Para anggota komisi saat melakukan penghitungan suara dalam pemilihan dan penetapan calon pimpinan KPK di Komisi III, Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (2/12). Empat calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2011-2015 yang terpilih Abraham Samad (55 suara) sebagai Ketua KPK, Bambang Widjojanto (55 suara), Adnan Pandu Praja (51 suara), dan Zulkarnain (37 suara). TEMPO/Imam Sukamto
Berita Terkait
Intrik Politik di Balik Pemilihan Bos KPK
TEMPO.CO, Jakarta -Kepastian Abraham Samad menduduki kursi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2011-2015 ternyata sudah diketahui sehari sebelum pemilihan pada Jumat pekan lalu.
Sumber Tempo yang dekat dengan Komisi Hukum DPR mengatakan Kamis malam pekan lalu telah digelar dua pertemuan rahasia yang dihadiri perwakilan enam fraksi di Komisi Hukum. Mereka berasal dari Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Gerindra, dan Partai Hanura. Mereka ini pemilik 33 suara di Komisi Hukum.
Pertemuan khusus ini berlangsung di sebuah restoran di kawasan Sudirman Business District Center (SCBD) Jakarta Pusat dan Tee Box Kafe Kemang, Jakarta Selatan. Menurut sumber tadi, dalam pertemuan ini Abraham Samad hadir dan mendengarkan langsung komitmen enam fraksi untuk mengantarkan dia jadi Ketua KPK. ”Jadi, sehari sebelum pemilihan sudah diketahui siapa yang akan terpilih jadi ketua,” katanya.
Dalam pertemuan di SCBD, para perwakilan fraksi sudah menghitung berapa suara yang akan diperoleh masing-masing calon yang mereka jagokan. “Rapat berikutnya di Tee Box memantapkan kalkusi setelah ada bocoran rapat di Sekretariat Gabungan,” kata sumber itu.
Kepada Tempo, Sudding mengaku tidak tahu soal pertemuan di SCBD itu. Anggota Komisi Hukum dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo juga mengaku tidak tahu soal pertemuan itu. Sedangkan Samad sendiri mengaku sejak Rabu pekan lalu sakit. “Jadi, hanya di rumah saja,” kata dia. Ia mengatakan tak pernah melakukan lobi-lobi ke anggota Komisi Hukum supaya menjadi pemimpin atau bahkan Ketua KPK.
Sebaliknya, tersingkirnya dua kandidat yang dijagokan Partai Demokrat menduduki kursi pimpinan KPK juga sudah diketahui sehari sebelum pemilihan. Komunikasi intensif sejumlah politikus di Komisi Hukum DPR berhasil menjegal langkah mantan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Yunus Husein dan Aryanto Sutadi.
Sumber Tempo mengatakan para politikus dari sejumlah fraksi di DPR yang kerap dipanggil Tim Mawar melakukan "gerakan khusus" untuk menolak dua kandidat yang dijagokan partai yang didirikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini. Menurut dia, para anggota tim mawar itu yang melakukan gerilya politik untuk menjegal Yunus dan Aryanto. “Sehari sebelum pemilihan, Tim Mawar sudah mematikan dua nama itu tidak akan masuk,” kata sumber Tempo.
Siapa saja anggota Tim Mawar ini? Majalah Tempo pernah menurunkan liputan sepak terjang mereka dalam pemilihan pimpinan KPK periode 2007-2011. Mereka adalah Ahmad Yani (PPP), Bambang Soesatyo (Golkar), Trimedya Panjaitan (PDI Perjuangan), Syarifuddin Suding (Hanura) dan Desmon Mahesa (Gerindra).
SETRI YASRA I ANTON APRIANTO
Berita terkait :
Mengapa PDIP Emoh Pilih Busyro Lagi?
Gerilya Tim Mawar, Singkirkan Jagoan Demokrat