dailymail.co.uk
Berita Terkait
Karena Surga di Telapak Kaki Ibu
TEMPO.CO, Jakarta - Selamat Hari Ibu. Selamat merayakan harimu, kaum perempuan. Bertubi-tubi, ucapan kasih sayang dan syukur mengalir di dunia jejaring sosial Facebook dan Twitter. Rupanya orang tak melupakan pepatah, “Surga di telapak kaki ibu.”
Perayaan Hari Ibu di Indonesia bermula pada 1928, sejumlah organisasi perempuan berkumpul dan melakukan Kongres Perempuan. Kongres yang dihadiri seribuan orang itu mendeklarasikan perjuangan melawan kolonialisme, memikirkan konsep negara bangsa, dan merupakan titik tolak Era Kebangkitan Nasional.
Kongres Perempuan ini terinspirasi perjuangan para pejuang perempuan seperti Cut Nyak Dien, R.A Kartini, Dewi Sartika, Christina M. Tiahahu, dan lain-lain. Presiden Soekarno, melalui Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1953, lalu menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Sejak itulah perayaan nasional itu berlanjut hingga kini.
Peran penting inilah yang sering dilupakan oleh sejarah bangsa dan generasi berikutnya.
Perayaan Hari Ibu kini terjebak di ranah domestik, hanya memandang peran seorang ibu dalam keluarga, bukan perannya sebagai perempuan di keluarga, di karir, dan bangsa. Seperti halnya ketika pertama kali tercetus pada 22 Desember 1928.
Neng Dara Affiah, Komisioner Komnas Perempuan Bidang Pendidikan, berpendapat pada masa kini penghargaan terhadap kaum ibu berarti membebaskan perempuan dari berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan seksual. Realitanya, kata Dara, para istri dan ibu belum terbebaskan dari kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga.
"Peringatan Hari Ibu saat ini cenderung melupakan makna sejarahnya," kata Neng Dara Affiah. negara bangsa," katanya.
NIEKE INDRIETTA | ISMA SAVITRI
Berita Terkait:
Makna Hari Ibu Telah Bergeser
Hari Ibu, Stop KDRT
Sepuluh Kado Pilihan di Hari Ibu
Riuh Hari Ibu di Linimasa
SBY-Boediono Hadiri Puncak Peringatan Hari Ibu