REUTERS/Lee Jae-Won
Berita Terkait
Awas Krisis Ekonomi pada 2013
TEMPO.CO, Jakarta- Kegagalan Eropa menyelesaikan krisis utang dan masalah pengangguran di Amerika Serikat sungguh berimbas di Asia. Kini ekspor negara-negara Asia ke dua kawasan ekonomi dunia itu melemah. Sementara itu ekspansi dari produk Cina ke Singapura, telah membuat Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, dan Filipina menghindari menaikkan suku bunga.
Hampir semua dari 11 mata uang Asia diperdagangkan jatuh terhadap dolar dalam sebulan terakhir. Adapun indek saham regional MSCI Asia-Pacific telah kehilangan sekitar 14 persen tahun ini. Pada 2012, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Asia, tidak termasuk Jepang, berada pada angka 7,5 persen, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 7,7 persen. Inflasi diperkirakan pada 4,6 persen.
Secara fundamental, ekonomi Indonesia memang masih kuat. Pada kuartal kedua tahun ini, ekonomi tumbuh 6,5 persen. Inflasi sesuai dengan target maksimal 5 persen plus-minus 1 persen. Cadangan devisa Indonesia juga cukup besar, yaitu lebih dari US$ 120 miliar. Faktor lainnya yang patut diacungi jempol adalah rasio utang Indonesia yang cenderung turun. Tapi bukan berarti Indonesia lengah?
Bekas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu menyatakan krisis ekonomi global diperkirakan akan menghampiri Indonesia pada 2013. " Indonesia sulit terhindar dari krisis karena kali ini lebih berat dibanding krisis global yang mendera tiga tahun silam," katanya kepada Tempo 13 September 2011.
Menurut Anggito pada 2008, krisis bisa ditangani dengan stimulus fiskal melalui utang luar negeri. Adapun saat ini negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat sulit berutang karena defisit anggaran lebih besar dibanding produk domestik bruto. Selain itu, pada 2008 negara-negara yang tergabung dalam G-20 memotong suku bunga mereka. "Namun kondisi saat ini berbeda, tidak banyak instrumen untuk menanggulangi krisis," kata Anggito.
Lalu apa yang harus dilakukan Indonesia agar tahan krisis? Anggito menyarankan pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan masuk bursa, melakukan stabilisasi surat utang negara, dan membuat kebijakan untuk menahan dana asing lebih lama.
Ia juga menilai kebijakan Bank Indonesia mengenai lalu lintas devisa hasil ekspor dan utang luar negeri sudah tepat untuk menahan arus dana asing tetap di Indonesia. Beleid yang akan dirilis akhir September itu mewajibkan devisa hasil ekspor masuk ke lembaga keuangan nasional.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat mulai tahun depan. Proyeksi yang dilakukan sejumlah lembaga internasional menunjukkan hal serupa. Penurunan ini berdampak pada perdagangan internasional, yang berpengaruh juga terhadap permintaan ekspor Indonesia. Akibatnya, penurunan kinerja ekspor dan koreksi harga komoditas akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi.
Peneliti Utama Direktorat Pengaturan dan Penelitian Perbankan Bank Indonesia, Suhaedi, mengatakan prospek perekonomian global lebih lambat daripada perkiraan semula. Akibatnya akan berdampak pada prospek perekonomian Indonesia, terutama pada 2012 dan tahun-tahun selanjutnya.
Tahun ini pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan 4,2 persen, lebih rendah daripada target semula 4,3 persen. Sementara itu, pada 2012 perekonomian dunia tumbuh 4 persen, turun dibanding target sebelumnya 4,5 persen.
Meski demikian, Suhaedi menegaskan, potensi gagal bayar yang terjadi di Eropa dan Amerika tidak akan berdampak pada perbankan. "Penempatan dana perbankan kita di sana masih terbatas," katanya dalam diskusi di Jakarta kemarin.
Untuk mengantisipasi krisis, Bank Indonesia membentuk jaringan pengaman sistem keuangan yang dilegitimasi undang-undang dan protokol manajemen krisis, serta memperkuat kerja sama ASEAN +3 (Cina, Jepang, dan Korea Selatan). Selain itu, menurut Suhaedi, memperbaiki tata kelola pemerintahan dan mendorong peran intermediasi perbankan.
Peneliti Senior Centre for Strategic and International Studies, Haryo Aswicahyono, mengatakan pemerintah harus memonitor pasar saham yang makin berisiko terhadap krisis global, memonitor kebijakan Amerika dan Eropa, serta Cina.
l AKBAR TRI KURNIAWAN | FEBRIANA FIRDAUS | DEWI RINA