ANTARA/Andika Wahyu
Berita Terkait
Puluhan Buron Masih Berkeliaran
TEMPO.CO, Jakarta - Satu per satu buron yang tersangkut kasus besar di Indonesia berhasil dibekuk. Namun, masih banyak buron lain yang bebas berkeliaran.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan kepolisian mengejar buron pemerintah yang sedang tersangkut kasus besar di Indonesia. "Saya instruksikan kepada Kapolri untuk mencari buron lain yang seolah tidak ditemukan. Saya instruksikan untuk menemukan semua itu demi tegaknya hukum," katanya dalam pembukaan sidang kabinet di Kantor Presiden, Kamis 11 Agustus 2011.
Hal itu diungkapkan Presiden setelah Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap proyek wisma atlet SEA Games, ditangkap. Nazaruddin dibekuk setelah buron sekitar 75 hari. Sejak meninggalkan Indonesia pada 23 Mei 2011 lalu, pria 33 tahun itu diduga melanglang buana ke Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja hingga berakhir di Kolombia.
Nazaruddin melenggang ke sejumlah negara dengan menggunakan paspor sepupunya M. Syarifuddin. Jejak Nazar mulai terdeteksi saat pesawat carteran yang disewanya dari Kamboja transit di Dominika, sebuah negara di Kepulauan Karibia. Sejak saat itu, Nazar dibuntuti oleh Interpol dan akhirnya diciduk di Cartagena, Kolombia, Ahad, 7 Agustus 2011.
Saat ini tim dari Kepolisian RI, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM serta KPK, tengah berupaya memulangkan bekas Bendahara Umum Partai Demokrat itu ke Indonesia.
Yudhoyono memberikan apresiasi yang tinggi kepada semua instansi yang terlibat dalam proses pemulangan Nazaruddin. "Saya ucapkan terima kasih jajaran Kepolisian, KPK, BIN, Kemenlu yang telah menjalin kerja sama internasional dengan baik," katanya.
Selain Nazaruddin, buron lainnya yaitu Umar Patek juga berhasil dibekuk. Umar Patek alias Abdul Ghoni alias Abu Syeikh alias Umar Arab menjadi buron internasional setelah serangkaian aksi terornya di sejumlah negara. Di Indonesia, Patek dituding terlibat dalam kasus Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang.
Patek disebut-sebut memiliki keahlian merakit bom dan menembak dengan jitu. Tak heran, pria asal Pemalang, Jawa Tengah, ini menjadi salah satu buron teroris berbahaya yang paling dicari. Bahkan, pemerintah Amerika Serikat menghargai kepalanya sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp8,7 miliar.
Pelarian Patek berakhir di Pakistan. Dia ditangkap oleh aparat keamanan setempat pada Maret 2011. Namun, lantaran harus menjalani sejumlah pemeriksaan di Pakistan dan kondisi kesehatannya pasca penangkapan, dia baru dibawa ke Tanah Air, Kamis, 11 Agustus 2011 ini. “Sekarang dia baik-baik saja,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai kepada Tempo, Kamis, 11 Agustus 2011.
Meski dua buron telah ditangkap, sejumlah nama yang terlibat berbagai kasus di negeri ini masih berkeliaran. Berdasarkan penelusuran Tempo dari situs www.interpol.int per hari Senin 8 Agustus 2011, ada sekitar 58 orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang tercatat sebagai buron Interpol.
Mereka diduga terlibat dalam berbagai kasus pidana, mulai dari korupsi, pencucian uang, penyelundupan manusia, penyalahgunaan senjata api, narkoba, hingga terorisme.
Dari sejumlah WNI yang berstatus buron itu, ada satu nama yang belakangan ini menyita perhatian publik dan pemberitaan media massa, yaitu Nunun Nurbaetie Daradjatun.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Nunun sebagai tersangka kasus cek pelawat dalam pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, pada Februari lalu. Perempuan berusia 60 tahun itu diduga berperan menyebarkan puluhan lembar cek pelawat bernilai Rp 24 miliar kepada anggota DPR periode 1999-2004 dalam pemilihan yang dimenangi Miranda S. Goeltom itu.
KPK mencekal Nunun ke luar negeri pada 24 Maret 2010. Namun, sebelum dicekal, istri anggota Komisi Hukum DPR Adang Daradjatun ini diperkirakan sudah pergi ke luar negeri. Ia dikabarkan tengah berobat di Singapura, dan diduga menderita sakit lupa akut.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengatakan, sudah ada tim khusus yang mengejar Nunun Nurbaeti. Menurut dia, lebih sulit mengejar Nunun daripada Nazaruddin. "Susah mengejar Nunun karena dia diam. Berbeda dengan Nazar yang nongol terus," kata Patrialis kepada wartawan di kantornya, Rabu 10 Agustus 2011.
Dalam pelariannya, Nazaruddin sempat melakukan sejumlah kontak dengan media massa melalui pesan Black Berry Messenger. Bahkan, muncul dalam telewicara melalui layanan Skype. "Semakin banyak mereka gunakan alat telekomunikasi semakin mudah dilacak," ujar Mas Achmad Santosa, anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum, kepada wartawan, Rabu 10 Agustus 2011.
EKO ARI WIBOWO| RINA WIDIASTUTI| MAHARDIKA SATRIA HADI| ATMI PERTIWI
Berita Terkait:
Nazaruddin Terdeteksi dari Skype
Prosedur Penangkapan Nazar Bisa Diterapkan untuk Nunun
Nunun dan Anggoro juga ''Paling Dicari''