foto

Badan pesawat Cassa 212-200 milik PT. Nusantara Buana Air (NBA) yang jatuh berada di antara rimbunan pepohonan di kawasan Bahorok Kab Langkat, Sumut, Jumat (30/9). Foto: Basarnas



Turbulensi Diduga Empaskan Casa

TEMPO.CO, Medan - Jatuhnya pesawat Casa 212-200 milik Nusantara Buana Air diduga akibat turbulensi udara. Kemungkinan ini disampaikan oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi setelah menerima laporan dari regu penolong yang turun ke lokasi jatuhnya pesawat. "Embusan angin sangat kuat," kata Freddy saat memberikan keterangan pers di hanggar Pangkalan Udara Medan kemarin.

Menurut Freddy, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebenarnya sudah memberi peringatan tentang cuaca buruk sejak pekan lalu. Salah satu peringatan itu adalah kecepatan angin di kawasan Gunung Leuser yang bisa mencapai 30 kilometer per jam. "Embusan sekencang itu bisa menyebabkan turbulensi dan membuat pesawat Casa kehilangan kendali," katanya. Namun, untuk memastikan dugaan itu, dia masih menunggu hasil penelitian Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Freddy mengatakan, kemarin seluruh korban Casa yang mengangkut 14 penumpang dan empat awak itu sudah ditemukan. Hanya, proses evakuasi ditunda karena cuaca buruk. "Dipastikan seluruh penumpang dan kru serta pilot dan pembantu pilot tewas," katanya.

Kepala Badan Search and Rescue Nasional Marsekal Madya TNI Daryatmo mengatakan korban saat ditemukan masih dalam posisi duduk di kursi masing-masing. Regu penolong harus memotong beberapa bagian pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia itu untuk mengeluarkan jasad mereka. "Hidung pesawat hancur, dan sayap patah," katanya. "Pesawat berada di tebing curam sehingga menyulitkan evakuasi."

Menurut Daryatmo, kemarin sudah 14 jasad dimasukkan ke kantong jenazah. Sedangkan empat lainnya masih terjepit badan pesawat. "Andai cuaca cerah, evakuasi dapat dilakukan pada Minggu," ujarnya.

Cuaca buruk di kawasan Gunung Leuser dibenarkan oleh Kepala Sub-Bidang Informasi Meteorologi Penerbangan BMKG Rekso Hartono. "Saya tidak pegang data, tapi sangat mungkin kecepatannya mencapai 30 km per jam di ketinggian 3.000 meter," katanya.

Menurut seorang petugas piket BMKG, pada saat Casa 212-200 itu jatuh, kawasan Langkat memang berawan tebal sepanjang hari. Kecepatan angin berkisar 5-28 kilometer per jam. Kondisi diperparah oleh topografi Sumatera Utara yang merupakan wilayah perputaran angin. "Pergerakan udara itu bisa mempengaruhi penerbangan," ujarnya.

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo menilai Tim SAR bergerak lambat menolong korban. Saat Casa ditemukan pertama kali, seharusnya ada regu penolong yang diturunkan. "Mestinya ada dua atau tiga orang yang langsung turun," katanya.

Dudi juga menyorot ketidaksiapan regu penolong dalam proses evakuasi. Ketidaksiapan itu terlihat dari permintaan tambahan peralatan untuk membuka bangkai pesawat.

Pesawat nahas itu hilang Kamis lalu setelah lepas landas pukul 07.00 dari Bandar Udara Polonia, Medan. Mestinya pesawat tiba di Bandar Udara Alas Leuser, Kutacane, Aceh Tenggara, pukul 08.03.

SAHAT SIMATUPANG | CORNILA DESYANA | RIKY FERDIANTO | SUSENO



Berita terkait:

Menteri Numberi Evaluasi Jalur Pesawat Medan-Aceh

Ini Penyebab Casa Jatuh Versi Menteri Perhubungan
Ahad Korban Casa 212-200 Dievakuasi Lagi

  • Send
  • Print