foto

Fauzi Bowo. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo



Setelah Foke Minta Maaf

TEMPO.CO, Jakarta - Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta merazia 80 angkutan umum kota (angkot) yang menggunakan kaca film hitam. Mayoritas yang terjaring adalah angkot jurusan Kotabumi-Kalideres dan Serpong-Kalideres.
 
"Untuk saat ini kami hanya memberikan peringatan. Mereka tidak langsung kami tilang," kata Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta Riza Hashim di Terminal Kalideres Jakarta Barat, Senin, 19 September 2011.

Jika setelah tujuh hari masih ditemukan angkot yang menggunakan kaca film, petugas akan langsung menilang. Kalau masih membandel, petugas akan langsung menggudangkannya.

Razia kaca film ini dilakukan sebagai salah satu upaya Pemerintah DKI menekan angka kriminalitas di dalam angkutan ibu kota menyusul kasus pemerkosaan terhadap penumpang angkutan kota Jakarta minggu lalu.

Sebelumnya Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan untuk menekan angka kriminalitas di angkutan kota, pihaknya akan memperketat pengawasan terhadap angkutan umum. Pengelola angkutan umum, kata dia, harus memenuhi tiga syarat, yaitu sarana yang memadai, prasarana, dan manajemen sumber daya manusia.

Menurut dia, sarana yang memadai bisa meniru Kopaja yang dilengkapi dengan AC dan pintu otomatis, sehingga penumpang tidak bisa keluar masuk sembarangan, serta orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

Prasarana yang memadai bisa dilakukan dengan menyediakan pangkalan yang terdapat ruang kesehatan untuk sopir dan ruang pemeriksaan administrasi yang dilengkapi bengkel. "Jadi sopirnya sendiri diperiksa kesehatannya, identitasnya, juga termasuk perilakunya. Kendaraannya diperiksa juga kelaikannya," katanya.

Perbaikan manajemen sumber daya, kata dia, bisa dilakukan dengan mengadakan pelatihan dan pembinaan untuk mencegah kriminalitas serta sistem gaji bukan berdasarkan setoran. "Kalau ketiga hal tersebut dilaksanakan dengan baik oleh operator angkutan umum, mudah-mudahan tidak mengalami kecelakaan ataupun ada tindakan kriminalitas," katanya.

Memang peristiwa pemerkosaan itu telah menyisakan pekerjaan rumah yang besar terhadap pemerintah DKI Jakarta. Pemerintah DKI sendiri sebelumnya telah dikecam karena Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo terkesan menyalahkan perempuan yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

"Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga," kata Foke sembari bercanda saat itu, Jumat September 2011. "Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang."

Tak ayal puluhan perempuan yang sebagian besar mengenakan rok mini berunjuk rasa di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Ahad, 18 September 2011. Mereka menolak dan mengecam pemerkosaan serta tindakan menyalahkan perempuan yang selama ini biasanya menjadi korban pemerkosaan.

"Kami menolak pernyataan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa rok mini menjadi salah satu pemicu pemerkosaan," kata Tunggal Pawestri, salah seorang aktivis Perempuan Menolak Pemerkosaan, di Bundaran HI.

Fauzi Bowo pun buru-buru minta maaf atas pernyataannya itu. "Saya minta maaf bahwa pernyataan saya sebelumnya rawan salah tafsir. Saya sama sekali tidak bermaksud melecehkan kaum perempuan," kata Fauzi kemarin. "Saya justru mengutuk aksi pemerkosaan tersebut dan minta pelakunya dihukum seberat-beratnya."

Tidak hanya permintaan maaf, Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Neng Dara Affiah, meminta Fauzi Bowo memberi jaminan keamanan, khususnya terhadap perempuan, bahwa alat transportasi publik bebas dari kekerasan seksual.

ARYANI KRISTANTI | MUNAWWAROH | AMANDRA MUSTIKA MEGARANI | ADITYA BUDIMAN



Berita terkait:

DPRD Minta DKI Benahi Tata Kelola Angkot
Pemerkosaan Marak, Penjualan Alat Kejut Listrik Meningkat
Isu Rok Mini dan Perkosaan Bikin Risi Koperasi Sopir Angkot

  • Send
  • Print