran di Johar Baru pada pekan ini.
Jaringan kontrol tiga kamera ini, kata Anas, akan berada di Crisis Center Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Balai Kota. Di tempat ini, sudah ada 160 titik kontrol kamera yang menjangkau lima wilayah di Jakarta.
Saat ini pihaknya bekerja sama dengan tenaga ahli untuk menentukan tinggi tiang atau gedung mana yang bisa dipakai untuk dipasang kamera. Sebab, ruang pengawasan kamera juga dibutuhkan agar tidak terjangkau pelaku tawuran. "Kalau tiangnya pendek pemantauannya juga tidak maksimal," ujar Anas, Kamis, 5 Mei 2011.
Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah mengatakan, keberadaan kamera amat dibutuhkan di tiga titik rawan tawuran di Johar Baru untuk mengetahui akar persoalan. "Semoga kamera ini bisa membantu polisi mengungkap siapa dalang tawuran," ujarnya, Kamis, 5 Mei 2011.
HERU TRIYONO| LIS YULIAWATI
Berita Terkait:
Polisi Tak Bisa Sendirian Tangani Tawuran di Johar Baru